Jumat, 18 Januari 2019

Kopi Bukan Sekadar Ngopi


MAKASSAR, PANTIRAKITTA’ - Seorang perempuan berumur sekira 60an tahun membuka kaleng Khong Guan, mengeluarkan biji kopi yang telah disangrai. Dia mengamati sejenak biji kopi, membaunya, kemudian mengambil semacam cobek batu kecil. Dia mulai menumbuk biji kopi, sambil memastikan api tungku tetap menyala, menunggu air mendidih.

Perempuan berkebaya itu memasukkan kopi yang telah halus dalam hanya dua gelas. Lalu menuangkan air mendidih yang dimasak dengan kayu bakar, dan memberi sedikit gula pasir.
Minumlah, begini kopi yang selalu saya buat untuk Puang Uceng. Hari ini saya bikin lagi dua gelas. Satu untuk saya, satu untuk cucuku. Dia menyodorkan segelas kopi yang asapnya masih mengepul ke hadapan saya. Itu kali pertama saya meminum kopi.

Saya memandangnya lama-lama. Menunggu kalimat lain yang meluncur dari bibir hitamnya. Dia menyeka matanya dengan ujung kebaya.
Di sini, di dapur ini saya sering membuatkan kopi untuk puang Uceng, awweee... kasi'na, hari ini cucuku datang, kubuatkan lagi kopi untukta’, Nak.”

Perempuan itu mengajak saya menyeruput kopi bersama. Kami duduk bersisian di dapur, tempat paling rahasia dan intim bagi masyarakat setempat. Itu kali pertama saya belajar meneguk kopi. Kopi yang disangrai dengan memasukkan beberapa ruas jahe dan sedikit potongan daging kelapa tua sebesar telapak tangan bayi. Sejak itu saya mulai menyukai kopi.

Tetapi pengetahuan saya tentang kopi, hanyalah kopi yang ada di gelas. Saya tidak menyertakan pengetahuan bagaimana kebun kopi dikembangkan, terlebih lagi cara menyeduh kopi yang menjadi wilayah para barista.

Hingga satu masa saya menikmati Jogja tidak sekadar kota wisata. Ketika saya mulai belajar di Jogja, terbukalah banyak kesempatan menimba pengetahuan sosiologis tentang kopi. Juga saya mulai berteman dengan sesama penikmat kopi. Lalu seorang barista bercerita bahwa kopi yang diseduh pada cangkir porselen akan berbeda rasanya dengan gelas kaca, pun akan berbeda rasa dengan yang disaji di canteng, meskipun cara olahnya sama. Hari itu saya menyadari betapa pengetahuan saya tentang kopi sangat tak memadai.

Kesadaran minimnya pengetahuan tentang kopi menyatu dalam keharusan menyelesaikan bacaan sosiologis tentang masyarakat dan pengetahuan lokal mereka, membuat saya melebarkan pertemanan. Teman untuk berdiskusi, teman untuk saling membagi bahan bacaan, dan tak kalah penting adalah teman yang bersedia menampung keresahan tipikal mahasiswa.

Dari berbagai pertemanan itu juga saya mendapat informasi bazar buku atau pameran buku. Ini kesempatan baik bagi saya karena uang beasiswa harus dihemat sedemikian rupa. Lalu sampai pada saat saya mendatangi bazar buku di  Gramedia  Sudirman Yogyakarta. Saya menemukan buku berjudul Kopi, Adat Dan Modal di keranjang buku-murah. Buku ini dijual seharga Rp 15.000. Buku yang diterbitkan pada tahun 2013 melalui kolaborasi tiga lembaga pemerhati masalah agraria yakni Yayasan Tanah Merdeka Palu, Tanah Air Beta Yogyakarta, dan Sajogyo Institute Bogor.

Kopi, Adat dan Modal saya miliki pada tanggal 06 September 2015. Ketika itu saya tinggal di Bogoran Bantul Yogyakarta. Buku ini adalah disertasi Claudia D'Andrea yang ditulis untuk University of California Berkeley tahun 2003.

Claudia menulis disertasi berdasarkan penelitian mendalam pada masyarakat adat Katu di Sulawesi Tengah. Masyarakat Katu berhasil menggunakan terminologi adat untuk mendefinisikan diri mereka yang mana dengan kosntruksi tersebut mereka berhasil merebut tanahnya yang dikuasai negara selama bertahun-tahun. Negara atas nama lingkungan telah mengambil dan kemudian mengusir orang Katu dari kampungnya. Tanah orang Katu dijadikan Taman Nasional, dan pemilik Tanah dilarang menempatinya.

Orang Katu memperjuangkan kembali tanah mereka yang diambil negara tersebut bukan tanpa momentum. Mereka menemukan momen yang pas ketika reformasi 1998 berlangsung dengan dibantu oleh para aktivis masyarakat adat yang tergabung dalam Yayasan Tanah Merdeka.

Pasca pengambilan kembali tanah mereka, orang Katu menggantungkan hidupnya pada empat jenis tanaman; padi, coklat, rotan, dan kopi. Saya mencari-mencari jika ada empat jenis tenaman yang dominan, mengapa kopi menempati kedudukan istimewa sehingga hanya tanaman kopi yang termaktub dalam judul disertasi maupun buku ini.

Saya kemudian mencatat pada indeks kata coklat muncul 26 kali, sementara kopi muncul 25 kali. Gerangan apakah yang dikandung kopi hingga penting untuk dimasukkan sebagai judul buku ini? Saya akhirnya menemukan antara lain bahwa orang Katu secara indigineous memang menanam kopi, bukan coklat. Rotan adalah hasil hutan yang tidak mereka budidayakan di kebunnya. Padi adalah tanaman yang yang baru dikembangkan.

Dari 305 halaman buku yang terdiri dari 7 bab, saya menjadi tahu bagaimana tanah yang hilang dapat diambil kembali. Perjuangan untuk mengikat diri mereka dalam kesatuan adat yang abstrak bukan hal yang gampang. Ketika adat sulit didefiniskan, muncullah kesadaran adanya common enemy  yang harus dihadapi bersama. Dari sinilah adat menemukan jalan untuk dimanfaatkan.

Claudia mencatat bahwa adat bagi orang Katu bukan sekadar romantisme budaya masa lalu belaka. Adat dipakai untuk menunjukkan batas teritori mereka, lalu kemudian adat dimanfaatkan untuk merebut kembali tanah tersebut. Adat akhirnya bukan semata-semata sejarah tentang apa yang dilakukan oleh leluhur, tetapi adat adalah upaya dinamik atas legacy yang ditinggalkan agar memberi manfaat bagi masyarakatnya.

Jika adat bukan sekadar cerita masa lampau, dan karenanya dia membutuhkan pemaknaan yang baru yang dalam bahasa sosilogisnya disebut kontekstualisasi, maka sudah saatnya kopi dinikmati tidak sekadar duduk ngopi, padanya perlu basis pengetahuan yang kuat, agar kopi kita menjadi semakin bermakna dan berkelas.

Makassar, 17 Januari 2019

Judul          : Kopi, Adat dan Modal
Penulis       : Claudia D’Andrea, Ph.D
Editor         : Noer Fauzi
Penerjemah: Budi Prawitasari
Penerbit     : Yayasan Tanah Merdeka, Tanah Air Beta & Sajogyo Institute
Terbit di     : Bogor (Mei, 2013)
Halaman    : 270 halaman

Ida Azuz. Dosen Fakultas Pertanian Universitas Bosowa Makassar.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar