Calabai: Menguak Misteri Dunia Antara

Oleh 10.00.00 1 komentar
RESENSI, PANRITA KITTA' - Baso merasa bahagia dengan kelahiran anak ketiganya. Dia bahagia karena anaknya berkelamin laki-laki, seperti yang diharapkanya selama ini. Dua anak sebelumnya, perempuan. Namun di saat yang sama, Baso juga bersedih, mengingat keadaan ekonomi keluarganya yang sedang kurang baik akibat gagal panen.

Kebahagiaan Baso tak berumur panjang, kelahiran putranya yang diberi nama Saidi, malah kesedihannya yang berlangsung lama, meski dengan alasan yang berbeda. Baso sedih berkepanjangan oleh kelakuan putranya yang tak mampu menunjukkan karakter ‘lelaki tulen’. Saidi lebih menunjukkan sisi keperempuanan dalam tubuh laki-lakinya.

Tersebab nilai budaya dan pengetahuan yang masih sempit, serta dogma agama yang serba hitam dan putih, sehingga masyarakat selalu memandang lelaki yang berkelakuan ibarat perempuan –dikenal dengan istilah calabai– seperti Saidi, sebagai sebuah kutukan yang bisa membawa penyakit dalam masyarakat.

Terlahirnya Saidi sebagai seorang calabai seperti hukum karma yang berlaku untuk ayahnya. Karena dulunya, Baso pernah terlibat dalam pasukan gorilla (gerilya), sebutan bagi pasukan DI/TII Slawesi Selatan, yang dipimpin oleh Kahar Muzakkar. Mereka –menurut novel ini, sangat ingin mendirikan Negara Islam Indonesia.

Sewaktu aktif dalam pasukan gorilla tersebut, pernah menyerang komunitas bissu di Segeri. Bahkan sebelum meregang nyawa dalam rumah yang terbakar, seorang bissu yang bernama Puang Sessang, mengeluarkan kata-kata yang selalu mengganggu pikirannya: Bahwa dia (Puang Sessang) akan kembali kepadanya (Baso).

Saidi yang tak tahan mendapatkan perlakuan ayahnya yang menginginkan dan menggemblengnya menjadi lelaki tulen, ditambah dengan lingkungan sekitarnya yang sering mencerca ke-calabaian-nya, Saidi memutuskan untuk merantau. Saat itu, usianya menginjak tujuhbelas tahun.
*     *     *
Calabai, bencong, banci, atau waria adalah istilah yang digunakan untuk menamai seseorang yang secara fisik adalah laki-laki tetapi dari sisi psikis atau kejiwaannya adalah perempuan. Yang menarik, novel ini mampu mengurai perbedaan antara calabai secara umum dan calabai yang masuk ke dalam komunitas bissu.

Pepi Al-Bayqunie melalui novel ini memaparkan kepada pembaca bahwa ada tiga tingkatan calabai. Pertama disebut calabai tungke’na lino, adalah laki-laki yang sejak kecil bersifat seperti perempuan, tapi tidak genit; kedua disebut pacalabai yakni calabai yang genit; dan ketiga disebut calabai kedo-kedo, yakni lelaki tulen yang meniru-niru sifat perempuan.

Dari ketiga tingkatan calabai ini, calabai tungke’na lino merupakan kategori calabai yang dapat menjadi bissu dalam waktu singkat. Memang kategori pacalabai dapat menjadi bissu pula tetapi membtuhkan proses yang begitu lama. Sementara untuk calabai kedo-kedo, sangat susah untuk menjadi bissu.

Dengan gamblang Pepi menjelaskan bahwa seorang calabai yang hendak menjadi bissu, harus melalui beberapa proses dan tahapan, yang tidak semua calabai dapat melaluinya. Bahkan mereka yang telah berhasil menjadi bissu, dapat kehilangan status kebissuannya jika melakukan pelanggaran, terutama yang berhubungan dengan nafsu materi dan nafsu berahi. Seperti yang pernah dialami seorang calabai yang dikisahkan dalam novel ini.

