Meneroka Orasi Air Mata

Oleh 10.55.00 0 komentar
RESENSI, PANRITA KITTA' - Kumpulan puisi yang dirajut puluhan tahun oleh Irfan Palippui mengisyaratkan sisi lain dari standar puisi pada umunya. Orasi ini adalah luapan kegelisahan yang jarang diperhatikan atau jarang dianggap penting ditengah masyarakat.

Keberanian memilih tema remeh-temeh adalah perjumpaanya dengan teks keseharian. Tema semacam asbak dan dapur mungkin sebagian dari kita itu tidak terlalu penting namun jika kembali dihayati perjumpaan kita dengannya begitu bermakna. Misalnya, asbak tidak semata jadi saksi atas peristiwa perokok melainkan sebagai proses pertandaan perbincangan keseharian.

Kami memahami orasi di sini semacam rintihan atas berbagai macam persoalan manusia. Begitu kuat kapitalisme bekerja sampai selera semua ditentukan olehnya. Kita tak memiliki selera selain apa yang kapitalisme produksi. Bahkan bahasa sekalipun tak luput dari kepentingan dan selera pasar.

Gaya penulisan konten ataupun teknis kreatifnya keluar dari kemapanan kreativitas. Penulisannya mengambil jalannya sendiri. Kita tak akan menemukan testimoni tokoh dalam buku ini.

Bukan hanya itu, biografi penulispun tak ada. Terus bagaimana mengenal penulisnya? Penulis kelihatannya sengaja. Ia menginginkan pembaca merasa hadir dalam teks tanpa bayangan ketokohan penulis. Hal semacam ini kami maksud kreativitas yang keluar dari pakem kreativitas.

Untuk memahami maksud dari buku ini memang perlu menelusuri geneologis akademis penulis. Perlu mengembalikan teks pada konteks kapan dan di mana teks itu lahir serta bagaimana mendeteksi sepak terjang tokohnya. Tema apa saja saat penulis masih aktivis, sebagai sosen bahkan lompatan disiplin keilmuan.

Hemat kami, terpaan akademis cultural studies memberikan sentuhan kritis yang khas dalam buku ini.

Dalam situasi semacam ini kita mulai merasakan bagaimana cara penulis memancing pembaca untuk mengenalnya lebih jauh. Sehingga bisa saja ketakhadiran tokoh berupa biografi justru cara memperkenalkan dirinya lebih dalam.

Toh, memang kadang yang tak tertulis itu lebih penting dari tulisan itu sendiri. Upaya keluar dari dominasi juga sangat terasa. Penulis mencoba mengangkat beberapa lokalitas. Mulai dari uang panai hingga tokoh emansipatif We Cudai.

Penulis berani berhadap-hadapan dengan populisme dan kemamapanan strukur bahasa. Untuk itu, tulisan ini tidak sedang melayani selera pasar melainkan sedang mendemonstrasikan orasi perlawan melalui teks.

IDENTITAS BUKU

Judul               : Orasi Air Mata
Penulis           : Irfan Palippui
Penerbit          : Phinisi Press Yogyakarta, 2018
Tebal              : 104 halaman

Sopian Tamrin, S.Pd., M.Pd., Staf Pengajar FIS UNM, Direktur Eksekutif Education Corner.

Makassar Buku

Komunitas Literasi

Makassar Book Reviu adalah komunitas literasi di Makassar, menghimpun mereka yang menyukai buku dan tergerak untuk membagi hasil bacaannya kepada orang lain.

0 komentar:

Posting Komentar