RESENSI, PANRITA KITTA' - Pagi ini belum waktunya menyeruput kopi, ini masih bulan puasa. Tapi menikmati karya seorang seniman cum sastrawan legendaris, tidaklah membatalkan puasa. Karena ini bukan kenikmatan jasadi, tetapi ruhani.

Saya ketemu buku ini --Surat-surat Kepercayaan, cet. Pertama 1997-- di rak terdalam Toko Buku Ramedia Palu, saat usai gajian kemarin. Buku ini sudah tua, kertasnya hampir kecokelatan. Kalau dilihat dari sisi bagian atasnya, ada banyak bercak-bercak cokelat, pertanda begitu lama ia didekap oleh rak buku yang mulai berbubuk --dimakan rayap.

Buku ini sudah kehilangan bungkusan plastiknya, tetapi mengapa tetap saya beli? Pertama, karena murah, kena diskon. Buku setebal 707 halaman ini hanya dihargai Rp. 60.000, setelah didiskon 50%. Memang harga-harga buku di bumi Tadulako rata-rata mahal.

Kedua, buku ini adalah kumpulan Esai. Saya mulai jatuh cinta pada esai ketika mulai membaca tulisan-tulisan Cak Nun (Emha Ainun Nadjib). Disusul tulisan-tulisan Goenawan Mohammad, Dahlan Iskan, ditambah dengan membaca "Inilah Esai" karya Gus Muh (Muhidin M. Dahlan).

Ketiga, penulisnya Asrul Sani, salah seorang yang esainya dikutip Gus Muh. Asrul Sani adalah seniman, salah satu pelopor angkatan 45, orang kebanyakan hanya mengenal Chairil Anwar, tetapi tak mengenal Asrul Sani. Padahal, ia bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin menerbitkan kumpulan 'Tiga Menguak Takdir (1950)'.

"Sebenarnya sumbangan Asrul dalam dunia sastra Indonesia lebih banyak berbentuk esai daripada berbentuk sajak dan cerita pendek ... Tetapi sumbangannya dalam dunia esai itu mungkin tidak diketahui banyak orang ... dia banyak menggunakan nama samaran." Demikianlah menurut pengakuan Ajip Rosidi sebagai penyunting dalam memberikan pengantar buku ini.

Pada tahun 1950-an, selama dasawarsa itu Asrul memang lagi subur-suburnya menulis esai. Sebagian besarnya ia menulis tentang teater dan perfilman. Ketangkasan dan keuletannya dalam menuliskan esai-esainya begitu terasa kalau kita membacanya dengan khidmat. Menjadi mafhumlah kita bahwa orang ini adalah seniman sejati. Ia bisa mencium bau ketidakberesan pada sajak-sajak belakangan, melalui salah satu esainya yang menuturkan kegusaran Sutan Takdir Ali Sjahbana di dalam kediamannya yang dirancang untuk dunia kesendirian.

Saya bersyukur, buku ini belum keburu disambar oleh orang lain, hingga saya dapat lebih mengenali salah seorang seniman yang hampir tersembunyi, melalui karya monumental ini.

Saeful Ihsan. Ketua PW Pemuda Muslimin Indonesia Prov. Sulawesi Tengah.
ESAI, PANRITA KITTA’ - Dalam perbahasan perihal kepenulisan, biasanya, pertanyaan yang sering muncul adalah soal yang sangat teknis, bagaimana cara menulis. Barulah setelah itu, menyusul masalah tentang tema tulisan, apa yang bisa atau harus ditulis. Disadari atau tidak, pertanyaan tersebut sesungguhnya melalaikan perbualan dari menilik hal mendasar dalam kepenulisan.

Sebelum jauh mengurai masalah teknis menulis dan tema tulisan, selayaknya, pertanyaan Jean-Paul Sarte, Apakah Menulis Itu? yang dijadikannya sebagai tajuk tulisan dalam kumpulan Menulis Itu Indah: Pengalaman Para Penulis Dunia (2016 : 64) patut kita renungkan dan jawab bersama. Mengapa demikian? Sebab jawaban bagi tanya ini akan menetukan tema dan karakter tulisan seseorang.

Dalam buku yang sama, Sartre (2016 : 90) menjawab sendiri pertanyaannya, menulis itu merupakan suatu usaha; karena para penulis adalah makhluk yang hidup sebelum kemudian menjadi mayat. Dalam buku yang sama, Umberto Eco (2016 : 223) mendaku bahwa aktivitas menulis merupakan kewajiban politisnya. Sementara pada tempat lain, Paul Jennings[1] berkata bahwa menulis adalah keperluan pribadi bukan tugas, karena di dalamnya ada kesenangan dan manfaat untuk kehidupan sehari-hari. Ada nilai yang tak terukur dalam menulis.

Berkaca pada jawaban Sartre, Eco, dan Jennings, dapat dikatakan bahwa menulis merupakan aktivitas yang punya beragam defenisi yang saling melengkapi dan menguatkan. Berikut beberapa pemahaman mengenai menulis yang bisa jadi bahan renungan bersama. Pertama, menulis berarti hidup. Saat kegiatan tulis-menulis dijalankan, maka pada saat itu seorang penulis sedang mengaktualisasi diri. Menulis sedang menghidupkan jiwanya dalam bentuk karya tulis.

Kedua, menulis berarti membebaskan. Ketika menulis, seorang penulis menjelma menjadi ’sang pencipta’. Ia bebas mengekspresikan diri sepuasnya karena tulian sebagai ranah, benar-benar milik adalah miliknya. Tulisannya adalah wilayah kekuasaannya, sehingga ia bebas melakukan apa saja di dalamnya. Ketiga, menulis berarti berbagi. Saat menulis, seorang penulis sedang mencoba untuk berbuat sesuatu bagi orang lain, beramal. Penulis berbagi melalui tulisan, dengan harapan tulisannya akan bermanfaat bagi orang lain.

Keempat, menulis berarti berbicara. Menulis sebenarnya perbincangan seorang penulis dengan orang lain, pembacanya. Saat menulis, imajinasi seorang penulis sedang bercerita dengan orang lain, maka pada saat itu kata - kata akan meluncur dengan deras. Kelima, menulis adalah kesenangan. Saat jemarinya menulis, saat itulah penulis sedang ‘bermain’ dengan rangkaian kata-kata. Tak perlu khawatir bahkan bila kosakatanya berantakan, yang penting setiap huruf mengalir begitu saja sesuai dengan perasaan yang ingin diciptakan.

Bila anda telah menemukan sendiri jawaban anda, maka saatnya kini untuk beranjak pada soal apa bagaimana cara menulis. Mengenai ini, baiknya longok sejenak ke Josip Novakovich, penulis fiksi yang mendapatkan berbagai penghargaan sastra di Amerika, meski dia kelahiran Kroasia. Untuk tanya sedemikian, ia akan menjawab singkat, “Duduk dan lakukan![2] meski sesungguhnya menulis tak sesederhana itu.

Cara menulis, ditentukan oleh jenis kelamin yang kita pilih: fiksi atau nonfiksi. Lalu apa selisih kedua jenis tulisan ini? Titik utama perbedaan antara penulis fiksi dan penulis nonfiksi, terletak pada cara mereka menceritakan ulang sebuah fakta. jadi sesungguhnya, baik penulis fiksi maupun nonfiksi, keduanya tetap berpijak pada fakta, tapibagaimana fakta itu dituturkan ulang, di situ titik percabangannya mengemuka.

Setiap penulis fiksi adalah mereka yang aktivitas menulisnya diisi dengan mengubah berbagai macam hal, membesar-besarkan dan mempercantiknya, bahkan memperkenalkan berbagai tokoh, tempat, dan kejadian yang tidak ada hubungannya dengan fakta sebagai bahan awalnya. Misalnya, fakta tentang manusia dan fakta tentang kuda, melahirkan mahluk imajiner kuda berkepala manusia, Centaurus. Atau fakta tentang manusia dan fakta tentang ular, memunculkan manusia berambut ular, Medusa.

Sedang penulis nonfiksi adalah mereka sungguh-sungguh tertib dalam menceritakan berbagai kejadian dengan benar-benar berdasarkan ingatan, tanpa berkeinginan mereka-reka sesuatu, atau bahkan tidak ingin melebih-lebihkan dan memperindah, atau memelintir perinciannya. Mereka akan menggambarkan kuda, begini: Kuda adalah binatang menyusui yang dikenal dengan nama latin Equus Caballus. Hewan berkuku satu ini terlahir dari famili equidae, ordo perissodactyla, kelas mamalia, dan kingdom animalia. Biasa, kuda dipiara orang sebagai kendaraan (tunggangan, angkutan) atau penarik kendaraan, atau untuk balapan.

Alif Danya Munsyi  dalam Jadi Penulis? Siapa Takut! (2012 : 2) telah memetakan genus tulisan mana yang termasuk fiksi, yang mana termasuk nonfiksi. Tulisan diksi meliputi cerpen, novel, drama, dan puisi, sedangkan nonfiksi mencakup berita, kritik, esai, serta kolom. Menurutnya, tak ada paksaan untuk memilih hanya salah satu model tulisan tertentu.

Penulis yang populer dengan nama Remy Sylado (2012 : 2) ini berkata, Tak ada saran untuk hanya memilih salah satu saja dari genus ini. Malahan disarankan untuk melakukan semuanya. sebab, nanti dalam menghubungkan antara kemauan dengan bakat di balik kerja menulis sebagai karya tulis, kita mesti memandangnya di bingkai bangsa yang ber-Tuhan Maha Esa.

Lalu, apakah dengan mengetahui pembagian jenis kelamin tulisan ini membuat seseorang menjadi penulis handal? Tentu tidak! Seperti selalu didengungkan oleh Kuntowijoyo, untuk menjadi penulis hebat, yang dibutuhkan adalah menuruti enam kata singkat ini: menulis, menulis, menulis, menulis, menulis, menulis. Apa tak ada trik khusus? Tak ada! Remy Sylado (2012 : 4) berujar: Dasarnya, kuasai bahasa, miliki kata-kata. Semua punya licentia poetika[3], semacam kebebasan untuk mengulik kata – kata dalam karya.

Praktik licentia poetika ini bisa dirasakan pada pengalaman Ida Azuz menulis buku Malaikat Menulis Dengan Jujur (2007 : 5), Ida menyebutnya menulis dengan jujur. Menurutnya, menulis dengan jujur adalah menulis tanpa beban rasa takut. Menulis dengan jujur adalah menulis secara bergairah. Menulis dengan jujur adalah menulis dengan tulus menyampaikan kutipan orang lain tanpa menyembunyikan sang sumber tulisan.

Setelah muncul dorongan dan kemauan untuk menulis, sekarang saatnya akan mencari – cari apa yang mesti ditulis, bukan? Muhidin M. Dahlan dalam bukunya Inilah Esai. Tangkas Menulis Bersama Para Pesohor (2016 : 32 – 36), menyebut ada lima sumur tempat seorang penulis bisa menimba bahan esai –yang bila ditilik serius, pun bisa menjadi sumber tulisan karya nonfiksi lainnya. Kelimanya adalah perpustakaan, subjek manusia, subjek flora dan fauna, ruang-ruang imajiner, dan internet.

Itu tadi bagi penulis nonfiksi, untuk tulisan fiksi, Josip Novakovich dalam Berguru Kepada Sastrawan Dunia (2003 : 7 – 26) menyebut setidakya ada empat sumber cerita fiksi. (1) Fiksi dan nonfiksi; (2) Memadukan fakta dan fiksi; (3) Tradisi lisan; dan (4) Sumber-fiksi yang lainnnya. Menariknya, untuk poin (4) Sumber-fiksi yang lainnnya, Novakovich ada tiga sumber yang untuk meraihnya harus dicuri: (a) Curilah dari masa kecil anda; (b) Curilah dari liang kubur; dan (c) Curilah dari buku.

Untuk penulis mubtadi, Remy Sylado (2012 : 11) menyederhanakan sumber itu menjadi dua: dari tulisan dan dari omongan. Dari tulisan, bahwa mula-mula kita membaca, dan dari bacaan itu kita memperoleh pengerahuan (penge-tahu-an) tertentu, darinya kita terdorong untuk membuat juga karya tulis. Dari omongan, bahwa kita mendengar omongan orang, lantas kita mencari jalan untuk mengetahui (menge-tahu-i) kebenarannya, atau juga ketidakbenarannya, untuk menjadi ilham tulisan kita. Baik yang benar maupun tidak benar, sama-sama berguna bagi sumber ilham kita tersebut.

Akhirnya, seseorang menulis atau tidak, menulis dengan baik atau buruk, penuh emosi atau tanpa perasaan, semua kembali pada dorongan, motivasi, atau stimulus yang merangsang seseorang mengungkapkan apa yang dipikirkannya ke dalam tulisan. Untuk menerka hal tersebut, ada baiknya kita mendaras ulang sebuah tanya sederhana dengan jawaban pelik yang dilontarkan oleh penghulu kaum eksistensialis, Sartre (2016 : 90), Mengapa seseorang menulis?