Penjelasan ini mementahkan pandangan yang mendeskreditkan dan menyudutkan komunitas bissu sebagai komunitas gay atau disederajatkan dengan kaum Luth. Syarat utama masuk dalam komunitas ini adalah mampu melewati godaan untuk memperturutkan nafsu berahinya, termasuk tarikan untuk berhubungan dengan sesama jenis.
*     *     *
Bagi orang Bugis, dunia ini terbagi menjadi tiga tingkatan: Dunia Atas atau Botting Langik, Dunia Tengah atau Ale Kawa, dan Dunia Bawah atau Peretiwi. Penguasa Dunia Atas dan penguasa Dunia Bawah bersepakat untuk mengisi Dunia Tengah yang masih tak berpenghuni.

Penguasa Dunia Atas, Datu Patoto dan Datu Palinge, mengutus putra mereka, Batara Guru sebagai tomanurung di tanah Luwu. Demikian pula dengan bissu diturunkan untuk mengisi dunia tengah. Adapun penguasa Dunia Bawah, Guru Riselleng dan Sinua Toja, mengutus putri mereka, We Nyili Timo untuk menikah dengan Batara Guru.

Pada buku ini diceritakan tentang pertarungan yang sengit antara Batara Guru dan We Nyili Timo selama berhari-hari. Gambaran ini berbeda dengan penjelasan Dul Abdul Rahman dalam novelnya yang berjudul La Galigo. Dul tidak diceritakan pertarungan yang sengit diantara keduanya. Bahkan sebaliknya. Pertemuan mereka berjalan secara damai. Batara Guru dan We Nyili Timo bertemu di tengah lautan dan sisi feminisme We Nyili Timo yang rupawan lagi pemalu lebih ditonjolkan.

Yang patut mendapat perhatian khusus adalah klaim si penulis bahwa tradisi bissu merupakan bagian dari Islam. Bila memang demikian, lantas mengapa cerita sureq La Galigo yang dijadikan spirit mereka dalam melakukan aktivitas sehari-hari? Islam menegaskan ketauhidan Allah yang tiada beranak dan tidak diperanakkan, sementara para bissu berbasis sureq La Galigo meyakini bila Datu Patoto dan Datu Palinge adalah sepasang suami istri penguasa alam langit yang mempunya putra. Novel Calabai tak memiliki penjelasan memadai perihal ini.

Padahal novel ini lumayan memberi ulasan mengenai pandangan Islam tentang calabai atau waria, yang sering mendapatkan perlakuan diskriminasi dalam masyarakat. Hal ini terungkap melalui percakapan antara Kiyai Kusen dengan Puang Saidi saat rombongan bissu mengunjungi Surabaya dan memperkenalkan budaya bissu di sana.

Sependek pengetahuan saya, novel yang bercerita tentang kebudayaan bissu secara khusus ini adalah novel yang pertama kali dianggit dalam dunia kesusteraan Indonesia khususnya untuk Sulawesi Selatan. Penggunaan istilah Bugis-Makassar dalam novel ini, telah ikut mengenalkan budaya Bugis-Makassar, dan generasi yang hadir hari ini, serta generasi yang akan datang tetap mengenal kebudayaan nenek moyang mereka.

Walaupun sudut pandang yang dipakai oleh penulis dalam novel ini adalah sudut pandang orang ketiga. Tetapi dia berhasil menceritakannya secara apik, dan seakan tidak berjarak dengan para pembaca. Ini merupakan salah satu kekuatan utama novel ini, selain tema yang diangkat.

Ahmad Rusaidi, Pembina Komunitas Pena Hijau Takalar dan Pengelola Sudut Baca al Syifa Bantaeng.

Makassar Buku

Komunitas Literasi

Makassar Book Reviu adalah komunitas literasi di Makassar, menghimpun mereka yang menyukai buku dan tergerak untuk membagi hasil bacaannya kepada orang lain.

1 komentar: