RESENSI, PANRITA KITTA' -
Menulis cerita dengan pesan yang padat,  namun tak sampai membuat kening berkerut dibuatnya, adalah salah satu kelihaian Dul Abdul Rahman. Kisah-kisah yang dibabar oleh lelaki dari Bikeru, Sinjai Selatan ini, jauh dari kesan menggurui. Bahkan, tak jarang, pembaca membenarkan apa yang diwartakan dalam kisah gubahannya. Mungkin, salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah, karena selain sebagai penulis, Dul pula adalah seorang akademisi. 


Seperti Sabda Laut, novel yang terbit di Yogyakarta sejak 2010 silam, Dul kembali menunjukkan kepiawaiannya sebagai seorang pencerita. Sejak di halaman pertama, kita sudah dibetot untuk mengikuti jalan ceritanya yang mengalir melalui kisah hidup Samad menempuh pendidikan di SMP Negeri 15 Makassar. Putra nelayan yang saban malam menemani ayahnya, Daeng Rewa mengarungi pesisir Barombong, sejak dari muara Je'neberang.


Dengan apik Dul menggambarkan semangat Samad untuk terus bersekolah, meski ayahnya hanya seorang nelayan tangkap. Hal itu juga ditopang oleh ayahnya yang begitu yakin bahwa dengan pendidikanlah, seseorang bisa memperbaiki nasib. Untuk menegaskan keberpihakan, Dul menghadikan Daeng Bollo sebagai tokoh antagonis dalam konteks penolakannya untuk terus membiarkan anaknya bersekolah.


Lihatlah, bagaimana kelihaian Dul menyisipkan kelong Makassar dalam nasihat Daeng Rewa kepada anaknya, Samad. Manna majai tedonnu, mattambung barang-barannu, susajakontu, punna tena sikolanu [meskipun banyak kerbaumu, bertumpuk barang-barangmu, engkau akan susah juga, jika tidak berpendidikan]. Atau pesan ayahnya yang mengikuti gaya Jenderal Nagabonar, tokoh yang diperankan oleh artis kawakan, Deddy Mizwar. Nagabonar hadir dalam bahasa Makassar, "Kamma-kamma anne, punna tena sikola, apa nakana linoa [Hari ini tak sekolah, apa kata dunia].


Maka anak siapa yang tak bakal rajin menempuh pendidikan? Pantaslah si Samad begitu bersemangat ke sekolah, sambil berdendang riang, Manna bosi manna rimbuk/ Battujak ri sikolangku/ Manna maklakro/ Gunturuk ta kujampangi/ [Biarpun hujan dan badai menghantam/ aku tetap pergi ke sekolah/ meski guntur bersahutan/ aku tetap tidak peduli]. Apalagi, dengan ciamik, Dul meramu cinta monyet beraroma platonis dari Samad ke Subihawati, anak Haji Daeng Manaba yang selain manis, juga selalu menjadi juara kelas.


Dul menyempurnakan karakter tokohnya yang merepresentasikan kesadaran literatif mumpuni, dengan menambahkan cap pecinta buku pada Samad, terutama buku-buku puisi dan (tentu saja) buku-buku cinta di perpustakaan sekolah. Oh ya, Samad juga digambarkan sebagai pengutil buku perpustakaan, prinsipnya, "Daripada dijadikan sampah, lebih baik aku mengambilnya saja."


Agar pembaca tak bosan dengan melulu pesan-pesan pendidikan, Dul memperkaya kisah hidup si Samad dengan perjuangan menjadi lelaki pengejar cinta. Demi harapan agar cintanya berbalas tepuk, Dul rela menempuh jarak berbilang kilometer dari Barombong ke Panciro hanya untuk menemui seorang penjual nasi kuning bernama Daeng Asmara. Tak lain, tujuannya adalah berburu mantra pejinak bagi Subihawati.


Namun rupanya, Daeng Asmara tak mewariskan jampi, melainkan sebuah botol imut berisi cairan kekunging-kuningan yang merendam beberapa benda. Dengan detil Dul menguraikan: jintan hitam bermakna kesuburan, kapas merupakan simbol kelembutan, dan sebatang jarum sebagai simbol lelaki. "Jarum ini bisa menancap dan menusuk jintan-jintan dan kapas karena ia berdiri keras dan kuat," terang Daeng Asmara.

*     *     *


Seperti novel-novelnya yang lain, semisal Pohon-Pohon Rindu dan Daun-Daun Rindu, dalam Sabda Laut, Dul tak luput menyajikan humor segar, namun tetap menjadi sebagai sarana transformasi nilai etika. Lelucon yang disajikannya adalah kebiasaan-kebiasaan sederhana yang saban hari dilakukan anak-anak di Sulawesi Selatan. Ornamen ini membuat novel ini terasa hidup dan membumi.


Simaklah saat Samad mengantar Subihawati ke rumah salah seorang gurunya, Pak Slamet Sunoko, usai magrib. Samad memanfaatkan peluang itu untuk meramu aktivitasnya menjadi semacam kencan dadakan. Tentu saja, semua atas dukungan Sapri --putra Daeng Bollo yang awalnya begitu anti pendidikan, dan juga Sulham, sahabatnya yang lain. Sore sebelum kejadian, mereka menyusun rencana dengan matang. 


Saat meninggalkan rumah Pak Slamet di kompleks SMP Negeri 15 Makassar, mentari sudah lama sembunyi, gelap merajai angkasa. Rumah kosong di sekitar sekolah yang terkenal angker dan menjadi hunian dua hantu lokal bernama poppo & parakang, terlihat kian suram. Perlahan Samad dan Subihawati berjalan beriringan dengan terap menjaga jarak. Tak lama, dari arah kegelapan, terdengar suara berbunyi, "Po... Po.. Po... Poppo.."


Mendengar suara itu, Subihawati ketakutan,  sementara Samad tersenyum gembira, sebab rencananya mulai berjalan. Perlahan, Subihawati mendekat, bahkan saat terdengar bunyi keempat kalinya, Subihawati telah merangkul Samad yang balas merengkuh dirinya dalam pelukan. Rupanya, Samad, Sapri dan Sulham sengaja menakut-nakuti Subihawati agar lengket ke Samad, dan berhasil.


Sayang, keberhasilan Samad berangkulan dengan Subihawati, harus dibayarnya dengan peristiwa kerasukan di kolong rumah kosong depan sekolah. Dalam kondisi tak sadarkan diri, Samad merasa didatangi oleh Poppo, bahkan berteriak-teriak menyuarakan "Poppoooooo." Setelah peristiwa itu, Samad bergegas mentraktir Sulham dengan dua mangkuk coto sebagai bayarannya berpura-pura menjadi poppo tempo hari. 


Dalam novel setebal 200an halaman ini, Dul betul-betul menyerap spirit dari laut yang menjadi pondasi karakter generasi pesisir semacam Samad, Sulham, Sapri, dan tentu juga Subihawati. Di laut memang ada badai dan gelombang, tapi di sana juga semangat yang menggelora, dan sabda-sabda laut yang menjadi penuntut dalam mengarungi samudra kehidupan. Lalu Dul, berhasil menulisnya dengan baik. 


Melalui novel ini, Dul mengukuhkan konsistensinya pada tema-tema berbasis lokalitas, Burhanuddin Arafah, seorang profesor dalam kesusastraan, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unhas kala novel ini menemui pembaca, berkata begini, "Di novel Sabda Laut ini, Dul Abdul Rahman tetap bertahan pada ciri khas kepenulisannya, penuh dengan nuansa local wisdom." Bukankah ini menjadi jaminan betapa menariknya buku ini? 


Judul: Sabda Laut

Penulis: Dul Abdul Rahman

Penerbit: Penerbit Ombak, Yogyakarta

Tahun : 2010

Halaman: vi + 202 hal, 13 x 19 cm


RESENSI, PANRITA KITTA' -
Kini, rasa penasaran saya sudah terjawab, pada isi buku yang bersampul merah maron tersebut. Novelet yang mengambil latar masa kolonial Belanda, ditulis begitu sangat apik. Meski hanya sebuah novelet, tapi diceritakan dengan begitu lugas. 

Sebagaimana disebutkan, bahwa kehidupan sang tokoh terjadi setelah kehidupan Max Havelaar atau Multatuli. Kemudian berakhir pada tahun 1879. Tepat saat Kartini lahir (hal. 1)

Pada tahun-tahun perjalanan kehidupan Karti, si tokoh utama, sedang berlangsung politik etis yang diterapkan oleh pemerintah Hindia-Belanda pada bangsa-bangsa jajahannya.

Meski demikian, tidak semua orang dapat merasakan politik etis tersebut. Jelata yang telanjur menjadi budak, selamanya menjadi budak. Sementara bagi kaum priyayi, bangsawan, hanya kaum Adam saja yang bisa merasakan politik balas budi atas kebijakan ratu Wilhelmina itu. Sedangkan kaum hawa, seperti rakyat kebanyakan. Terutama yang masih mempertahankan adat budaya Jawa yang kental. Masih tabu jika perempuan berpendidikan tinggi. Dianggap melawat adat dan merusak tatanan yang sudah ada.

Setelah menginjak usia remaja, para putri bangsawan harus menjalani masa-masa dipingit. Tinggal di dalam kamar, hingga datang calon suami yang akan menjemput mereka untuk diperistri.

Demikian halnya yang berlaku pada Karti. Ketika usianya sudah menginjak usia 17 tahun, artinya, ia sudah memasuki masa untuk dipingit. Bahkan, masa itu telah dijalaninya sejsk usia 12 tahun.

Tapi, keinginannya untuk bebas berinteraksi seperti para pria, bersekolah hingga ke Nederland, membuatnya berontak. Di dalam kamarnya, ia selalu merasa gelisah, karena masa-masa itu telah menyiksa batinnya. 

Meskipun kata hatinya hanya bisa ia ungkapkan kepada kakak laki-lakinya serta  Everdine dan Van Edeen yang merupakan teman sekolahnya di ELS. Sementara sebangsanya kaum hawa, ia sama sekali tak mendapat dukungan. Hanya satu yang mendukungnya untuk keluar dari tatanan yang dianggap penjara emas itu. Ialah ibunya, ya ibu kandungnya. Yang hanya menjadi istri yang tak dianggap keberadaannya oleh suaminya, karena bukan dari keturunan bangsawan.

Novelet yang terdiri dari dua bagian ini, menceritakan sosok Karti ketika berada di Neraka Emas dan Neraka Besi. 

Neraka Emas sendiri merupakan istilah bagi kehidupan yang dijalani oleh Karti saat masih dalam pingitan ayahandanya. Sedangkan Neraka Besi, situasi yang dialami oleh Karti saat nekat melarikan diri dari rumahnya. Yang menjumpai dan mengalami situasi yang tidak jauh berbeda dengan yang dialaminya saat berada di Neraka Emas

Tokoh Karti dalam novelet ini diceritakan sebagai perempuan yang tangguh, pemberani dan tak mudah menyerah. Meskipun nyawa sebagai taruhannya. 

Hal tersebut dapat dilihat saat dia nekat melarikan diri, ketika malam persiapan acara pernikahan yang tak dikehendakinya dengan seorang bupati Rembang. Juga ketika bersembunyi di Batavia, menjadi buron ayahnya sendiri, ancaman dan gangguan-gangguan yang didapatkannya tak sedikit pun menyurutkan langkahnya, hingga pulang kembali ke rumahnya, menuruti nasihat Raden Mas Radityo, kakaknya.

Teror dan ancaman yang mengelilinginya tak membuatnya menyerah pada situasi, bahkan kehilangan seorang teman yang memercayainya selama ini sekalipun, tak menyurutkan langkahnya. Tujuannya hanya satu, memperoleh hak-hak yang sama dengan kaum perempuan di luar sana. Seperti sosok perempuan-perempuan yang menjadi inspiratornya, Pundita Ramabai, pejuang wanita dari India, Sri Ratu Wilhelmina, seorang perempuan kekasih Dewa, dan Mathilda Newport, Joan of Arch dari Liberia. (hal. 9)

Dia memang perempuan yang lembut, tapi tak membuatnya menjadi manja, tekadnya telah bulat, cita-citanya untuk memajukan kaum perempuan sudah diyakini sepenuhnya dalam hatinya. Seperti pesan terakhir ibunya sebelum mereka berpisah. "Perempuan Hindia Belanda harus menyadari kebodohannya." (hal. 30)

Dalam buku yang ditulis oleh Mayon Sutrisno pada 2001 ini, menggambarkan pula keadaan pribumi hidup di masa kolonial, menjadi sapi perah bagi bangsa penjajah di satu sisi, juga menjadi budak bagi tuan tanah  bagi para penguasa setempat, yang tunduk pada pemerintahan kolonial.

Memang novelet ini cukup ringkas untuk menceritakan seluruh kehidupan Karti, hingga ia menggapai cita-cita yang diperjuangkannya. Tapi, bisa menjadi referensi bagi generasi yang hidup di zaman ini, bahwa selain R.A. Kartini yang lazim didengar dan diperingati setiap tahunnya, ternyata ada perempuan lain yang juga bisa menjadi inspirasi.

Pertanyaan saya setelah membaca novelet ini, benarkah Karti, tokoh yang nyata? Atau ia hanya fiktif belaka? Seandainya ada buku biografinya yang lebih lengkap dari novelet ini. Sungguh saya penasaran ingin membacanya.