[1]     Hernowo mengutip  kalimat ini dalam tulisannya dengan judul Menulis Untuk Meningkatkan Kualitas Diri: Sebuah Pengantar Ringan yang menjadi pengantar atas buku Malaikat Menulis Dengan Jujur yang ditulis oleh Ida Azuz dan diterbitkan oleh Penerbit PT Lingkar Pena Kreativa pada April 2007.
[2]     Helvy Tiana Rosa mengungkap hal ini dalam tulisannya dengan judul Menulis Tanpa Beban yang menjadi pengantar atas buku Berguru Kepada Sastrawan Dunia yang ditulis oleh Josip Novakovich dan diterbitkan oleh Penerbit Kaifa pada April 2003.
[3]     licentia poetika, pada awalnya digunakan untuk menunjukkan kebebasan para penyair dalam memiuh bahasa dan menyulam kata dalam puisi-puisinya.

Kasman McTutu. Pembelajar Literasi.
RESENSI, PANRITA KITTA' - Sesungguhnya jiwa pendobrak yang dimiliki oleh Dewi Sartika, diwarisi dari ayahnya. Ini dapat dilihat dari keberanian ayahnya menyekolahkan putrinya, Dewi Sartika.

Padaha,l bagi kalangan priyayi saat itu, pendidikan hanya bisa diberikan kepada kaum Adam saja. Tetapi ayahnya, Raden Rangga Somanagara tetap menyekolahkan anaknya, meskipun mendapat tentangan dari karibnya. 

“Anak perempuan itu telah ditakdirkan untuk melanjutkan keturunan, berumah tangga. Kalaupun berpendidikan tinggi, mereka akan masuk dapur juga,” ujar Reden Legawa ketika mengetahui kerabatnya itu memasukkan Enden Uwi ke sekolah (hal. 23).

Tekad yang kuat dan jiwa besar Dewi Sartika, dalam memperjuangkan kaumnya agar mendapatkan pendidikan yang layak dan setara dengan kaum laki-laki, telah terpatri dalam hatinya. 

Sejak masih belia, dia sering menanyakan kepada ibunya tentang keadaan orang-orang di sekitarnya yang tidak bersekolah, para abdi dalem, khususnya perempuan. 

Sampai pada saat dia harus berpisah dengan orang tuanya dan saudara-saudaranya, karena ayahnya menjadi buangan Gubernemen Belanda yang berkuasa pada saat itu, dan terpaksa  Dewi Sartika, harus dititip ke rumah salah satu kerabatnya. 

Dia tetap gelisah, sedih melihat saudara-saudara sepupunya, gadis-gadis sepermainannya tidak mampu membaca dan menulis. Meski saat itu ia harus berjuang untuk bangkit dari keterpurukan atas musibah yang menimpa keluarganya.

Usaha untuk mengajak kaumnya (perempuan) agar bisa membaca dan menulis, datang silih berganti. Tetapi, tetap saja tak menyurutkan langkah dan semangatnya.

Penentangan itu dapat dilihat. Pertama, saat masih kanak-kanak, dia mendapat teguran dari pamannya, Raden Demang Suriakarta Adiningrat, Patih Afdeling Cicalengka, agar tidak mengajak anak-anak kepatihan untuk sering bermain-main dengan mereka terutama bermain sasakolaan. 

Kedua, saat Dewi Sartika, memberanikan dirinya mengadap ke Bupati Bandung, R.A.A. Martanegara, yang tak lain adalah 'musuh' ayahnya. Menghadap pertama kalinya agar mendapat restu mendirikan sekolah, khusus perempuan. Dia ditolak. Menghadap untuk yang kedua, ketiga dan keempat, tetap ditampik. Meskipun belakang hari Bupati Bandung ini, memberikan restunya.

Buku yang terdiri dari 36 bab ini, menceritakan sosok heroik Dewi Sartika, dan orang-orang yang ada di belakangnya yang turut menyokong. Seperti ibunya Raden Rajapermas. Serta suaminya Raden Agah Kanduruan Suriawinata, seorang guru sekaligus tokoh pergerakan kemerdekaan saat itu.

16 januari 1904 sekolah untuk anak-anak perempuan secara resmi telah berdiri dengan nama Sakola Istri atau Sekolah Perempuan, setelah melalui proses dan perjalanan yang panjang dan berliku.

Pada buku ini, penulis belum menceritakan pola yang dipakai oleh Dewi Sartika dalam mendidik putra-putrinya sendiri. Bagaimana ia mengatur kesibukannya mengelola Sakola Istri, dengan mengasuh serta mengasuh anak-anaknya sendiri. Padahal saat itu sekolah yang dikelolanya berkembang sangat pesat. Mekipun menurut Raden Dewi Sartika, rumah tangga adalah yang nomor satu.

Seandainya hal ini dapat kita temukan dalam buku ini, menjadi nilai tambah karena itu merupakan khazanah pola pendidikan anak di dalam keluarga, terutama bagi orang tua yang memiliki pekerjaan di luar rumah.

Bagi orang tua khususnya ibu, tentu memiliki peran dan tanggung jawab yang sangat besar dalam pendidikan pertama anak-anaknya, sementara ia juga dituntut oleh pekerjaan publik yang sedang digelutinya di luar rumah. Bekal pendidikan Raden Dewi Sartika di dalam rumahnya, oleh ayah dan ibunya telah membuktikan hal itu. 

Novel berlatar sejarah ini, seharusnya bisa menjadi salah satu referensi yang harus dibaca para orang tua, pendidik dan para perempuan yang ada di negeri ini.

Setelah membaca buku ini saya semakin yakin bahwa, pahlawan itu tidak hanya bagi mereka yang mengangkat senjata untuk mengusir kaum imperialis. Tetapi dapat pula ditempuh dengan cara yang dilakukan oleh Raden Dewi Sartika.

Kini, teranglah bagi resensor, siapa sesungguhnya sosok Raden Dewi Sartika. Kontribusinya bagi bangsa ini sungguh sangat luar biasa, khususnya dalam dunia pendidikan. Dengan bahasa yang lugas dan alur yang dapat dipahami secara mudah, buku ini seharusnya menjadi rujukan dalam pelajaran sejarah bangsa.

Judul Buku : Raden Dewi Sartika; Pendidik Bangsa dari Pasundan
Penulis : E. Rokajat Asura
Penerbit : Penerbit Imania
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, Februari 2019
Halaman : xi + 422 halaman
ISBN : 978-602-7926-47-9

Ahmad Rusaidi, Pengajar di SMA Negeri 9 Takalar dan pegiat literasi di Sudut Baca Al-Syifa Bantaeng, Boetta Ilmoe Bantaeng dan Pena Hijau Takalar
RESENSI, PANRITA KITTA’ - Sebagai seseorang yang lahir dari rahim tradisi Bugis di Sulawesi Selatan, pertanyaan perihal eksistensi ragam ide, aneka gagasan vital, serta sistem pengetahuan yang mencakup konsep moral, filsafat dan keagamaan dalam masyarakat Bugis, tak jarang merisak resah.

Penasaran itu menyeruak terutama bila menyaksikan kedigjayaan Tiongkok, India, Yunani, dan Korea serta berbagai tradisi besar lain di dunia yang tetap mampu hadir dan bertahan di tengah belitan sistem pengetahuan positivistik yang didengung-dengungkan sebagai sesuatu yang universal.

Bagaimana mungkin, tradisi yang berhasil melahirkan karya sastra terpanjang di dunia –epos La Galigo, hampa akan struktur gagasan vital serta semesta ide dan pengetahuan. Mungkin, kegelisahan ini juga mengusik pikiran generasi muda Bugis, terutama yang mencoba menghidup-hidupi kebugisannya.

Kesah itu sedikit reda kala kutimang sebuah buku terbitan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1991 di bawah Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara. Buku dengan tajuk Lontarak Pangissengeng Daerah Sulawesi Selatan ini kuperoleh dalam wujud kopian.

Meski, saat awal melihat judulnya, terutama kata ‘pangissengeng’, yang terpatri di benakku adalah gambaran tentang jampi-jampi, mantra, atau ilmu hitam dan sejenisnya. Hal ini membuat buku ini terabaikan dari hasrat membaca selama ini.

Rupanya, kata itu kupahami secara keliru. Begitu bagian pendahuluan mulai kumamah, pengertianku yang keliru terhadap ‘pangissengeng’ menjadi berubah seratus delapan puluh derajat. Konsep inilah yang selalu mengusik hasrat ingin tahuku beberapa waktu terakhir. Buku ini kutimang-timang dengan seruan tertahan, "Nah, ini!"

Buku yang ditulis oleh tim di bawah pimpinan Drs. H. Ahmad Yunus sebagai Penanggung Jawab dan Dra. Pananrangi Hamid selaku Ketua, berisi 143 + vii halaman. Adapun anggota tim adalah Drs. As'ad Bua, M.A., Dra. Titiek Kartikasari, Drs. soeloso, dan Dra. Kencana S.

Sebagaimana klaimnya sebagai lontarak pangissengeng, buku ini mengurai begitu luas gagasan vital orang Bugis. Mulai dari tema negara dan pemerintahan, moralitas, keagamaan, fenomena alam, hingga astrologi dan bahkan sejenis primbon, tersaji dalam buku ini.

          Baca juga: Sekilas Sistem Medis Orang Bugis               

Dalam lontarak ini, terungkap bahwa orang Bugis percaya, betapa gerakan-gerakan refleks pada beberapa titik di tubuh kita merupakan semacam alarm bagi berbagai peristiwa yang akan dialami. Di bawah sub judul Pannessa éngngi kédoé ri watakkaléta, setidaknya ada 36 pasal yang menyebut gerak pada bagian tubuh dan implikasinya.

Berikut beberapa kutipkan untuk memantik minat atas lontarak pangissengeng perihal kédoé ri watakkaléta ini:
1.    Rékko enning atauttak kédo / mawékki lolongeng dallék masémpo / ri amaséi toik ri padatta tau / rékko enning abéotak kédo / mawékki lolongeng dallék [Kalau kening bahagian kanan bergoyang, kita bakal memperoleh rezeki yang banyak. Kitapun dikasihani oleh sesama manusia. Kalau kening bahagian kiri yang goyang, kita bakal memperoleh rezeki] (hal. 35).
2.   Rékko alépak atauttak kédo / mawék i lolongeng alebbireng / rékko alépak abéotak kédo / mawék i engka to maraja tak polé iwi [Kalau ketiak sebelah kanan bergerak, kita akan beroleh kemuliaan. Kalau ketiak sebelah kiri bergerak, kita akan menerima kunjungan pembesar negeri] (hal. 37).
3.   Rékko urek poppattak kédo / mawék i malawéng makkunraittak [Kalau urat paha yang bergerak, isteri kita akan berzinah] (hal. 38).

Atau percayakah anda bahwa leluhur Bugis meyakini mereka yang berambut biru (gauk) membawa sisi buruk dan dia selalu ditinggal mati oleh orang yang dekat dengannya seperti orang tua, anak, suami/istri, erabat, sahabat, dll., yang dalam terminologi Bugis, dikenal dengan istilah patula.
Na iyya magauk é gemmekna / patulai [Ada pun yang biru rambutnya adalah patula] (hal. 39).
Sementar perempuan yang berbadan kecil dan berlengan panjang, adalah buruk.
Na rékko engka makkunrai baiccuk aléna / na malampék limanna / majak i [Kalau ada perempuan yang kecil perawakannya dan panjang lengannya, itu tidak baik] (hal. 44).

Meski, sebagian dari isi buku ini diyakini berasal dari era yang lebih lampau, namun dalam beberapa sub bagian, pengaruh Islam sudah terasa begitu kental, terutama pada sub bagian Pappau pangajakna to panrita majettaé, Pannessa éngngi pangajak na to malempuk é, Pannessa éngngi narékko si yemmek i ulengngé, serta Pannessa éngngi wéwangngé.

Sebagai contoh, saat membahas perihal gerhana bulan (si yemmek i ulengngé), maka yang menjadi pokok pembahasan adalah implikasi peristiwa gerhana bulan yang terjadi pada bulan tetentu yang mengacu pada kalender hijriyah. Semisal:
Na rékko Sulehajji wi na si yemmek ulengngé / Maseroi bosié /masulik i nanré [Kalau Zulhijjah terjadi gerhana bulan, banyak turun hujan, makanan pun sulit] (hal. 29)

Setidaknya, ada 15 bahasan yang diumbar dalam lontarak yang merupakan hasil penelitian yang dilakukan di tiga daerah, Kabupaten Luwu, Kabupaten Wajo, dan Kabupaten Jeneponto. Kelima belas bahasan itu dapat diklasifikasikan menjadi beberapa tema pokok berikut:
Sayangnya, buku yang mencoba mengangkat khasanah kearifan lokal Sulawesi Selatan –sebagaimana ditunjukkan pada judul– ini, tak satupun yang berangkat dari khasanah Makassar sebagai salah satu etnis besar di Sulawesi Selatan dan menjadi penduduk dominan di Kabupaten Jeneponto yang menjadi salah satu sentrum penggalian informasi.

Hal lain, meskipun penyusun menjelaskan bahwa dalam penyusunannya, lontarak pangissengeng ini mengutamakan naskah paling tua, lengkap dan terbaca, namun tak satupun sumber primer yang disebutkan dalam kepustakaan buku, sehingga menyulitkan pembaca yang mempunyai niat melakukan penelusuran lebih lanjut pada naskah lontarak yang dirujuk.

