Kemerdekaan dan Literasi

Oleh 17.20.00 0 komentar
ESAI, PANRITA KITTA’ - Semarak memperingati HUT kemerdekaan Republik Indonesia tampak di mana-mana. Dengan berbagai macam pernak-pernik dan kegiatan.  Umbul-umbul yang berwarna-warni dengan berbagai ukuran dipajang di halaman-halaman kantor dan rumah, lorong-lorong dan pusat-pusat perbelanjaan dan keramaian pun tidak ketinggalan.

Semua larut dalam satu suasana, suasana kemerdekaan. Pelbagai jenis pertandingan dan lomba pun digelar, mulai dari lomba tingkat RT, RW, desa/kelurahan, kecamatan sampai tingkat nasional. Mulai dari tingat balita sampai jompo pun tidak luput disediakan lomba.

Ada lomba yang sifatnya hiburan, setengah serius sampai pada lomba dan pertandingan yang sangat serius. Semua itu adalah bentuk apresiasi dan ekspresi rakyat Indonesia dalam memperingati kemerdekaan, karena telah lepas dari para kolonialis Belanda dan Jepang.

Kemerdekaan yang diraih dan dinikmati saat ini, adalah buah dari proses panjang dari para pejuang terdahulu, mengorbankan harta, jiwa dan raga. kemerdekaan yang dinikmati generasi hari ini bukanlah hadiah cuma-cuma yang diberikan kum penjajah karena belas kasihannya kepada negeri kita. Tetapi karena memang diperjuang dengan segenap kemampuan yang dimiliki. 

Dalam dokumentasi-dokumentasi yang sering kita dengar, baca dan lihat, para pejuang kita mengadakan perlawanan terhadap kaum penjajah dengan bermodalkan semangat untuk merdeka dan memakai senjata tradisional( bambu runcing, tombak, keris, golok, badik,dan yang lainnya) melawan senjata para penjajah yang sudah canggih dan modern.

Kekalahan memang menghiasi perjalanan panjang perjuangan, tapi di ujungnya kemerdekaan adalah buah yang manis. Akan tetapi, sependek pengetahuan saya, kemerdekaan yang direbut dari kolonialis, tidak hanya diperjuangkan dengan curahan darah di ujung tombak bambu yang runcing, dan keris atau badik yang bertuah. Pun ada juga pejuang bangsa yang melakukan perlawanan dengan bermodalkan pena atau tulisan. Sebutlah beberapa di antaranya, HOS Cokroaminoto, Tan Malaka, Kartini, Bung Karno, Bung Hatta, Buya Hamka, dan lain-lain.

Mereka menulis, tidak sekadar menulis. Mereka menulis untuk melakukan perlawanan dan pemberontakan. Karena dari tulisan-tulisan mereka, bangkitlah semangat dan kesadaran kawula untuk melawan. Bahkan hanya karena tulisan mereka yang tersebar, lalu menyulut pemberontokan.

Akibat dari tulisan-tulisan mereka, ada yang ditangkap, diterungku dan diasingkan, karena dianggap sebagai biang kerok yang melawan terhadap penguasa atau kolonialis saat itu. Para pejuang yang melawan tidak hanya dengan senjata tajam tetapi juga mengandalkan penanya tersebut, sadar bahwa sebab dan akibat dari penjajajahan yang panjang ini adalah kebodohan.

Karena hanya kaum priyayi yang berhak mengenyam dunia pendidikan (bersekolah tinggi). Sementara kaum jelata, hanya wajib dan berhak untuk menjadi sahaya saja. Lalu kaum priyayi yang sadar dan tercerahkan inilah yang melakukan pemberontakan dari kungkungan kebodohan dan adat yang menyesatkan tersebut. 

Sependek pengetahuan saya pula, proses perjuangan yang sangat heroik dengan bermodalkan semangat untuk merdeka dibantu oleh senjata-senjata tradisional yang saya sebutkan di atas, sudah sering ditampilkan di pagelaran-pagelaran peringatan kemerdekaan, dalam bentuk teater atau drama. Dan tiada lengkap rasanya peringatan kemerdekaan itu jika tidak menampilkannya setiap tahun.

Tetapi menampilkan sisi kepenulisan (melek huruf/semangat literasi) para pejuang terdahulu, masih sangat kurang dijumpai, bahkan nyaris tidak tampak. Memang Bung Karno hebat dalam berorasi tetapi saya masih menganggap bahwa gagasannya tentang Indonesia yang dituliskannya dalam Pancasila itulah yang terhebat. Karena lomba untuk menirukan Bung karno dalam berorasi itu sudah sering digelar, tetapi lomba menulis mengamandemen atau mengganti pancasila belum pernah saya dengar atau lihat.

Beberapa film heroik tentang perjuangan melawan Belanda hanya menampilkan sisi kegarangan seorang tokoh menumbangkan pasukan kompeni, juga yang sering dipertontonkan adalah keromantisan sang hero kepada istri atau kekasihnya. Tetapi kemalangannya dalam mengenyam pendidikan, kesulitannya mendapatkan bahan bacaan, atau menulis pikiran-pikirannya dalam penjara, sepertinya sengaja untuk dilewatkan.

Menceritakan kemelekan aksara (literasi) para pahlawan di sekolah-sekolah jika tidak dikatakan tidak ada maka itu dianggap tidak penting, dan jika itu dianggap sesuatu yang tidak penting maka ia tidak akan dianggap ada. Sejarah yang diajarkan hanya menceritakan tahun-tahun kejadian, dan korban yang ditimbulkan. Sehingga para peserta didik hanya akan menghapalkan tahun-tahun dan tokoh-tokoh bersejarah tersebut, tetapi bagaimana dia melalui hidupnya (khususnya dalam mengenyam pendidikan), apa buah pemikiran dan tulisan para tokoh tersebut, dalam memperjuangkan kemerdekaan barangkali minim yang mau mengetahuinya.

Usia kemerdekaan negeri ini memang sudah terbilang lama, tetapi tidak berbanding lurus dengan kemampuan literasi rakyatnya. Problem melek aksara tingkat dasar belum berhasil dituntaskan. Peningkatannya pun sangat lamban. Terbukti dengan beberapa survey yang menyatakan bahwa angka literasi bangsa Indonesia cukup memprihatinkan.

Memang lembaga-lembaga pendidikan di negeri ini tumbuh bak jamur di musim hujan, tetapi belum sepenuhnya menjadikan kegiatan menulis dan membaca sebagai kebutuhan diri dan jiwa yang merdeka. Padahal bangsa yang maju adalah bangsa yang mencintai literasi.

Tulisan ini telah pernah tayang di sini


Ahmad Rusaidi, Pegiat Sudut Baca Al-Syifa, Ereng-ereng – Bantaeng.

Makassar Buku

Komunitas Literasi

Makassar Book Reviu adalah komunitas literasi di Makassar, menghimpun mereka yang menyukai buku dan tergerak untuk membagi hasil bacaannya kepada orang lain.

0 komentar:

Posting Komentar