Merapal “Hujan Bulan Juni” Novel Sapardi Djoko Damono

Oleh 16.21.00 0 komentar

RESENSI, PANRITA KITTA' - Penulisan Novel Hujan Bulan Juni pada mulanya didasari dari sebuah puisi rindu yang ditulis oleh Sapardi di tahun 1989. Hujan Bulan Juni sebagaimana berikut:

Hujan Bulan Juni 

 

Tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu

 

Tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

 

Tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu.

 

Puisi yang telah ditulis puluhan tahun lalu ini ternyata masih kontekstual. Puisi ini menceritakan tentang sebuah rindu yang lebih memilih lamat daripada tamat. Dari rahim puisi inilah, lahirlah kedunia, novel Hujan Bulan Juni, yang diterbitkan oleh Gramedia tahun 2015.

Pasca kelahiran, tentu buku ini begitu laris, buku yang ditulis oleh seorang sastrawan yang bijak ini sudah lama dinanti oleh para penggemar yang telah diluluhkan oleh puisi Hujan Bulan Juni.

Ada 5 tokoh yang membantu sapardi dalam menyelesaikan  novel yang ditulisnya ini yaitu:

Sarwono: Seorang Dosen Antropologi UI, peneliti andalan kampus.

Pingkan: Perempuan yang memaut hati Dosen Antropologi, Pingkan juga Asisten Dosen di Fakultas Sastra UI dan Fakultasnya berdekatan dengan Fakultas Sarwono.

Toar Palengkahu: Kakak kandung Pingkan sekaligus teman SMA Sarwono.

Sensei: Pemuda asal Jepang yang melanjutkan pendidikan pascasarjananya di UI. dan juga sebagai  Mahasiswa dampingan Pingkan.

Matindas: Sosok lelaki pemberani dan taat yang diciptakan dalam mimpi-mimpi pingkan.

 

Bab I

Puisi adalah Medium dan Medium adalah Komunikasi dan Komunikasi adalah Kehidupan. dalam bab ini, Sapardi melakukan penegasan ide, bukan sekadar sebagai variasi atau penyempurna cerita, bagi sapardi, inti dari segala sesuatu adalah komunikasi.

 

Bab II

Hujan Bulan Juni dan Upaya Penyatuan Dua Agama.

Banyak yang tidak percaya dan mempertanyakan kenapa cerita dalam ini novel ini hampir tidak sama dengan isi puisinya, tapi seperti sabda fenomenal bahwa tulisan tidak pernah menjadi milik penulis, tapi milik pembaca. sehingga pembacalah yang bebas menafsirkan tulisan tersebut, Sapardi tidak lagi memiliki hak untuk meluruskan atau mengatakan, bukan itu maksudku.

 

Baiklah saya akan menceritakan bagaimana sapardi melakukan penyatuan dua agama dalam novel ini. Isu perkawinan beda agama bagi saya bukanlah hal yang memengaruhi Sapardi dalam penulisan novel ini, tapi jauh sebelumnya, Sapardi sudah mempersiapkan semuanya.

 

Pingkan perempuan berdarah Menado-Solo dipertemukan dengan Sarwono oleh masa SMA Kakaknya, Toar. Toar adalah teman SMAnya Sarwono dan Sarwono sering datang ke rumah Toar, dari situlah Sarwono yakin ada kehidupa di matanya, Pingkan menjadi tempat rindu mukim.

 

Sarwono, lelaki yang beragama Islam sekalgus Javanis. Dalam hubungan antara Pingkan dan Sarwono lebih dari sekadar Hubungan pacaran, Sarwono menganggap bahwa hubungannya dengan Pingkan hanya disekat Ijab Kabul, tapi tidak bagi Pingkan, Pingkan berpikir bahwa negara belum memahaminya, dia butuh negara lain agar hubungannya dengan Sarwono bisa disebut suami-istri.

 

Pingkan adalah seorang katolik sedangkan Sarwono seorang Muslim. Sapardi, dalam Novel ini menceritakan bahwa keraguan perkawinan antara dua agama sebenarnya hanya berat dipikiran. dalam cerita novel ini, Bagaimana sikap pingkan terhadap Sarwono tidak pernah menyampingkan agama, begitupun sebaliknya, Pingkan sering menyuruh Sarwono untuk mengerjakan solat sedangkan Sarwono juga kadang mengingatkan pingkan untuk mencari gereja.

 

Sapardi yakin, bahwa penyatuan hubungan yang sakral itu hanya butuh komunikasi, atau medium. sebagaimana dalam kehidupan antara pingkan dan Sarwono, Sapardipun menceritakan dengan sangat bijak bagaimana keluarga pingkan dan sarwono bisa saling memahami. Tentu karakter dalam tokohlah yang memengaruhi semuanya.

 

Begitupun dalam menyatukan Kebudayaan. Tentu wawasan dan pendidikan dalam cerita ini menjadikan Sarwono dan Pingkan begitu dewasa. Pingkan awalnya disuruh oleh keluarganya di Menado untuk mencari pasangan orang Menado. Begitupun Sarwono, orang tuanya yang tak sabar ini melihatnya menikah dengan orang jawa.

 

Dalam Bab ini, Sensei dan Matindas seringkali membuat Sarwono cemburu. Pingkan dalam kesehariannya bersama Sarwono sering melibatkan kedua tokoh tersebut.

 

Bab III

Kehilangan sebagai penyakit yang tidak mudah disembuhkan. Secara normatif ini berlaku pada seorang Sarwono yang hatinya belum bisa dilepas dari jerat hati Pingkan. Pingkan telah mendapat beasiswa ke Kyoto, Jepang. Untuk melanjutkan pendidikannya di sana. Namun yang membuat hati Sarwono was-was adalah karena Sensei, Mahasiswa Pascasarjana UI itu ternyata bersama dengan Pingkan di Kyoto. Sensei juga mengajar di Universitas yang ada di Kyoto.

 

Bab IV

Rindu yang terbalas. Setelah beberapa penantian yang sabar, akhirnya Katsuo Mahasiswa asal jepang ini melakukan kunjung ke Universitas Indonesia dan Pingkan sebagai orang yang dekat sekaligus dipercaya oleh sensei mendampingi mahasiswanya melakukan studi di Pascasarjana Linguistik.

Setelah Pingkan tiba di Indonesia, Handphone/WA Sarwono tidak pernah lagi aktif beberapa minggu ini, Pingkan mendapati Sarwono di rumah sakit. Sarwono mengidap paru-paru basah dan mendapatkan perawatan intensif.

 

Bab V

Puisi “Tiga Saja Kecil” yang dimuat dalam sebuah surat kabar sebagaimana diceritakan pada Bab I.

 

I

 

bayang-bayang hanya berhak setia

menyusur partitur ganjil

suaranya angin tumbang

 

agar bisa berpisah

tubuh ke tanah

jiwa ke angkasa

bayang-bayang kesebermula

 

suaramu lorong kosong

sepanjang kenanganku

sepi itu, mata air itu

 

diammu ruang lapang

seluas angan-anganku

 

luka itu, muara itu.

 

II

 

di jantungku

sayup terdengar

debarmu hening

 

di langit-langit

tempurung kepalaku

terbit silau

cahayamu

 

dalam intiku

aku terbenam.

 

III

 

kita tak akan pernah bertemu

aku dalam dirimu

 

tiadakah pilihan

kecuali di situ

 

kau terpencil dalam diriku.

 

Rustam BostanBergiat di Komunitas Sayang Novel Takalar.

Makassar Buku

Komunitas Literasi

Makassar Book Reviu adalah komunitas literasi di Makassar, menghimpun mereka yang menyukai buku dan tergerak untuk membagi hasil bacaannya kepada orang lain.

0 komentar:

Posting Komentar