Buku ini juga belum menggambarkan perspektif kosmologis masyarakat Bugis secara terstruktur dan sistematis, tapi setidaknya mampu memberi gambaran bahwa manusia Bugis mempunyai kerangka pangissengeng yang sedikit banyak bisa menjadi bahan melakukan konstruksi lebih lanjut akan bangunan epistemik Bugis secara lebih holistik.

          Baca juga: Manusia Bugis Rasa Christian Pelras            

Hadirnya buku ini minimal menjadi pemantik awal dan memberi kepercayaan diri bagi generasi Bugis belakangan, bahwa nenek moyangnya merupakan manusia-manusia jenius yang mampu merumuskan dan mewariskan struktur gagasan vital serta semesta ide dan pengetahuan yang khas. Tugas kitalah generasi sekarang untuk melestarikan dan merevitalisasinya sesuai tuntutan zaman.

Judul              : Lontarak Pangissengeng Daerah Sulawesi Selatan
Penulis          : Drs. H. Ahmad Yunus, dkk. 
Penerbit        : Depdikbud 1991
Tebal              : vii + 143 halaman

Kasman McTutu, Peminat tulisan tentang masa lalu.

ESAI, PANRITA KITTA' - November 1327. Adalah biarawan William dan muridnya Aldo, ketika berkunjung ke Biara Benediktin, menghadapi masalah yang pelik. Kedatangan mereka disambut oleh kematian. Tepatnya, kematian demi kematian. Bermula dari terbunuhnya Adelmo, seorang biarawan muda; iluminator, hingga berturut-turut kematian yang lain.
Rangkaian kematian demi kematian terus terjadi hingga kemudian William dan Adso menemukan kenyataan bahwa penyebabnya berasal dari sebuah buku. Di Aedeficium, bangunan sentral di biara itu, terdapat ruang perpustakaan yang menyimpan begitu banyak macam koleksi buku. Salah satunya adalah buku asli karya filsuf termasyhur, Aristoteles. William menduga buku inilah yang menjadi penyebab kematian satu per satu penghuni biara itu.
Adalah Jorge, penghuni tertua di biara itu, yang menaruh racun di buku karya Aristoteles. Tujuannya satu: agar keimanan (religiusme) para biarawan tidak tercemari oleh filsafat. Ajaran yang dituduh paganis dan jauh dari cahaya kebenaran Tuhan. Sesiapa saja yang membaca buku itu, pasti terbunuh karena racun yang ditaruhnya.
Di akhir kisah, ketika kejahatannya terkuak, di hadapan William dan Aldo, Jorge malah memakan lembar demi lembar buku karya Aristoteles itu—yang tentu saja membuatnya menemui kematian—dan menyulut api yang kemudian menyebabkan terjadinya kebakaran hebat yang melumat seluruh isi perpustakaan. Perpustakaan, yang tidak lain adalah perpustakaan Kristen terbesar dan terlengkap kala itu.
***
Umberto Eco, yang menuliskan kisah di atas dalam novel-tebalnya yang apik “The Name of The Rose” sebenarnya hendak mendeskripsikan: bagaimana pengetahuan, sebagai pandu hidup dan instrumen pencapaian kebenaran, bisa menimbulkan ketakutan yang mendalam di kalangan kaum puritan. Kaum agamawan yang anti akal. Anti pengetahuan.
Di kalangan kaum agamawan, pengetahuan didakwa sebagai anti Tuhan. Ia dianggap bisa menyebabkan orang murtad. Pengetahuan tidak saja mengotori kesucian agama, tetapi juga sekaligus menjadikan seseorang jahat. Tersesat. Roh jahat dan tindak-tanduk buruk iblis bisa menjelma pada diri manusia, jika ia berpengetahuan.
Dalam konteks sosio-historis, cerita Eco sebenarnya hendak mengingatkan kepada kita: bahwa peristiwa seperti itu tidak hanya soal masa lalu, tapi juga bisa terjadi di masa kini dan berikutnya. Ia bisa datang menghantam berkali-kali. Berulang, dari masa ke masa.
Apa yang terjadi di Kediri baru-baru ini adalah potret nyata dari cerita Eco. Sekelompok aparat melakukan sweeping terhadap buku-buku kiri. Buku-buku yang dianggap membahayakan ideologi bangsa. Kehadiran buku-buku kiri, menurut mereka, adalah pertanda bangkitnya PKI—partai beraliran komunis yang terlarang itu.
Memang, ada dua anasir yang sangat berkepentingan terhadap penghilangan buku-buku kiri. Pertama, kaum agamawan puritan. Bagi kaum agamawan puritan, membaca adalah aktivitas terlarang. Tidak saja terhadap buku-buku kiri, tetapi bahkan untuk mempelajari filsafat Islam, logika, atau sains pun tak boleh. Yang pasti, semua ilmu yang tak berkorelasi langsung dengan agama adalah haram.
Gerakan puritanisme tegak di atas frame: bahwa penalaran, apa pun bentuknya, tak diperbolehkan. Agama bukan untuk dinalar tapi dijalankan. Dalam gerakan ini, tekstualisme mengambil bentuk yang paling ekstrim. Agama mutlak diperlakukan sebagaimana termaktub dalam teks. Dalam nash-nash yang ada. Tak ada ruang untuk melakukan pengayaan perspektif melalui tindakan penalaran.
Di banyak tempat, praktik puritanisme agama ini ditandai dengan pengharaman untuk membaca buku-buku tertentu. Tak boleh ada diskusi soal agama. Apalagi debat. Debat tak hanya merusak atmosfer beragama, tetapi juga mengeraskan hati. Setiap tindakan “mempertanyakan” apa-apa yang telah digariskan dalam agama adalah bentuk ketidakyakinan. Sehingga, tidak jarang, dalam kajian-kajian yang mereka lakukan, tak ada diskusi. Yang ada adalah ceramah monologis. Pun jika bertanya, hanya bisa dilakukan melalui secarik kertas.
Kebenaran disampaikan secara satu arah. Pun, ia tidak dipahami sebagai sebuah proses pencarian yang dinamis; terus menerus. Kebenaran bersifat given. Dan ukurannya adalah teks. Apa yang tertera dalam teks sudah itulah agama. Final. Makna agama tak ditempatkan sebagai sesuatu yang bersifat trans-historis. Atau meminjam istilah Erich Fromm: sebagai sesuatu yang menjadi(becoming). Nalar ditolak, dialektika dipasung.
Kedua, aparatus negara. Memang sejarah pernah menyuguhkan cerita buram soal komunisme. Adalah insiden Madiun 1948 dan 30 September 1965, sebagai peristiwa yang menandai rencana kudeta partai terlarang, PKI, kepada pemerintahan yang sah. Tetapi memperlakukan dua peristiwa itu sebagai dalih untuk melenyapkan buku; memberangus pemikiran kiri, adalah tindakan yang picik.
Nasionalisme tak bisa ditegakkan di atas mindset demikian. Setiap tindak pemberangusan terhadap pemikiran adalah wujud nyata nasionalisme sempit. Kita pernah mengalami masa dimana pemikiran “didisiplinkan”. Kuasa pengetahuan adalah kuasa politik. Pengetahuan dijalankan dan dikontrol ketat oleh satu pusat kekuasaan bernama Cendana.
Tetapi apakah itu semua lantas menghentikan komunisme? Menghentikan anak-anak muda dari menikmati revolusionerisme kiri? Atau sebaliknya, kemudian berbondong-bondong mengikuti Penataran P4 yang dijajakan dari tempat ke tempat, dari hari ke hari, dengan segala tetek-bengeknya yang membosankan itu?
Tahun 1996 Partai Rakyat Demokratik (PRD) berdiri. Partai yang dituduh sebagai metamorfosis dari rangkaian gerakan atau organisasi kiri sebelumnya di Indonesia itu, tepat berdiri di saat rezim Orde Baru tengah kuat-kuatnya. Bahkan, Budiman Sudjatmiko, pentolannya, ditangkap.
Tetapi itu terbukti tak menghentikan sama sekali diseminasi gagasan kiri. Gagasan-gagasan kiri terus meluas, terutama di kampus-kampus, dan kalangan anak muda. Sebelumnya, di tahun-tahun 1980-an, juga tumbuh gagasan-gagasan kiri. Penyebarannya terjadi melalui kelompok-kelompok diskusi yang berjamuran di kampus. Buku-buku kiri hadir; dikopi atau dipinjamkan, untuk kemudian dibaca para mahasiswa yang membutuhkannya. Diskusi-diskusi pemikiran kiri digiatkan. Semua itu berlangsung nyata, kendati dengan cara diam-diam.
***
Siapakah komunis hari ini? Atau siapakah yang benar-benar komunis hari ini? Pertanyaan yang sama, yang juga bisa diajukan, seperti: adakah Islam yang benar-benar genuine hari ini?
Hari-hari ini saya menyaksikan lahirnya generasi baru yang boleh dibilang kompleks. Tidak tunggal pemikirannya. Ada yang kemudian menyebutnya sebagai gejala post-islamisme. Atau jika di kalangan kiri, disebut sebagai post-marxisme.
Saya tidak terlalu hirau dengan istilah itu di sini. Bukan ranahnya untuk memperdebatkan itu. Tetapi yang pasti, generasi baru ini, jika pemikirannya bercorak keislaman, ia tak bisa benar-benar disebut Islam. Ia salat; ia berpuasa; ia memahami Islam dengan baik. Tetapi di sisi lain, ia sangat kritis terhadap Islam. Atau memberi aksentuasi yang berbeda terhadap Islam. Warnanya bisa “merah” sebagaimana Ali Syariati dan Asghar Ali Engineer, atau bisa sangat modernis sebagaimana Fazlur Rahman. Juga bisa berwarna tradisionalis sebagaimana Mohammed Arkoun, M. Abid Al-Jabiri, dan lain sebagainya.
Mereka bisa melafalkan dengan baik isu-isu tentang demokrasi, HAM, dan kesetaraan gender. Mereka pun akrab dengan hermeneutika: metodologi tafsir yang banyak dikembangkan di Barat. Mereka juga lincah memainkan pisau dekonstruksi Jacques Derrida untuk membedah Islam. Di tangan mereka, Islam menjadi sangat kaya warna.
Untuk anak-anak kiri, saya kira, susah kita menemukan mana yang komunis. Setulen-tulennya komunis. Kita tahu, komunisme sebagai varian dari marxisme, berdiri di atas filsafat materialisme. Sementara materialisme, jika dilekatkan sebagai sebuah ideologi, jelas-jelas menafikan Tuhan. Mana ada orang yang menolak Tuhan tapi tetap salat? Di banyak kesempatan, saya menyaksikan banyak anak-anak kiri yang salat ketika azan memanggil.
Jadi saya meyakini, bagi generasi kini, marxisme (atau komunisme) tak lebih dari sekadar metodologi berpikir. Marxisme ditempatkan sebagai basis teoritik dan analisis sosial dalam menggelorakan praksis pembebasan. Ia sekadar “jalan” untuk mewujudkan cita keadilan. Cita yang juga sama disuarakan oleh agama-agama.
Saya sendiri mengoleksi banyak buku kiri. Ada ratusan judul yang berderet di lemari saya. Semua buku kiri yang disita di Kediri saya miliki. Apa karena itu, lantas saya bisa dituduh komunis? Atau menjadi komunis? Saya kira, tak boleh segegabah itu. Saya mengoleksinya karena meyakini bahwa aktivitas membaca adalah perintah pertama Tuhan kepada kita. Iqra, kata Tuhan kepada Nabi Saww.
Saya meyakini, bahwa aktivitas membaca adalah aktivitas yang mulia. Bahkan wajib. Tak ada jendela lain untuk (dapat) berpengetahuan selain dari membaca. Terhadap apa? Terhadap semua kitab pengetahuan. Apalagi hanya terhadap gagasan-gagasan atau buku kiri, tentu tak ada alasan untuk melarangnya.
Jadi, saya kira, dengan dalih apa pun, aktivitas membaca tak boleh dilarang. Melarang orang membaca sama dengan melenyapkan kemerdekaan dia sebagai manusia yang diberi keleluasaan Tuhan untuk berpikir. Dan, lebih dari itu, tindakan demikian sangat berbahaya bagi masa depan: bangsa dan peradaban. Sebab, mana ada peradaban yang maju tanpa buku.
Melarang membaca buku hanya akan mengembalikan kita kepada masa lalu. Mengembalikan kita ke zaman dimana pikiran kita digenangi oleh kepicikan dan tindakan kita hanya layak kita sebut sebagai: tindakan purba.
Buol, 20 Januari 2019
Itho Murtadha. Setiap hari bekerja serabutan, membaca bila ada waktu, menulis bila senggang.

Tulisan ini telah pernah tayang di sini


RESENSI, PANRITA KITTA’ - Seorang perempuan berumur sekira 60an tahun membuka kaleng Khong Guan, mengeluarkan biji kopi yang telah disangrai. Dia mengamati sejenak biji kopi, membaunya, kemudian mengambil semacam cobek batu kecil. Dia mulai menumbuk biji kopi, sambil memastikan api tungku tetap menyala, menunggu air mendidih.

Perempuan berkebaya itu memasukkan kopi yang telah halus dalam hanya dua gelas. Lalu menuangkan air mendidih yang dimasak dengan kayu bakar, dan memberi sedikit gula pasir.
Minumlah, begini kopi yang selalu saya buat untuk Puang Uceng. Hari ini saya bikin lagi dua gelas. Satu untuk saya, satu untuk cucuku. Dia menyodorkan segelas kopi yang asapnya masih mengepul ke hadapan saya. Itu kali pertama saya meminum kopi.

Saya memandangnya lama-lama. Menunggu kalimat lain yang meluncur dari bibir hitamnya. Dia menyeka matanya dengan ujung kebaya.
Di sini, di dapur ini saya sering membuatkan kopi untuk puang Uceng, awweee... kasi'na, hari ini cucuku datang, kubuatkan lagi kopi untukta’, Nak.”

Perempuan itu mengajak saya menyeruput kopi bersama. Kami duduk bersisian di dapur, tempat paling rahasia dan intim bagi masyarakat setempat. Itu kali pertama saya belajar meneguk kopi. Kopi yang disangrai dengan memasukkan beberapa ruas jahe dan sedikit potongan daging kelapa tua sebesar telapak tangan bayi. Sejak itu saya mulai menyukai kopi.

Tetapi pengetahuan saya tentang kopi, hanyalah kopi yang ada di gelas. Saya tidak menyertakan pengetahuan bagaimana kebun kopi dikembangkan, terlebih lagi cara menyeduh kopi yang menjadi wilayah para barista.

Hingga satu masa saya menikmati Jogja tidak sekadar kota wisata. Ketika saya mulai belajar di Jogja, terbukalah banyak kesempatan menimba pengetahuan sosiologis tentang kopi. Juga saya mulai berteman dengan sesama penikmat kopi. Lalu seorang barista bercerita bahwa kopi yang diseduh pada cangkir porselen akan berbeda rasanya dengan gelas kaca, pun akan berbeda rasa dengan yang disaji di canteng, meskipun cara olahnya sama. Hari itu saya menyadari betapa pengetahuan saya tentang kopi sangat tak memadai.

Kesadaran minimnya pengetahuan tentang kopi menyatu dalam keharusan menyelesaikan bacaan sosiologis tentang masyarakat dan pengetahuan lokal mereka, membuat saya melebarkan pertemanan. Teman untuk berdiskusi, teman untuk saling membagi bahan bacaan, dan tak kalah penting adalah teman yang bersedia menampung keresahan tipikal mahasiswa.

Dari berbagai pertemanan itu juga saya mendapat informasi bazar buku atau pameran buku. Ini kesempatan baik bagi saya karena uang beasiswa harus dihemat sedemikian rupa. Lalu sampai pada saat saya mendatangi bazar buku di  Gramedia  Sudirman Yogyakarta. Saya menemukan buku berjudul Kopi, Adat Dan Modal di keranjang buku-murah. Buku ini dijual seharga Rp 15.000. Buku yang diterbitkan pada tahun 2013 melalui kolaborasi tiga lembaga pemerhati masalah agraria yakni Yayasan Tanah Merdeka Palu, Tanah Air Beta Yogyakarta, dan Sajogyo Institute Bogor.

Kopi, Adat dan Modal saya miliki pada tanggal 06 September 2015. Ketika itu saya tinggal di Bogoran Bantul Yogyakarta. Buku ini adalah disertasi Claudia D'Andrea yang ditulis untuk University of California Berkeley tahun 2003.

Claudia menulis disertasi berdasarkan penelitian mendalam pada masyarakat adat Katu di Sulawesi Tengah. Masyarakat Katu berhasil menggunakan terminologi adat untuk mendefinisikan diri mereka yang mana dengan kosntruksi tersebut mereka berhasil merebut tanahnya yang dikuasai negara selama bertahun-tahun. Negara atas nama lingkungan telah mengambil dan kemudian mengusir orang Katu dari kampungnya. Tanah orang Katu dijadikan Taman Nasional, dan pemilik Tanah dilarang menempatinya.

Orang Katu memperjuangkan kembali tanah mereka yang diambil negara tersebut bukan tanpa momentum. Mereka menemukan momen yang pas ketika reformasi 1998 berlangsung dengan dibantu oleh para aktivis masyarakat adat yang tergabung dalam Yayasan Tanah Merdeka.

Pasca pengambilan kembali tanah mereka, orang Katu menggantungkan hidupnya pada empat jenis tanaman; padi, coklat, rotan, dan kopi. Saya mencari-mencari jika ada empat jenis tenaman yang dominan, mengapa kopi menempati kedudukan istimewa sehingga hanya tanaman kopi yang termaktub dalam judul disertasi maupun buku ini.

Saya kemudian mencatat pada indeks kata coklat muncul 26 kali, sementara kopi muncul 25 kali. Gerangan apakah yang dikandung kopi hingga penting untuk dimasukkan sebagai judul buku ini? Saya akhirnya menemukan antara lain bahwa orang Katu secara indigineous memang menanam kopi, bukan coklat. Rotan adalah hasil hutan yang tidak mereka budidayakan di kebunnya. Padi adalah tanaman yang yang baru dikembangkan.

Dari 305 halaman buku yang terdiri dari 7 bab, saya menjadi tahu bagaimana tanah yang hilang dapat diambil kembali. Perjuangan untuk mengikat diri mereka dalam kesatuan adat yang abstrak bukan hal yang gampang. Ketika adat sulit didefiniskan, muncullah kesadaran adanya common enemy  yang harus dihadapi bersama. Dari sinilah adat menemukan jalan untuk dimanfaatkan.

Claudia mencatat bahwa adat bagi orang Katu bukan sekadar romantisme budaya masa lalu belaka. Adat dipakai untuk menunjukkan batas teritori mereka, lalu kemudian adat dimanfaatkan untuk merebut kembali tanah tersebut. Adat akhirnya bukan semata-semata sejarah tentang apa yang dilakukan oleh leluhur, tetapi adat adalah upaya dinamik atas legacy yang ditinggalkan agar memberi manfaat bagi masyarakatnya.

Jika adat bukan sekadar cerita masa lampau, dan karenanya dia membutuhkan pemaknaan yang baru yang dalam bahasa sosilogisnya disebut kontekstualisasi, maka sudah saatnya kopi dinikmati tidak sekadar duduk ngopi, padanya perlu basis pengetahuan yang kuat, agar kopi kita menjadi semakin bermakna dan berkelas.

Makassar, 17 Januari 2019

Judul          : Kopi, Adat dan Modal
Penulis       : Claudia D’Andrea, Ph.D
Editor         : Noer Fauzi
Penerjemah: Budi Prawitasari
Penerbit     : Yayasan Tanah Merdeka, Tanah Air Beta & Sajogyo Institute
Terbit di     : Bogor (Mei, 2013)
Halaman    : 270 halaman

Ida Azuz. Dosen Fakultas Pertanian Universitas Bosowa Makassar.
RESENSI, PANRITA KITTA' - Apakah status facebook bisa dijadikan buku? Pertanyaan ini telah berulang kudengar. Demikian pula dengan soal, layakkah buku demikian diterbitkan? Dalam berbagai kesempatan, selalu mengemuka.

Sebetulnya, bila kita sedikit rajin menyambangi toko-toko buku, kita dengan mudah menemukan beberapa buku yang lahir dari ketelatenan para editor menelisik dinding facebook para penulis.

Tak usah jauh-jauh mencari bukti. Longoklah buku Air Mata Darah (2015) anggitan Sulhan Yusuf, atau Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014) yang dikarang oleh Abdul Rasyid Idris.

Demikian pula dengan pustaka yang sedang berusaha kumamah, Kopistarbuk tajuknya, singkatan dari Kumpulan Opini, Status, dan Racauan Fesbuk. Buah karya Arham Kendari yang diterbitkan Gramedia.

Perihal Arham, jurnalis dengan seabrek side job (seperti pengakuannya) ini, telah menulis dua buku, diterbitkan Gramedia juga, Jakarta Underkompor Sebuah Memoar Garing (2008), dan Dumba - Dumba Gleter Jodoh di Tangan Tuhan (2010).

Namun bila belum cukup juga informasi ini untuk membantu pengenalan akan si Arham. Maka ketahuilah bahwa dialah pelaku utama pembuatan meme "Extra Boss merubah Jongos menjadi Boss..!!" yang viral itu.

Kembali ke Kopistarbuk, dalam buku ini, Arham berhasil menunjukkan dirinya sebagai seorang ferbukers yang tak segan melempar opininya dengan gaya konyol, dan bisa memotret realitas sosial dengan cara unik.

Boim Lebon, penulis bernama lengkap Hilman Hariwijaya, pengarang kisah lawas yang menjadi idola abege zaman baheula, Lupus (1988), menilai Arham sebagai penulis yang "Kepo tapi kreatif, konyol tapi produktif." Sebentuk penilaian yang tak berlebihan.

Di halaman 89 bukunya, Arham menulis:
"Kalo gak bisa memiliki apa yg Anda cintai, cobalah mulai mencintai apa yg Anda miliki."

Wew...keren juga nih khatib Jumatan. Tapi sayang kurang penambahan kata "itu" di ujung kalimat, jadi kesan Golden Ways-nya kurang dapat.

Lihatlah, ketika ia ingin mengatakan betapa klise-nya kalimat seorang khatib Jumat, Arham malah menyebutnya keren, setelahnya, barulah ia berulah menunjukkan bahwa tindak peniruan si khatib kurang sempurna.

Tengok pula, betapa cadasnya ia menggambarkan realitas ketenagakerjaan di negeri ini. Maaf bila kutipan dari halaman 168 buku ini agak panjang, silakan menyimak:
Syahdan, tersebutlah sebuah negeri antah berantah yang indah dan romantis, negeri yang disinyalir sebagai bagian dari Benua Atlantis. Negeri yang membuat gemas bangsa Eripa di masa lalu. Juga membuat repot Unesco atas klaim demi klaim bangsa Melayu. Negeri di mana tanpa berguru ke sekolah Hogwarys pun tongkat layu dan batu bisa disulap jadi tanaman.



Tapi ironis... Belakangan negeri ini lebih tersohor sebagai negeri produsen kasus tingkat tinggi, dan pencetak jongos yang mumpuni. Ribuan tenaga kerja siap siksa, diekspor setiap tahunnya. Stand by untuk dikeplak-keplak majikan bahlul. Hampir setara dengan banyaknya tenaga kerja intelektual yang siap mengeplak-ngeplak harga diri bangsa,  menghamba pada lembaga donatur. 

Sebagai sebuah karya, Kopistarbuk pun tak lepas dari kekhilafan, terutama dengan munculnya tema yang garing nan basi. Terkadang lontaran status yang ditulis Arham adalah parafrase dari lelucon yang sudah amat tenar. Lihat postingan di halaman 46.

Ponakan gw iseng banget nanya ke bapaknya berapa biaya yang dibutuhkan untuk menikah. Bapaknya cuma menghela nafas panjang sambil memandang wajah anaknya yang polos. "Entahlah, Nak, karena sampe detik ini Bapak masih terus bayar sama ibumu."

Di era blackberry messenger (BBM) sedang jaya-jayanya, kutipan ini pernah hadir sebagai broadcast berulang yang dibaca oleh para BBMers. Kisah ini juga divisualisasi dalam salah satu episode MOP Papua yang tenar, Epen Cupen.

Longok pula postingan di halaman 47, saat Arham memposting perihal hanya malam-malam yang berawalan S yang dibolehkan melakukan hubungan suami istri.  Lalu solusinya adalah mengganti nama hari menjadi berawalan S,  seperti Jumat menjadi Sumat.

Bukankah cerita ini telah tersuar dengan beragam versi di tengah khalayak? Lagi pula, versi si Arhan tak lebih elegan dibanding versi lain yang beredar.  Meski memang dia mengakuinya di ekor postingan: *Maksa woy*.

Tapi walau bagaimanapun, buku ini tetap menjadi spesial buatku, karena dia adalah hadiah dari sebuah pertemuan pintas kemarin (Kamis, 06/09/2018) siang di Pelataran Balaikota Malang dengan seorang kawan lama.

Ya, buku ini kuperoleh sebagai kenangan persuaan dengan Ika Farihah Hentihu, seorang jurnalis (Sekretaris Redaksi wartasulsel.net); blogger; traveler; akademisi (dosen dan mahasiswa sekaligus); pun pecinta budaya dan sejarah Makassar.

Selain itu, buku ini kian berkesan dengan terpampangnya nama Tsurayya Zahra pada halaman 230, seseorang yang juga kukenal sebagai seorang jurnalis (Pimpinan Redaksi jurnalpublik.com); aktivis; politisi; jua ibu rumah tangga.

Nama kedua perempuan ini menjadi semacam agunan bahwa buku ini, tak sekadar layak, juga enak dibaca. "Saya tak berhenti ngakak ketika membaca buku itu," kesan Daeng Te'ne, demikian Ika Farihah lebih senang disapa.

Maka kubacalah buku setebal 240 muka ini sepanjang perjalanan selama di Malang, dan dalam perjalanan dari Malang ke Surabaya. Walhasil, aku memang bisa menghalau kantuk dengan tawa yang gelak.

Judul               : Kopistarbuk (Kumpulan Opini, Status, dan Racauan Fesbuk
Penulis           : Arham Kendari
Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama (2014)
Tebal              :  240 halaman

Muhammad Kasman. Penikmat buku gratis, menetap di pinggiran Makassar.