Ihsan Abdul Quddus; Ambisi Yang Gagal

Oleh 22.34.00 0 Comments


RESENSI, PANRITAKITTA' -
Novel ini dua hari kubaca dengan hati-hati. Berusaha kupahami keinginan penulis lewat cerita yang ditulisnya. Kusimpulkan bahwa dalam kehidupan sosial masyarakat Mesir pada saat itu memiliki kemapanan konsep patriarki yang tak bisa diubah. 

Penulis berusaha menaruh perhatiannya yang sangat besar untuk menggonggongi konsep patriarki ini dengan dalih kesetaraan gender.

Seperti tokoh perempuan bernama Suad dalam novel tersebut. Suad punya ambisi besar untuk bisa setara dan bisa memimpin kaum Adam. Tapi toh keinginan ini tak bisa ia raih. Bahkan Suad tak takut akan dilecehkan di ruang publik dan domestik meski dikuasai oleh kaum Adam.

"Aku percaya bahwa setiap laki-laki tidak bisa mendapatkan sesuatu dari perempuan melebihi batas-batas yang ditentukan oleh perempuan itu. Sebatas perempuan membuka dirinya, hanya sebatas itu pula seorang laki-laki mendapatkannya." (h. 12)

Artinya, penulis mengajak perempuan untuk bisa survival melawan penindasan terhadap dirinya. Walau kita tak bisa dibendung akan hasrat yang menumpuk di otak kaum hidung belang hingga mengekploitasi libido seksualnya lewat cara pemerkosaan.

Seperti kasus yang terjadi baru-baru ini, yakni seorang guru di boarding school yang menyetubuhi 13 santrinya sendiri.

Karena penulis yang orientasi pendidikannya hukum, kemungkinan besar melihat di Mesir pada saat itu ada kemunduran akan human relationship—antara laki-laki dengan perempuan.

Dan memang pada saat itu, ada perlakuan kepada perempuan yang hanya dijadikan sebagai simbol pengorbanan dalam masyarakat Mesir. Hal ini terjadi karena pandangan kita terhadap perempuan hanyalah objek seksualitas semata.

***

Pada novel ini, Suad ingin keluar dari dominasi laki-laki dengan cara fokus pada pendidikannya dan menyibukkan dirinya sebagai aktivis dengan ikut berbagai organisasi. Suad yang merupakan tokoh utama dalam novel ini, memiliki paras yang cantik, pintar, rajin, dan aktif.

Karena itu, banyak yang ingin melamarnya. Tetapi ia menolak karena ingin mencapai tujuan utamanya yakni bisa jadi doktor dan laku menjadi dosen.

Tapi tak disangka, ia harus jatuh hati sebelum mencapai misinya. Ia terpukau dengan Abdul Hamid. Padahal sebelumnya sudah mengucapkan sumpah serapah.

"Bagiku laki-laki hanyalah sepenggal kisah tentang perasaan yang kubaca sebagai hiburan." (h. 13)

Akan tetapi, Suad harus jatuh cinta sebelum lulus magisternya. Yang berakhir pada pelaminan, yang kelak memiliki buah hati bernama Faizah.

Hamid, tipikal suami yang membebaskan istrinya. Dia pun kemudian memberikan izin Suad untuk melanjutkan studinya hingga mencapai doktor. Anaknya pun terbengkalai. Kini ibu Suad yang mengurusi Faizah.

Suad yang sibuk, membuat dirinya sadar bahwa ia harus mengambil keputusan untuk berpisah dengan suaminya. Suad pun menyeraikan Hamid. Tapi tak lama, Hamid menikah dengan Samirah.

Suad menjanda, ia pun mencapai misinya meraih gelar doktoral. Ia lalu menjadi ketua Organisasi Wanita Karier. Itu berkat dorongan Adil yang merupakan lelaki yang sudah sejak lama menaruh hati kepada Suad.

Suad paham dengan identitasnya sehingga ia tak mau dekat-dekat dengan Adil. Tapi semakin ia jaga identitasnya, maka semakin ia tak bisa menjaganya. Karena saat itu ia pernah berjalan berdua. Tak disangka mereka harus melakukan hubungan intim.

Usai hal itu, Suad berjanji tak akan menemui Adil lagi dan menjauhinya.

Saat menjauh, ada lelaki baru yang mendekat tanpa disengaja. Ia bertemu teman lamanya namanya Rifat Abbasy. Ia bertemu saat mengajak ibunya berobat.

Ternyata Rifat adalah teman semasa kecilnya yang juga lelaki bercerai dengan istrinya. Rifat memiliki kesamaan dengan Suad. Rifat juga fokus pada kariernya di bidang kesehatan.

Menurut Suad, Rifat cocok menjadi suaminya. Karena akan sama-sama mengejar mimpinya sehingga tidak terlalu peduli dengan rumah tangganya. Dan memang terjadi, ia hanya bertemu saat gabut saling merindu yang berakhir dengan senggama.

Tapi karena hal ini, Suad semakin melupakan anaknya dan keluarganya. Jiwa femininitas sebagai seorang perempuan ia lupakan. Yang seharusnya merawat dan mendidiknya namun tidak ia penuhi.

Ia baru sadar ketika mencapai puncak kariernya (saat ia jadi anggota DPR) dan juga saat anaknya harus menikah dengan seorang pria pilihannya sendiri, dengan restu ayahnya, dan ibu tirinya. Sementara ia tak memiliki peran penting dalam keputusan tersebut.

Dan puncaknya ketika ingin mempertahankan karier politiknya. Tapi basis-basis aktivitas mulai kehilangan wibawanya. Usianya juga sudah menuai sementara ia juga masih ingin mempertahankan rumah tangganya yang tak mau gagal lagi.

Makanya, di akhir ia kemudian mengungkapkan bahwa, "Aku tidak menginginkan lebih dari semua itu. Aku telah terbiasa untuk lupa bahwa aku perempuan…." (Hmh. 219)

***

Judul : Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan | Penulis : Ihsan Abdul Quddus | Penerbit : Pustaka Alfabet | ISBN : 978-602-9193-16-9

Ahmad Abdul Basyir, Pegiat Komunitas Novel Takalar

Makassar Buku

Komunitas Literasi

Makassar Book Reviu adalah komunitas literasi di Makassar, menghimpun mereka yang menyukai buku dan tergerak untuk membagi hasil bacaannya kepada orang lain.

0 Comments:

Posting Komentar