Judul: Hidupku Sesudah Max Havelar- Neraka Emas Neraka Besi
Penulis: Mayon Sutrisno
Penerbit: Progress, Jakarta
Tahun : 2001
Halaman: Vi + 101 hal, 23 cm.

Ahmad RusaidiPengajar di SMA Negeri 9 Takalar dan pegiat literasi di Sudut Baca Al-Syifa Bantaeng, Boetta Ilmoe Bantaeng dan Pena Hijau Takalar

RESENSI, PANRITA KITTA’ - Apa yang ditutur dalam Novel  yang berhalaman isi 380 ini??? Demikian tanya yang merajai benak saya saat melihat judul di cover-nya. Beberapa malam saya menggadaikan waktu; menyicil tuk merapal kisah yang tertuang. Sebagai faqir, banyak pengetahuan baru yang kutemui.

Tentu beberan singkat ini, tidaklah dapat merekam utuh konten novel  bergenre true history ini. Mini narasi ini juga tidak dimaksudkan sebagai  resensi ataupun review. Ini sekadar apresiasi sederhana sekaligus eksplorasi kesan, dan yang terpenting adalah cermin diri; adakah membaca dapat memberi makna?

(*)


Calabai sebagai  identitas gender ‘Kawasan Antara’ adalah topik sensitif-sensasional.


Sebagai hasil studi netral atas fakta budaya lokal, Calabai sebagai grand isu paparan terasa menjadi ‘bermutu’. Pepi Al-Bayqunie [penulis] cukup piawai merajutnya menjadi cerita yang disentuh-serempetkan dengan berbagai ‘perkara’ yang menyeruak gaduh; Stigmatisasi berbasis sosial publik dan agama. Setting lokasi di tanah bugis, menjadi satu daya pikat tersendiri bagi saya secara pribadi.


Ini adalah karya, dan teramat layak dibaca-arifi.

(*)


Adalah Saidi, anak lelaki yang tumbuh kembangnya menghadirkan risau-murka bagi ayahnya [Puang Baso]. Alih-alih menjadi ‘lelaki sejati’ sebagaimana pengharapan sang ayah, Saidi kian hari kian gemulai. Tubuhnya memang lelaki, namun tabiatnya perempuan. Sejak Saidi diketahui sebagai calabai [begitu orang menyebutnya], maka derita pun kian membekap hidupnya. Sejak kelas 4 SD Saidi terpaksa meninggalkan sekolah karena tak tahan dengan ledekan kawan-kawannya.


Namun keputusan itu tak serta merta membuatnya lega. Menghabiskan waktu di rumah justru kian membuatnya tersiksa. Sang ayah terus memaksanya untuk tumbuh sebagai lelaki. Setiap waktu Saidi dibebani tugas yang dalam kira ayahnya akan membuatnya menjadi ‘lelaki dengan pengawasan super ketat; menimba air di sumur, mencangkul di sawah-kebun, dll. Bahkan tak jarang Saidi diseret paksa, jika terlihat manja dan lemah.

Saidi sesungguhnya tak menyenangi semua itu, ia akan lebih merasa bahagia jika berada d iarea kerja sang Ibu; menata rumah dan memasak. Tapi ia tak punya pilihan, menuruti keinginan ayahnya, sedikitnya, akan melepaskan dirinya dari amuk amarah lelaki yang menjadi musabab kelahirannya di dunia.


          Baca Juga: Calabai: Menguak Misteri Dunia Antara


Saidi adalah anak yang baik dan berbudi. Hanya satu celanya, ia calabai. Dan cela itulah yang tak dapat diterima sang ayah. Memasuki usia 17 Tahun, tak ada yang berubah. Semua usaha sang ayah menjadikan Saidi ‘lelaki’, nihil. Tak ada otot-otot kekar, sebagaimana ekspektasi Puang Baso. Sang ayah kian meradang. Intimidasi kian gencar, omongan masyarakat juga kian lancar.


Berjuta kali Saidi mendapat hardik sang ayah, bahkan tak jarang Saidi menerima pukulan. Saidi melarutkan segenap dukanya dalam nanar. Menyoal kondisinya dalam gerutu batin berkepanjangan. Kenapa saya harus begini? Demikian ratap Saidi dalam malam-malam panjang.

(*)


Tuhan melaknat lelaki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai lelaki

~HR. Ahmad Ibnu Abbas


Demikian kutipan khatib jumat. Ini bukan kali pertama Saidi mendengarnya, Ayahnya juga lebih dari puluhan kali menimpalinya dengan kalimat serupa disertai dengan momok neraka sebagai muara akhirnya. Dan setiap kali kalimat-kalimat seperti itu disitir, Saidi akan bersimbah keringat. Ucapan khatib yang disertai tatapan sinis jamaah menohok jantungnya.

 ”.....Saidi kikuk, serasa duduk di atas bara. Ia merasa dihakimi. Duduk di tengah rumah Tuhan sebagai terdakwa”

[h. 18].


Bagi Saidi, hanya pelukan hangat Ibunya yang dapat sedikit menawar duka panjangnya. Dan sesekali, jika rumah sedang sepi, Saidi bergegas merangsek ke kamar ibunya; menaburi bedak di pipinya, menggoreskan gincu di bibirnya. Menatap lamat-lamat wajah yang telah didandaninya lewat kaca. Di saat-saat demikian, berkecambahlah bahagia direlung jiwanya. Ia pun tak mengerti, dari mana dan kenapa rasa itu bertumbuh.


Namun bahagia itu tak kan lama, sebab ia secepat kilat akan menghapus polesan bedak dan gincu dari wajahnya, jika radar telinganya telah menangkap sentak kaki menaiki tangga rumahnya. Tak boleh ada jejak yang tersisa, sebab itu bakal mengundang dampratan caci dan pukulan dari sang ayah.

(*)


Saidi seringkali bertanya pada ibunya tentang dilema yang membelitnya. Ia lelah tertuduh sebagai ‘pembawa bencana’. Ia lelah sebab ia sendiri tak mengerti mengapa ia menjadi calabai. Biasanya sang ibu menyambut curah hatinya dengan belaian kasih, menenangkannya dan memintanya bersabar atas situasi yang ada. Bagi Saidi, ibu menjadi satu-satunya yang mengerti akan dirinya.


Satu malam Saidi membatin dan melangitkan keluh kesahnya. Lama ia mengadu dan bertanya, hingga ia terlelap. Tidurnya malam itu ditaburi bunga-bunga mimpi. Yah, mimpi yang tak biasa. Hingga ia terjaga, mimpi itu terus memberati jiwa dan fikirannya.


Mimpi itulah yang menjadi pemicu ia memiliki sejumput nyali memohon restu  ayahnya untuk merantau. Ayahnya setuju, karena baginya meski Saidi tampak gemulai, tetapi ia adalah laki-laki. Dan bagi tradisi bugis, anak lelaki harus berani merantau.


Walau sang ibu sekuat tenaga berusaha mencegah dan tak merela Saidi menjauh dari sisinya. Sebab Saidi adalah anak bungsu sekaligus satu-satunya anak lelakinya. Kedua kakak perempuannya telah berkeluarga dan menetap di kampung sebelah. Tapi ia tak punya kuasa. Pada akhirnya ibu Saidi pasrah dan tak berdaya, sebab ia amat tahu prinsip orang bugis; Taro ada taro gau, toddo puli temmalara (perbuatan harus sesuai dengan perkataan, sekali berniat tak boleh tergoyahkan).


Berangkatlah Saidi dilepas tumpah ruah air mata sang ibu, diiringi doa tulus memohon kepada yang kuasa agar Saidi selalu dalam keselamatan. Puang Baso juga membekali Saidi dengan sebilah badik.


”Bawalah badik ini, ingat nak! Badik ini warisan keluarga kita.  Hanya untuk lelaki”

(h.43)


Kalimat terakhir sang ayah, “Hanya untuk lelaki diucapkan dengan nada tinggi tanpa geletar sedih sedikit pun. Meski kalimat itu terasa amat pedas, tapi Saidi paham.

(*)


Saidi meninggalkan kampung halaman, Lappariaja Kabupaten Bone dalam bimbang tak tentu tujuan. Di setiap simpang jalan Saidi dirundung bingung memilih arah. Tapi, seolah ada kejadian-kejadian mistikal yang menuntunnya. Hingga suatu ketika, dalam perjalanan, Saidi pingsan di jalan akibat lelah dan lemah. Ditolong oleh seorang nenek bernama Sagena, pemilik warung kecil di tepi jalan.


Sebulan lamanya Saidi hidup bersama nenek Sagena yang baik hati. Saidi adalah sosok yang amat tahu balas budi, ia giat mebantu si nenek mengelola warung, hingga berkembang maju. Namun kebersamaan itu tak berlangsung lama, karena keduanya diintimidasi warga. Saidi diminta paksa pergi meninggalkan kampung Pallawa, Maros. Lagi-lagi gegara Saidi adalah calabai.


Begitulah Saidi. Kembali mengembara tanpa arah, dengan membopong luka hati. Hingga tak sengaja ia bertemu seorang pedagang keliling  yang bernama Daeng Maddenring. Pertemuan inilah yang kemudian menjadi babakan atas revolusi nasib Saidi.


Kepada Daeng Maddenring, Saidi lugas  bercerita tentang dirinya termasuk tentang identitasnya yang calabai. Daeng Maddenring tak menyoalnya, bahkan respek padanya. Bahkan ia berkenan mengajak Saidi hidup bersamanya, di Sigeri Pangkep. Menurut Daeng Maddenring, Saidi pasti cocok tinggal di kampungnya, sebab di sana ada komunitas calabai yang dihormati sejak dahulu, mereka dipercaya warga sebagai orang-orang pilihan dan memiliki kemampuan khusus, menjadi perantara makhluk bumi dengan dewata. Mereka dikenal dengan sebutan Bissu.

 

Kalau nasibmu mujur, kamu bisa dilantik menjadi bissu. Alamat itu ada padamu;  kamu calabai tetapi matamu tidak menyala karena birahi. Juga kamu meninggalkan rumah, atas kemauan sendiri, pertanda kamu memiliki ketetapan hati”

(h. 75-76).


Saidi akhirnya tinggal menetap bersama Daeng Maddenring, pedagang yang kemudian mengangkatnya menjadi anak. Mengasihinya sepenuh hati. Bagi Daeng Maddenring, Saidi menjadi pelipur sepi, setelah ia hidup sendiri ditinggal mati sang istri. 


Di Sigeri, di Negeri para Bissu, di kampung dimana calabai diperlakukan sebagai manusia Saidi terus berinteraksi dengan para bissu. Saidi memang berbeda dari calabai lainnya, ia teramat menggandrungi Attoriolong (ritual adat) yang dijalankan para bissu. Ia kerap menyisihkan waktu tuk berguru pada Puang Matoa di Bola Arajang (rumah adat), Ia belajar aksara lontara dan lahap mendedah hikayat budaya leluhur semisal I Galigo. 


Singkatnya, Saidi dalam waktu yang cukup ringkas sampai pada puncak capaian; menjadi pemimpin Bissu (Puang Matoa). Kemampuan batin yang dipunyainya, menjadikan ia banyak dipinang oleh penyelenggara event-event budaya. Menyeberang ke pulau Jawa, hingga bertandang ke mancanegara.

(*)


Bagian kecil yang juga menjadi renung refleksi; adalah ketika Asnawi yang kemudian mengubah nama menjadi Wina calabai, anak tunggal seorang hartawan, dititip orang tuanya pada Bissu karena sudah kehilangan cara menjadikan anak semata wayangnya menjadi lelaki. Dengan harapan asuhan para Bissu dapat menjadikan Asnawi menjadi Ccalabai yang lebih berguna. Wina nyatanya adalah calabai yang akrab dengan dugem.


Suatu kali, berambisi belajar ilmu Naga Sikoi (Pelet jenis aktif) dengan maksud memperdaya dan memikat laki-laki incarannya.

 

Puang Matoa menjawabnya: “Ilmu itu tidak cocok bagimu”

Kenapa? Tanyanya.

“Karena kamu sudah genit, selain itu kekayaan orang tuamu menjadi pelet yang sangat kuat pengaruhnya memikat laki-laki”

(h.254)


Selain struktur dan giat adat para bissu, yang menarik bagi saya adalah kecenderungan dan apresiasi seksual bissu yang turut dieksplor dalam novel ini. Sebagaimana umumnya calabai; mereka tertarik pada lelaki. Tetapi tidak dimungkinkan menjalin kasih dengan lelaki sebagaimana banyak dilakonkan para calabai lainnya. Kenapa? Sebab tugas utama bissu adalah menjaga keseimbangan alam dan dalam ‘teologi’ mereka; Lelaki fisik dengan lelaki lainnya jika membangun hubungan asmara akan merusak harmoni alam.


Maka dalam angan saya; Bissu adalah representasi post gender, dan masuk dalam spektrum studi feminisme kosmologi, dan kajian Tao.  Bagi pemimpin bissu dan wakilnya (puang matoa dan puang malolo) kecenderungan itu kian tertantang, sebab dalam adat, mereka dalam aktivitasnya di-asisteni oleh Toboto (lelaki tulen-belum nikah) yang kebutuhan hidupnya ditanggung oleh bissu itu hingga keharusan penanggungan biaya nikah toboto nantinya yang memiliki masa bakti maksimal 3 tahun.


Ketika Saidi [tokoh dalam novel] menyoal perkara ini dalam sebuah narasi dialog bersama seorang bissu seniornya, lagi-lagi penjelasannya memikat perhatian saya;

Kenapa calabai tidak boleh menikahi laki-laki, Puang” tanya Saidi.

“Sebab menikah bukan semata perkara jiwa, melainkan juga urusan tubuh. Jika kamu menikah dengan Parewa [perkakas] yang sama, keseimbangan alam akan rusak” Jawab Puang Matoa.

“Bagaimana dengan jiwa kita puang; jatuh cinta dan mengingini memiliki lelaki?”

“Cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang berjarak, itulah cinta yang tepat bagi bissu. Memberi dan tidak meminta. Cinta orang tua kepada anaknya tetap suci, karena ada jarak. Tak boleh dilanggar jaraknya  [mengawininya] sebab berakibat pada kerusakan harmoni alam (h. 270-271).


Bagian lain yang yang turut memancing nalar saya, adalah soal pandangan agama terhadap calabai termasuk bissu. Untuk Saidi, sejak ia distempeli sebagai calabai, maka agama kian terasa getir baginya. Meski sedari kecil ia cukup akrab dengan giat keagamaan. Kegetiran itu terasa kian kuat kala ia mengetahui bahwa komunitas Bissu di Sigeri, seringkali mendapat teror dari kelompok agamawan, bahkan dari tuturan seniornya: Bissu pernah diserang dan Bola Arajang dibakar, dan dalam insiden itu satu orang Bissu sepuh yang memilih tetap bertahan di Bola Arajang dibakar hidup-hidup. Belakangan Saidi tahu bahwa ayahnya ternyata juga merupakan bagian dari tim penyerang kala itu. 


Para bissu menjadi mafhum, bahwa agama tidak akan pernah ramah untuk para kaum calabai. Namun, asumsi Saidi begeser, setelah menghadiri sebuah majelis ilmu [Pengajian waria]. Ia bertemu dan berinteraksi dengan Kiai Kusen [pimpinan sebuah pondok pesantren di tanah Jawa] pasca mengisi sebuah event pagelaran budaya di sana. Bahkan Saidi menyaksikan adegan yang tidak lumrah pada moment itu; seorang waria melantunkan ayat suci dengan suara yang merdu. Saidi kian terkesan dengan beberapa narasi Pak Kiai dalam dialog interaktifnya menyinggung isu calabai.

 

Kisah masa lalu di baghdad, konon seorang khalifah sangat membenci waria, hingga mengeluarkan perintah untuk memberantasnya sebab waria dalam pandangannya adalah ‘penyakit sosial’. Alhasil, para waria diusir dan Baghdad bersih dari waria. Anehnya, beberapa tahun kemudian putra sang khalifah tumbuh menjadi waria.

(h.297-298).


Perihal ancaman laknat untuk calabai [yang menyerupai lawan jenis], menurut kiai Kusen bahwa konotasi hadits tersebut adalah ‘Pembatasan Kodrat’; yang sejak awal lahir sebagai laki-laki jangan jadi perempuan, begitu pun sebaliknya.

 

Lalu bagaimana jika kecenderungan pengubahan itu bawaan lahir [naluri]?

Lagi [pandangan Pak Kiai]; yang dilaknat bukan naluri tapi perilaku.

Bagaimana dengan homoseks [Gay]?

Kembali Pak Kiai; “Allah melaknat siapa saja yang melakukan tindakan kaum Nabi Luth”. Kata kuncinya adalah tindakan, bukan perasaan.

Diberi hasrat homoseks, tapi dilarang menikah sesama jenis, ini tidak adil pak kiai?

Lagi-lagi Pak Kiai; adalah special price. Perbedaan itu menjadi peluang. Mereka memiliki ‘kesempatan’ untuk fokus mendekati Tuhan. Sebab konsentrasinya tak lagi dikebiri oleh urusan pemenuhan seksual-material. Banyak ulama Islam yang tidak menikah bukan karena kecenderungan homoseks tetapi karena argumentasi berkonsentrasi pada perkara peng-Abdi-an dan karya. Seperti Imam Nawawi dan Rabi’ah Al-Adawiyah ...(h.297-303)

 

Saidi Sumringah, ada lega bertumbuh di ruang-ruang rasanya.

Kuru’ Sumangek!

 

Siti Naisyah Ibrahim. Seorang guru, menetap di Toli-Toli, Sulawesi Tengah.

 

Sebelum Agustus

 

Dariku untukmu yang hadir sebelum agustus

Halo Mei

Aku ingat betul bincang kita yang pertama

Percakapan tengah malam itu sungguh membekas

Halo Juni

Kita sempat tak bersua

Maaf jika aku terlalu tergesa

Halo Juli

Kamu kembali!

Aku tidak mengerti mengapa semesta membuatnya menjadi indah

Aku senang

Halo Agustus

Awal yang baik untuk kita

Kamu menjadi kamu yang apa adanya

Aku suka itu

 

Sekali lagi, Halo Agustus

Semoga kamu yang hadir sebelum Agustus,

Tidak berakhir di Agustus

----------------------------------------------- 

 

Ingin Ku

 

Semua tampak sangat gelap

Deraian dari mata setiap malam

Ingin menghilang agar merasa baik

Namun bisakah itu terjadi?

 

Begitu takut dengan tatapan orang

Ingin rasanya satu hari tanpa merasakan itu

Semua menatapku kuat

Namu aku hanyalah aku

Rapuh.

 

Adakah cahaya terang untukku?

Ingin rasanya tidur dengan damai untuk satu malam

Ingin rasanya melupakan itu semua

Apakah itu harapan yang terlalu besar?

Kurasa ya.

Dari seseorang yang ingin bebas.

 ----------------------------------------------- 

 

Sahabat

 

Hai sahabat...

Kamu yang berada disana

Ku berharap kita dapat bertemu kembali.

 

Bersamamu...

Melalui hari-hari yang penuh belokan

Berbagi kisah yang selalu ada

Tentang hal yang tak penting hingga hal yang berbau masa depan

Tentang dirimu dan dirinya

Dan masih banyak lagi.

 

Kapankah hari itu tiba?

Aku akan sangat menantikannya

Berharap kau berubah

Tetap menjadi orang yang penuh kekenyolan

Tetap menjadi orang yang penuh kegilaan yang sama sepertiku.

 

Ha.ha.ha.ha....

Tidak biasa aku mengatakan ini

Tapi aku sangat merindukanmu

Wahai sahabatku

 ----------------------------------------------- 

 

Bumi Bukan Bumi yang Dulu

 

Bumiku

Seperti bukan Bumiku yang dulu

Langitnya tak lagi biru, melainkan abu kehitaman

Lahannya tak lagi hijau, gersang yang kulihat

Lautnya tak lagi indah dipandang, sampah memenuhinya

 

Salah siapa?

Harus apa?

Jika bisa berteriak, Bumi akan terisak

 

Aku yang ingin Bumiku yang dulu

 ----------------------------------------------- 

 

Ananda Dwi Kartika, kelahiran Makassar tahun 2004. Saat ini duduk di kelas XI. MIPA SMA Negeri 9 Takalar, memiliki hobi memasak dan punya cita-cita jadi psikolog.

RESENSI, PANRITA KITTA' - Pluralisme agama adalah suatu kenyataan. Denny JA dalam beberapa esainya menyebutkan kurang lebih ada 4.300 agama yang tersebar di muka bumi. Mengapa ada banyak agama seperti itu? Tak lain disebabkan oleh aktivitas pikir dan kelangsungan hidup manusia, yang membutuhkan kreativitas, serta kemampuan untuk menafsirkan kehidupan berdasarkan fakta-fakta yang ditemui di alam.

Hebatnya, agama-agama itu selain punya keunikannya sendiri-sendiri, ternyata cenderung memiliki misi yang sama, yakni meyakini adanya kekuatan yang maha dahsyat di luar alam semesta ini yang dalam bahasa agama disebut Tuhan, serta meyakini bahwa manusia harus mengerjakan kebaikan dan menghindari untuk berbuat jahat, menegakkan keadilan, serta meyakini kehidupan sesudah mati.

Meski tentu ada perbedaan yang tajam dan mencolok, bahkan bertentangan, faktanya agama-agama itu bisa hidup berdampingan. Misalnya --menurut Denny JA-- antara Kristen dan Islam, memiliki pandangan yang bertentangan satu sama lain tentang sosok Yesus atau Nabi Isa as. Kristen meyakini Yesus mati disalib, sementara Islam meyakini bahwa Yesus tidak mati disalib, melainkan diangkat oleh Allah naik ke langit. Tetapi dengan pertentangan yang tajam itu, Kristen dan Islam bisa hidup berdampingan hingga sekarang dengan mempertahankan kebenarannya masing-masing.

Dalam sejarah, dulu memang terjadi perang suci atas nama agama. Perang Salib merupakan salah satu contoh terbesar bagaimana seruan dari pemuka agama antara Islam dan Kristen berkumandang untuk saling berperang. Tetapi di zaman yang lebih mutakhir, perang antara agama semakin bisa diminimalisir, bahkan dapat dicegah. Seiring dengan semakin majunya pemikiran umat manusia untuk mencari suatu format interaksi yang memungkinkan seluruh pemuka agama bisa bekerjasama satu sama lain, dengan saling mengakui eksistensi masing-masing.

Kemajuan cara pandang itu misalnya dikemukakan oleh James Thomas Johnson bahwa di Barat, perang suci atas nama agama adalah wacana yang ketinggalan zaman, itu adalah isu yang sudah lama ditinggalkan masyarakat Barat yang kini sekuler.

Dalam Islam, kemajuan cara pandang ditandai dengan perkembangan tafsir terhadap ayat-ayat Alquran. Misalnya kata "jihad" ditafsirkan bukan lagi bermakna perang, tetapi dimaknai sebagai upaya yang sungguh-sungguh dalam meraih suatu tujuan. Ada sebuah hadis yang mengamini pemaknaan ini, yakni "...kita kembali dari jihad kecil (perang badar), menuju ke jihad besar (perang melawan hawa nafsu)".

Bagaimanapun, perbedaan (apalagi yang memiliki pertentangan) agama-agama selalu menimbulkan prasangka, soalnya kita meyakini kebenaran yang berbeda-beda. Olehnya itu dibutuhkan suatu pemahaman komprehensif yang dapat membuat kita menjadi lebih dewasa dalam menyikapi suatu perbedaan. Kedewasaan itu dibentuk oleh wacana-wacana tentang pluralisme agama.

Kajian atau diskusi-diskusi tentang wacana pluralisme agama ataukah toleransi umat beragama sesungguhnya sudah banyak. Akan tetapi rata-rata ditinjau dari perspektif sosiologis. Akhirnya praktik toleransi beragama hanya pada tataran dasar-dasar rasa kemanusiaan, bukan ditopang dengan argumentasi agama itu sendiri.

Pada akhirnya, toleransi hanya dipahami sebagai suatu kewajiban warga negara terhadap warga negara yang lainnya, bukan menjadi kewajiban antara satu pemeluk agama terhadap pemeluk agama lainnya. Toleransi semacam ini mudah rapuh, konflik mudah pecah karena dianggap tak ada legitimasi kitab suci yang membenarkan pengakuan akan keberadaan kebenaran (agama) lain. Sebab yang disadari bahwa toleransi hanya didasari pada sistem sosial semata.

Di Indonesia misalnya, penyelesaian konflik antar agama  dilakukan hanya dengan menggelar deklarasi perdamaian. Misalnya konflik Poso diselesaikan dengan deklarasi Malino, demikian Ambon, di Jawa Timur dan lain sebagainya. Tetapi tidak disertai adanya upaya untuk menggali perintah perdamaian yang dilandasi oleh kitab suci itu sendiri.

Kiai Moqsith (Abdul Moqsith Ghazali), seorang cendekiawan muslim Indonesia melihat perlunya kajian pluralisme agama yang berangkat dari kitab suci Alquran. Olehnya dia menulis sebuah buku yang berjudul "Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Alquran", yang sebelumnya merupakan disertasi S3 nya pada program Doktoral bidang Tafsir Quran di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2007.

Dalam bukunya itu, kiai Moqsith mengemukakan ada 3 jenis sikap dalam menghadapi pluralisme agama: pertama, sikap eksklusif, atau sikap tertutup. Yakni meyakini bahwa agamanya adalah satu-satunya agama yang benar. Agama lain dipandang sebagai karangan manusia sehingga tidak pantas dijadikan pedoman. Interaksi terhadap yang berbeda agama hanya dimaksudkan untuk dakwah, yaitu mengajak yang lain agar keluar dari kekufuran, dan pindah ke agamanya.

Kedua, sikap inklusif, yaitu cenderung terbuka atau toleran terhadap agama lain. Tetapi tetap saja menganggap bahwa agamanya yang paling benar. Sementara, umat lain dianggap selamat apabila masih menjalankan prinsip-prinsip ketundukan kepada Tuhan, menegakkan keadilan, dan berbuat baik kepada sesama manusia.

Ketiga, sikap pluralis, bukan saja mengakui adanya agama lain, tetapi juga mengakui bahwa semua agama menuju kepada satu tujuan. Hanya saja masing-masing memiliki keunikan yang khas. Paradigma ini memandang bahwa setiap pemeluk agama berhak menjalankan agamanya dengan bebas dan dianggap setara kedudukannya dengan pemeluk agama lain.

Lebih jauh, kiai Moqsith mengungkapkan bahwa agama-agama semitik (karena memang pembahasan bukunya hanya pada lingkup agama-agama itu, yakni Yahudi, Kristen, dan Islam), sebenarnya memiliki kesamaan misi. Dalam ajaran Yahudi, sebagaimana direkam dalam kitab Perjanjian Lama (Ulangan 5: 1-2 dan 6-2), memiliki inti ajaran berupa 10 perintah (the ten commandement) kepada Musa, adalah sebagai berikut:

"...(1) Mengakui Allah sebagai Tuhan yang Esa...; (2) Tidak boleh membuat berhala (syirik)...; (3) Tidak boleh menyebut Tuhan, Allahmu, secara sembarangan; (4) Selalu mengingat Hari Sabat, dan mensucikan hari itu; (5) Menghormati kedua orang tua; (6) Tidak boleh membunuh; (7) Tidak boleh berzina; (8) Tidak boleh mencuri; (9) Tidak boleh menjadi saksi palsu; (10) Tidak boleh dengki." (Ghazali, 2009: 137)

Sepuluh ajaran yang diturunkan kepada Musa tersebut, juga disampaikan oleh Alquran untuk diamalkan oleh umat Islam, kecuali poin tentang mensucikan Hari Sabat. Misalnya dapat dijumpai pada QS. Al-an'am [6]: 151-152, dan juga pada QS Luqman [31]: 13-19. Khusus yang terakhir disebutkan, walau tak sama persis, ajaran itu terangkum dalam nasihat Lukman kepada anaknya, sebagai berikut:

"... (1) Jangan mempersekutukan Tuhan; (2) berterima kasih kepada ibu bapak; (3) sadar terhadap akibat perbuatan sendiri; (4) mengerjakan ibadah; (5) memperjuangkan tegaknya standar-standar moral masyarakat; (6) tabah; (7) memelihara harga diri; (8) tidak sombong; (9) sederhana dalam tingkah laku; (10) sederhana dalam ucapan. (Ghazali, 2009: 142).

Selain persamaan ajaran, agama-agama semitik juga memiliki kontinuitas atau ketersambungan misi pewahyuan, yang itu dibawa oleh para nabi. Argumen ini didasarkan pada tiga hal. Pertama, sesungguhnya para nabi itu memiliki hubungan kekeluargaan. Dalam lingkup agama semitik, pembawa wahyu berasal dari satu keturunan yang sama yakni Nabi Ibrahim as. Sejumlah riwayat mengabarkan bahwa dari Ishaq bin Ibrahim lahir nabi Yakub, Yusuf, Musa, Syuaib, Ayub, Dzulkifli, Dawud, Sulaiman, sampai kepada nabi Isa as. Adapun nabi Muhammad saw., merupakan keturunan Ibrahim dari nabi Ismail as.

Kedua, para nabi yang muncul belakangan tidaklah membawa syariat atau agama baru. Melainkan melanjutkan dan menyempurnakan ajaran para nabi-nabi terdahulu. Misalnya, kiai Moqsith mengutip Al Qurthubi, bahwa Alquran sudah ada dalam shuhuf (lembaran-lembaran) Ibrahim dan Musa, walau tak sama persis, tetapi esensinya sama.

Selanjutnya Alquran menerangkan dirinya (dibawa oleh nabi Muhammad) bahwa ia datang untuk membenarkan kitab-kitab sebelumnya (QS Yunus [10]: 37), dan sebagai pendukung kebenaran kitab suci yang ada sebelumnya (QS al-Maidah [5]: 48). Diterangkan pula bahwa agama yang disyariatkan kepada Muhammad saw., sebagaimana diwahyukan pada Ibrahim, Musa, dan Isa (QS al-Syura [42]: 13), wahyu diberikan kepada Muhammad sebagaimana juga wahyu telah diberikan kepada Nuh dan nabi-nabi sesudahnya, demikian pula kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yakub, Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman (QS al-Nisa [4]: 163).

Berdasarkan kenyataan ini, sesungguhnya seluruh umat manusia yang menganut agama semitik (Yahudi, Kristen, dan Islam) adalah termasuk ke dalam satu keluarga, yakni keluarga wahyu, atau keluarga Abrahamistik. Hanya saja harus diakui bahwa antara ketiga agama yang termasuk di dalamnya memiliki syariat yang berbeda-beda. Tetapi tetap satu tujuan, yakni Tuhan yang sama, yaitu Allah swt.

Kenyataan itu sebenarnya membuka peluang untuk saling mengakui adanya kebenaran pada masing-masing agama, meski kesemuanya tidak sama dalam tataran pelaksanaan ritualnya. Jika muslim bisa masuk surga, maka non Islam juga bisa masuk surga dengan ajaran agama yang dipraktikkannya.

Kehadiran Islam sebagai agama terakhir di kalangan agama semitik berperan sebagai penyempurna sekaligus mengoreksi penyimpangan pada agama-agama sebelumnya. Kehadiran wahyu terakhir tentu didasarkan pada kedua hal ini --yakni penyempurnaan dan koreksi atas penyimpangan.

Dalam menghadapi penyimpangan terhadap wahyu sebelumnya, kiai Moqsith membagi 3 jenis orang beragama di luar Islam. Yaitu Ahli Kitab, Kafir, dan Musyrik, serta bagaimana Alquran memandang ketiga macam orang ini.

Pertama, ahli kitab. Berarti orang-orang yang mempunyai atau berpegang teguh pada kitab. Konsep ahli kitab pada dasarnya merupakan pengakuan akan adanya pemeluk agama di luar Islam, yang memiliki kitab yang diturunkan kepada nabi-nabi terdahulu. Kiai Moqsith mengutip pandangan berbagai ulama sehingga berkesimpulan bahwa ahli kitab yang dimaksud sekurang-kurangnya adalah pemeluk agama Yahudi dan Kristen. Adapun pendapat yang mengemukakan lebih dari itu, adalah khilafiyah, tergantung kecenderungan teologis dan konteks geopolitik tempat si penafsir tinggal.

Terhadap ahli kitab, kiai Moqsith --dengan mengutip beberapa sumber-- menuturkan bahwa terdapat seruan di dalam Alquran untuk berupaya mencari titik temu antara muslim dan Ahli Kitab; Alquran juga menginformasikan bahwa di kalangan ahli kitab tidak semuanya baik, adapula diantara mereka yang jahat atau zalim; Alquran menyerukan agar berbuat baik terhadap Ahli Kitab; Alquran membolehkan pula kepada umat Islam untuk bersedekah atau memberi bantuan kepada non Islam; para ahli kitab juga selamat dan beroleh pahala, apabila mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian, sesuai dengan yang tertera pada QS al-Baqarah [2]: 62, dan juga pada QS Ali Imran [3]: 199.

Kedua, Kafir. Pengertian kafir paling minimal dalam pandangan kiai Moqsith adalah tidak bersyukur (kufur). Kafir bisa juga berarti lawan dari iman. Terkait dengan perilaku, kafir memiliki pengertian yakni orang yang tidak memiliki kepedulian sosial, atau gemar melakukan kezaliman.

Tetapi makna yang paling cocok untuk disematkan kepada non Islam adalah ingkar. Orang kafir berarti juga mengingkari ajaran Tuhan, mengingkari ajaran nabi, serta mengingkari kitab suci. Pada tataran tindakan sosial, menghalangi orang dari jalan yang benar juga adalah kafir.

Terkait pandangan Alquran --seperti menurut kiai Moqsith, kafir ada empat jenis: (1) Kafir zimmi, yakni kafir yang tidak memerangi orang mukmin. (2) Kafir harbi, yakni orang yang memerangi orang mukmin. Nampaknya, masih banyak orang tidak tahu membedakan kedua jenis ini sehingga cenderung menganggap kafir itu satu saja. Terutama bagi mereka yang memiliki paradigma eksklusif.

Selanjutnya ada (3) Kafir muahad, yaitu orang melakukan kontrak kesepakatan dengan orang muslim untuk tidak saling menyerang, dan adapula (4) Kafir musta'min, yaitu kafir yang meminta jaminan keselamatan kepada orang mukmin dalam waktu tertentu. Kiai Moqsith menjelaskan, bahwa selain kafir harbi, ketiga jenis kafir yang telah disebutkan haram untuk diperangi.

Ketiga, musyrik. Berdasarkan pengertian umumnya, musyrik berarti orang-orang yang menyekutukan Tuhan. Orang-orang ini sesungguhnya meyakini adanya Tuhan, tetapi mereka juga memiliki sesembahan yang lain semisal patung-patung, pohon keramat, kuburan, serta segala hal yang termasuk kategori berhala.

Alquran memandang musyrik sebagai najis (QS al-Tawbah [9]: 28), haram untuk memintakan ampun kepada mereka (QS al-Tawbah [9]: 113), serta adanya perintah untuk membunuh mereka (QS al-Tawbah [9]: 5). Tetapi ada juga ayat Alquran yang meminta umat Islam apabila ada kaum musyrik meminta perlindungan (QS al-Tawbah [9]: 6).

Harap dicatat bahwa musyrik yang dimaksud dalam ayat-ayat Alquran itu adalah kaum musyrik Mekah yang tak henti-hentinya memerangi nabi dan orang mukmin. Terdapat pengecualian, jika musyrik yang tidak memerangi, atau musyrik yang perilakunya tidak sama dengan musyrik era nabi, atau bahkan meminta perlindungan, maka berlakulah permintaan Alquran untuk melindungi mereka.

Ketiga kategori non Islam yang diberikan oleh kiai Moqsith tersebut (yakni ahli kitab, kafir, dan musyrik), sekaligus juga menimbulkan wacana bagaimana hukum menikahi mereka --versi buku ini memuat tentang perkawinan dengan non Islam, sementara versi disertasinya tidak mencantumkan pembahasan itu, demikianlah terang kiai Moqsith dalam pengantar bukunya.

Alquran melarang menikahi orang musyrik (QS al-Baqarah [2]: 221), demikian juga Alquran menyuruh menceraikan orang kafir yang telah dinikahi (QS al-Mumtahanah [60]: 10). Akan tetapi Alquran membolehkan menikahi ahli kitab (QS al-Maidah [5]: 5), sekali lagi berdasarkan definisi dan klasifikasi non Islam yang telah dibuat sebelumnya.

Ulil Abshar Abdalla juga sependapat dengan kiai Moqsith tentang hal ini. Dalam sebuah forum Ia menggunakan argumentasi ini dalam menjawab pertanyaan tentang hukum nikah beda agama dengan menggunakan ketiga definisi itu --ahli kitab, kafir, musyrik-- sekalian dengan dalil-dalilnya masing-masing.

Akan tetapi yang jelas, nikah beda agama dalam konteks Indonesia --tulis kiai Moqsith-- dilarang sejak keluarnya fatwa MUI pusat tahun 1980 tentang haramnya nikah beda agama, untuk dua kategori sekaligus: (1) wanita muslimah dengan lelaki non Islam; (2) lelaki muslim dengan wanita non Islam. Larangan itu diformalisasi dalam Inpres No. 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam (KHI).

***

Sebagai suatu karya, buku "Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Alquran", adalah sumbangan intelektual yang sangat luar biasa. Apalagi buku itu ditestimoni oleh pelbagai cendekiawan muslim besar Indonesia seperti Nasaruddin Umar, Komaruddin Hidayat, Haedar Nashir, Dawam Rahardjo (alm.), Musdah Mulia, Djohan Effendi (alm.), hingga sastrawan sekelas Goenawan Mohamad.

Selain itu, buku ini mengurai persoalan menggunakan pendekatan yang mutakhir; selama ini metodologi yang dipakai dalam mengupas isu pluralisme agama, adalah Qawaidut Tafsir (kaidah-kaidah tafsir), serta Hermeneutika. Sementara buku kiai Moqsith menambahkan satu metode lain yakni Ushul Fiqih, sebagai pisau analisa tambahan untuk membedah tema ini.

Akan tetapi tentu masih banyak hal-hal yang tidak diungkapkan oleh kiai Moqsith. Antara lain, agama-agama di luar lingkup Abrahamistik seperti Hindu, Buddha, Konghuchu, serta kepercayaan lokal masyarakat seperti kejawen. Biar bagaimanapun mereka juga adalah kelompok agama yang harus diakui hak-haknya setara dengan pemeluk agama lain, kebenaran yang mereka sampaikan versi agama mereka juga patut didengarkan dan diapresiasi.

Hal itu bisa dipahami karena tidak adanya keterhubungan narasi antara agama semitik dengan agama-agama itu. Bukan tidak mungkin, cara mengatasinya adalah mencari titik temu persamaan ajaran, ditilik dari kitab suci dan sejarah bagaimana agama-agama itu bisa muncul, dan hubungannya dengan agama-agama abrahamistik.

Satu hal penting yang belum dijawab oleh kiai Moqsith dalam bukunya, yakni bagaimana bentuk penyimpangan atau distorsi atas wahyu pra-Alquran sehingga memicu turunnya wahyu Alquran serta nabi terakhir Muhammad, dan bagaimana status hukum ahli kitab yang mengamalkan bagian-bagian wahyu yang terdistorsi itu.

Sepertinya, hal terakhir ini membutuhkan tempat yang lain, ataukah buku selanjutnya yang bisa menyempurnakan buku kiai Moqsith tersebut, sekaligus mengoreksi bagian-bagian yang keliru dalam buku itu, jika ada.
________________________

Judul buku: "Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Alquran"
Penulis: Abd. Moqsith Ghazali
Penerbit: Katakita, Depok
Tahun terbit: Mei 2009 (Cet. II)
Tebal: xxv + 442 halaman

Saeful Ihsan. Yotuber dan Blogger, menetap di Palu.