Mengapresiasi Bukan Berarti Memuja

Oleh 09.19.00 0 komentar

menepis tudingan glorifikasi dari guru Zaid

ESAI, PANRITA KITTA' - Tanggapan guru Zaid terhadap saya dalam tulisan yang berjudul, Glorifikasi Eka Kurniawan dalam Kepala Itho M. dan Saeful, semakin meyakinkan saya bahwa guru Zaid adalah benar-benar seorang guru. Bukan saja guru SMA, tetapi seorang guru kehidupan.

Guru yang saya maksudkan di sini bukanlah guru dalam pengertian hari ini (das sein), yaitu guru adalah sekadar seorang pengajar yang memakai seragam ASN, menyusun RPP, mengajar di kelas, sekaligus aktif mengurus persyaratan sertifikasi guru. Khusus di masa pandemi Covid-19, guru memiliki pengertian tambahan, yaitu segala yang telah disebutkan plus memberi tugas yang dikerjakan dari rumah secara daring.

Bukan, tetapi yang saya maksudkan adalah guru yang selayaknya (das sollen). Yakni guru yang lebih jauh dari sebagaimana adanya, memegang teguh suatu prinsip dengan kokoh. Bahwa pendidikan lebih dari sekadar pengajaran, di dalamnya ada tanggung jawab. Dalam hal polemik EK, guru Zaid memandang karya sastra harus tetap etis, lebih baik disajikan dalam bentuk ontologi kerahasiaan. Bukan sebaliknya, ontologi ketelanjangan akan mengundang kerusakan ekosistem kesadaran.

Tetapi ada hal yang perlu saya klarifikasi atas penilaian guru Zaid terhadap saya, yaitu glorifikasi EK di (dalam) kepala saya. Glorifikasi yang dimaksud adalah semacam memuliakan atau meluhurkan EK.

Sebagaimana yang ia definisikan, "Sebuah sikap hidup yang melupakan konteks ruang dan waktu secara utuh dan holistik". Definisi itu merupakan analogi dari sikap segelintir orang yang memuja rezim orde baru. Kelompok-kelompok ini sesungguhnya muncul di era reformasi ini, yaitu mereka yang jenuh terhadap kebebasan dan merindukan otoritarianisme ala orde baru. Maksudnya penguasa yang tegas, supaya pengelolaan negara tidak kacau balau.

Baiklah, klarifikasi akan saya mulai judul tulisan saya terdahulu, Eka Kurniawan Memang Patut Diapresiasi. Kala kita mengapresiasi seseorang karena kepiawaiannya, tidak lantas menjadikan kita memujanya, atau meluhurkannya. Dalam tulisan saya sebelumnya, saya sudah mengatakan bahwa:

 "Mengapresiasi EK sebagai penulis favorit bukan berarti menjadikannya sebagai pemegang nilai yang harus dijunjung, diikuti, dan dibela habis-habisan. EK di mata para fansnya, tak seperti Bin Baz bagi kaum Wahabi, atau seperti Imam Ali bin Abi Thalib bagi pencinta Ahlulbait. Karena EK bukan datang dengan kebenaran, tetapi dengan talenta, dan kita sadari itu."

Secara pribadi, yang saya kagumi dari EK adalah talentanya, bukan keharusan metode tertentu dalam mengungkapkan realitas: menggunakan ketelanjangan.

Menurut saya, jika suatu karya sudah diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa, seperti novel Cantik Itu Luka, itu menandakan pengarangnya memiliki talenta yang luar biasa. Benar saja, EK membuktikan itu: di luar dari pengungkapan segala yang telanjang, EK memiliki kemampuan yang tidak biasa, yaitu ia mampu menyatukan beberapa tokoh yang berasal dari kurun waktu yang berbeda, tetapi bisa berinteraksi dalam satu zaman: Maman Gendeng datang dari masa pra-kolonial, dari jaman para pendekar; Shodanco datang dari masa penjajahan jepang; Kamerad Kliwon yang datang dari jaman G30S PKI; dan si tokoh utama Dewi Ayu yang hidup di semua jaman.

Singkatnya, apresiasi itu lebih saya maknai sebagai sikap memuji, bukan memuja. Apresiasi paling minimal terhadap karya seseorang, adalah membacanya. Paling bagus kalau bisa meresensi, atau bahkan men-syarah karya tersebut.

Sejauh ini saya pernah membaca cerita eksotis yang lebih ekstrim dari EK, itu sudah lama sekali. Yaktu Cerpen milik Djenar Maesa Ayu yang berjudul, Disusui Ayah. Ada lagi satu yang saya lupa judulnya, yang jelas itu tentang seorang suami yang dianggap sekadar seonggok daging, cerpen itu diceritakan dari empat sudut pandang yang berbeda. Satu cerpen terdiri dari empat bagian, dan setiap bagian menggunakan kata ganti orang dan perspektif yang berbeda.

Saya juga sudah pernah membaca karya Ayu Utami, yang katanya mengandung erotisme hubungan asmara. Tetapi atas kedua macam cerita yang menampilkan diri berciri ketelanjangan ini, yang saya garis bawahi bukan ketelanjangannya, melainkan cara pengarang memahami realitas, kemudian mengungkapkannya dengan bahasa tertentu. Akhirnya kita menjadi tahu, "oh, ada toh yang beginian".

Lagipula, saya tidak harus membatalkan apresiasi saya terhadap EK lantaran membaca karya-karya milik Dee Lestari, Ayu Utami, Leila S. Chudori, Laksmi Pamuntjak, atau yang lainnya. Sebaliknya, saya akan lebih banyak melihat kekhasan dan keunikan dari macam-macam pengarang jika saya membaca semua mereka. Saya tidak harus membuat Dee dan EK bertentangan, atau Ayu dan EK menjadi bersaing.

Apresiasi terhadap karya-karya mereka tidak harus saya letakkan pada "meninggalkan suatu bacaan karena ada bacaan yang lain". Tetapi saya tetap harus mengkritisi dan membandingkan karya-karya yang berbeda, sekadar dalam rangka memperkaya khazanah. Lebih tidak.

Namun, guru Zaid menganggap saya berlebihan dalam menilai EK, terletak pada bagian terakhir tulisan saya. Di situ saya mengajukan EK layaknya intelektual penggerak perjuangan, melalui pendidikan politik. Kemudian guru Zaid mengajukan tiga pertanyaan:

 "1. Apakah apresiasi EK yang dilakukan Saeful merupakan bagian dari pendidikan politik?
2. Apakah menerima sensasionalisme terhadap bahasa vulgar dan telanjang, merupakan inovasi mencerahkan pandangan politik publik Indonesia?
3. Benarkah EK merupakan kelas intelektual yang memiliki visi politik pencerahan bagi kesadaran politik Indonesia?"

Saya tak perlu menjawabnya satu persatu. Karena pertanyaan itu berangkat dari salah paham guru Zaid terhadap pernyataan saya di paragraf terakhir itu. Itu juga--saya akui--karena lupa mendetailkan, sesungguhnya itu apa maksudnya?

Itu adalah pengibaratan, karena Itho sudah terlanjur menghubungkan Pram dan EK dengan komunitas berhaluan kiri, keduanya Marxis. Saya mau bilang, Pram Ibarat mewakili perjuangan proletariat dalam pengertian Marx. Bagi Marx, perjuangan kelas itu mekanis. Pram adalah representasi kaum proletar yang jenuh dengan penindasan itu, dan akhirnya melawan.

EK, bukan representasi proletariat. Di tulisan sebelumnya, saya menyebut EK sebagai Intelektual. Tetapi di situ saya juga menyebut Lenin. Kita kan tahu bahwa intelektual dalam pandangan Lenin adalah orang partai, dan mereka itu berasal dari kaum borjuis. Karena dalam pandangan Lenin, proletariat tidak akan revolusioner tanpa dipimpin oleh partai. Di situlah saya membedakan posisi Pram dengan EK, untuk menepis anggapan, "EK is the new Pramoedya...."

Jadi, sesungguhnya saya tidaklah mengagungkan EK. Hanya sekadar mengapresiasi. Tidak lebih.

Saiful Ihsan. Seorang Blogger dan Youtuber, menetap di Palu.

Makassar Buku

Komunitas Literasi

Makassar Book Reviu adalah komunitas literasi di Makassar, menghimpun mereka yang menyukai buku dan tergerak untuk membagi hasil bacaannya kepada orang lain.

0 komentar:

Posting Komentar