Menafsir Sabda Laut

Oleh 16.10.00 0 komentar


RESENSI, PANRITA KITTA' -
Menulis cerita dengan pesan yang padat,  namun tak sampai membuat kening berkerut dibuatnya, adalah salah satu kelihaian Dul Abdul Rahman. Kisah-kisah yang dibabar oleh lelaki dari Bikeru, Sinjai Selatan ini, jauh dari kesan menggurui. Bahkan, tak jarang, pembaca membenarkan apa yang diwartakan dalam kisah gubahannya. Mungkin, salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah, karena selain sebagai penulis, Dul pula adalah seorang akademisi. 


Seperti Sabda Laut, novel yang terbit di Yogyakarta sejak 2010 silam, Dul kembali menunjukkan kepiawaiannya sebagai seorang pencerita. Sejak di halaman pertama, kita sudah dibetot untuk mengikuti jalan ceritanya yang mengalir melalui kisah hidup Samad menempuh pendidikan di SMP Negeri 15 Makassar. Putra nelayan yang saban malam menemani ayahnya, Daeng Rewa mengarungi pesisir Barombong, sejak dari muara Je'neberang.


Dengan apik Dul menggambarkan semangat Samad untuk terus bersekolah, meski ayahnya hanya seorang nelayan tangkap. Hal itu juga ditopang oleh ayahnya yang begitu yakin bahwa dengan pendidikanlah, seseorang bisa memperbaiki nasib. Untuk menegaskan keberpihakan, Dul menghadikan Daeng Bollo sebagai tokoh antagonis dalam konteks penolakannya untuk terus membiarkan anaknya bersekolah.


Lihatlah, bagaimana kelihaian Dul menyisipkan kelong Makassar dalam nasihat Daeng Rewa kepada anaknya, Samad. Manna majai tedonnu, mattambung barang-barannu, susajakontu, punna tena sikolanu [meskipun banyak kerbaumu, bertumpuk barang-barangmu, engkau akan susah juga, jika tidak berpendidikan]. Atau pesan ayahnya yang mengikuti gaya Jenderal Nagabonar, tokoh yang diperankan oleh artis kawakan, Deddy Mizwar. Nagabonar hadir dalam bahasa Makassar, "Kamma-kamma anne, punna tena sikola, apa nakana linoa [Hari ini tak sekolah, apa kata dunia].


Maka anak siapa yang tak bakal rajin menempuh pendidikan? Pantaslah si Samad begitu bersemangat ke sekolah, sambil berdendang riang, Manna bosi manna rimbuk/ Battujak ri sikolangku/ Manna maklakro/ Gunturuk ta kujampangi/ [Biarpun hujan dan badai menghantam/ aku tetap pergi ke sekolah/ meski guntur bersahutan/ aku tetap tidak peduli]. Apalagi, dengan ciamik, Dul meramu cinta monyet beraroma platonis dari Samad ke Subihawati, anak Haji Daeng Manaba yang selain manis, juga selalu menjadi juara kelas.


Dul menyempurnakan karakter tokohnya yang merepresentasikan kesadaran literatif mumpuni, dengan menambahkan cap pecinta buku pada Samad, terutama buku-buku puisi dan (tentu saja) buku-buku cinta di perpustakaan sekolah. Oh ya, Samad juga digambarkan sebagai pengutil buku perpustakaan, prinsipnya, "Daripada dijadikan sampah, lebih baik aku mengambilnya saja."


Agar pembaca tak bosan dengan melulu pesan-pesan pendidikan, Dul memperkaya kisah hidup si Samad dengan perjuangan menjadi lelaki pengejar cinta. Demi harapan agar cintanya berbalas tepuk, Dul rela menempuh jarak berbilang kilometer dari Barombong ke Panciro hanya untuk menemui seorang penjual nasi kuning bernama Daeng Asmara. Tak lain, tujuannya adalah berburu mantra pejinak bagi Subihawati.


Namun rupanya, Daeng Asmara tak mewariskan jampi, melainkan sebuah botol imut berisi cairan kekunging-kuningan yang merendam beberapa benda. Dengan detil Dul menguraikan: jintan hitam bermakna kesuburan, kapas merupakan simbol kelembutan, dan sebatang jarum sebagai simbol lelaki. "Jarum ini bisa menancap dan menusuk jintan-jintan dan kapas karena ia berdiri keras dan kuat," terang Daeng Asmara.

*     *     *


Seperti novel-novelnya yang lain, semisal Pohon-Pohon Rindu dan Daun-Daun Rindu, dalam Sabda Laut, Dul tak luput menyajikan humor segar, namun tetap menjadi sebagai sarana transformasi nilai etika. Lelucon yang disajikannya adalah kebiasaan-kebiasaan sederhana yang saban hari dilakukan anak-anak di Sulawesi Selatan. Ornamen ini membuat novel ini terasa hidup dan membumi.


Simaklah saat Samad mengantar Subihawati ke rumah salah seorang gurunya, Pak Slamet Sunoko, usai magrib. Samad memanfaatkan peluang itu untuk meramu aktivitasnya menjadi semacam kencan dadakan. Tentu saja, semua atas dukungan Sapri --putra Daeng Bollo yang awalnya begitu anti pendidikan, dan juga Sulham, sahabatnya yang lain. Sore sebelum kejadian, mereka menyusun rencana dengan matang. 


Saat meninggalkan rumah Pak Slamet di kompleks SMP Negeri 15 Makassar, mentari sudah lama sembunyi, gelap merajai angkasa. Rumah kosong di sekitar sekolah yang terkenal angker dan menjadi hunian dua hantu lokal bernama poppo & parakang, terlihat kian suram. Perlahan Samad dan Subihawati berjalan beriringan dengan terap menjaga jarak. Tak lama, dari arah kegelapan, terdengar suara berbunyi, "Po... Po.. Po... Poppo.."


Mendengar suara itu, Subihawati ketakutan,  sementara Samad tersenyum gembira, sebab rencananya mulai berjalan. Perlahan, Subihawati mendekat, bahkan saat terdengar bunyi keempat kalinya, Subihawati telah merangkul Samad yang balas merengkuh dirinya dalam pelukan. Rupanya, Samad, Sapri dan Sulham sengaja menakut-nakuti Subihawati agar lengket ke Samad, dan berhasil.


Sayang, keberhasilan Samad berangkulan dengan Subihawati, harus dibayarnya dengan peristiwa kerasukan di kolong rumah kosong depan sekolah. Dalam kondisi tak sadarkan diri, Samad merasa didatangi oleh Poppo, bahkan berteriak-teriak menyuarakan "Poppoooooo." Setelah peristiwa itu, Samad bergegas mentraktir Sulham dengan dua mangkuk coto sebagai bayarannya berpura-pura menjadi poppo tempo hari. 


Dalam novel setebal 200an halaman ini, Dul betul-betul menyerap spirit dari laut yang menjadi pondasi karakter generasi pesisir semacam Samad, Sulham, Sapri, dan tentu juga Subihawati. Di laut memang ada badai dan gelombang, tapi di sana juga semangat yang menggelora, dan sabda-sabda laut yang menjadi penuntut dalam mengarungi samudra kehidupan. Lalu Dul, berhasil menulisnya dengan baik. 


Melalui novel ini, Dul mengukuhkan konsistensinya pada tema-tema berbasis lokalitas, Burhanuddin Arafah, seorang profesor dalam kesusastraan, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unhas kala novel ini menemui pembaca, berkata begini, "Di novel Sabda Laut ini, Dul Abdul Rahman tetap bertahan pada ciri khas kepenulisannya, penuh dengan nuansa local wisdom." Bukankah ini menjadi jaminan betapa menariknya buku ini? 


Judul: Sabda Laut

Penulis: Dul Abdul Rahman

Penerbit: Penerbit Ombak, Yogyakarta

Tahun : 2010

Halaman: vi + 202 hal, 13 x 19 cm

Makassar Buku

Komunitas Literasi

Makassar Book Reviu adalah komunitas literasi di Makassar, menghimpun mereka yang menyukai buku dan tergerak untuk membagi hasil bacaannya kepada orang lain.

0 komentar:

Posting Komentar