Minggu, 03 April 2016

AirMataDarah dan Godaan Batu Akik

MAKASSAR, PANRITA KITTA' - Sebenarnya --ini rahasia loh, aku termasuk orang yang tak begitu paham dengan puisi. Jadi kalau ada yang merasa pernah aku ajari bagaimana membuat puisi yang baik, maka itu hanya efek dari kehendakku untuk dibilang hebat dalam dunia kepenulisan. Citra sok tahuku soal puisi juga kubutuhkan untuk melegitimasi kebiasaanku menyusun-nyusun kata dalam bait yang mirip puisi.

Bagiku, semua puisi itu indah, apalagi bila dibaca bersama anak sambil menikmati camilan ringan yang dihidangkan istri tercinta. Aku memang mempunyai kebiasaan buruk, sering berleha-leha di ruang tamu atau teras rumah bersama anak-anakku sambil teriak-teriak mendeklamasikan puisi. Tak peduli apakah intonasi dan volume suaraku sesuai dengan irama puisi yang kubaca, atau tidak.

Maka ketika di sebuah siang, 10 Maret 2015 yang lalu, aku dihadiahi buku sehimpunan puisi bersampul merah hijau dengan judul AirMataDarah oleh penulisnya, Sulhan Yusuf, hatiku berbunga dan bergumam riang, ada lagi tambahan bahan bacaan untuk mengisi waktu soreku. Buku yang berisi puisi-puisi dengan bait yang ringkas dan diksi yang pintas. Memang tepat dibaca di ruang tamu atau di teras rumah, tak terlalu riuh.

Apalagi, menurut Dul Abdul Rahman --novelis yang sudah lama tak kutemui untuk sekedar berbual soal hal ikhwal kepenulisan, buku ini mengajak kita untuk memasuki sebuah rumah: Rumah Kebahagiaan dan Rumah Keabadian. Rumah yang ditumbuhi jejeran pohon rindang yang menciptakan kesejukan. Tentu puisi semacam ini bisa menyejukkan rumahku yang tipe sangat sederhana di sebuah perumahan padat di pinggiran kota yang sesak, dan tanpa ruang terbuka hijau yang memadai.

Kehadiran buku anggitan Bang SulYus --demikian aku menyapa Sulhan Yusuf, juga makin membuatku bersemangat membacakan puisi kepada Aditya Panrita Tenri Angka Daeng Sibali --anak keempatku yang besok akan berusia 4 bulan, saban malam. Aditya punya kebiasaan untuk bermain di waktu malam, dia paling senang diajak bercerita. Dia akan riang bergerak, nyaring bersuara, dan sering tersenyum bila disapa di waktu-waktu itu.

Bila Aditya terjaga, dan mamanya pulas terlelap, maka akan kuraih AirMataDarah dari lemari buku, dan akan kubaca beberapa bait dengan gaya bertutur, 

kutunggu wartamu di masa datang

joloklah bulan
genggamlah surya
lukislah pelangi
cungkillah gunung

barulah kau tergolong:
pemahat masa depan
(Tekad, hal. 161)



Mendengar itu, tangan Aditya menjangkau-jangkau, mungkin tengah memahat masa depan? Atau ingin segera mengabarkan warta masa depannya? Entahlah.

Atau kudaraskan penggal terakhir dari puisi berjudul Penyair (hal. 125). Empat kalimat singkat kubaca dengan suara berdesir, setengah berbisik,



Buah hatiku...
tataplah para penyair itu
dengar dan simak kata-kata mereka
kata yang menerangkan masa.



Mata Aditya tak berkedip, menatapku tajam, seperti bertanya, "Begitu pentingkah para penyair itu bagimu, Tetta? Atau haruskah aku jadi penyair, kelak?" Dan aku hanya tersenyum bahagia, melihat reaksimu.

Tapi diantara 178 halaman yang ada di buku tersebut, aku paling suka memperlihatkan halaman pertama pada Aditya dan para kakaknya. Halaman dimana tertera nama dan tanda tangan, Sulhan Yusuf. Kujelaskan pada mereka bahwa penulis puisi yang sering kubacakan pada mereka itu, adalah suhu yang karib, bukan sekedar hubungan mekanik antara seorang penulis dan pembaca buku.

Oh ya, selain kubaca untuk anak-anakku, AirMataDarah juga berkali-kali kubaca untuk mencoba meresapi beberapa puisi tertentu. Sebab menurut Alto Makmuralto --Direktur The Liblitera Institute, penerbit buku ini, di dalam puisi-puisi lelaki berkepala plontos ini, akan dijumpai kata-kata yang identik dengan dunia para pesuluk. Pernyataan Alto memantik curigaku, jangan-jangan memang Bang SulYus ini adalah seorang pesuluk yang sedang menyamar?

Aku memberanikan diri mencoba mendaras, beberapa puisi yang penggalannya dikutip oleh Alto dalam pengantarnya, selain karena penasaran, juga karena aku merasa mirip dengan Bang SulYus dalam hal kesukaan bermain facebook, dan mendengar nyanyian ngak ngik ngok Koes Ploes --meskipun aku belum sampai pada maqam penggila. Yang jelas berbeda karena aku penggemar Chelsea, bukan Arsenal, dan tak mencandu kopi pahit, lambungku tak tahan kopi sejak beberapa tahun terakhir.

Coba perhatikan yang ini,
ingin kujemur celana dalamku yang berjamur
janganlah sampai biji kehidupanku ikut berjamur
apalagi jika pohon hidupku turut berjamur
yang tak mungkin aku jemur
(Surya, 151)
Puisi yang didaku Alto sebagai puisi mistik, membuatnya hanyut dan menikmati, serta ikut mendesah-sedan karenanya, bagiku tak lebih dari hanya sepenggal kepornoan dalam wajah yang malu-malu. Banalitas ekspresi, terungkap dalam diksi yang dangkal.

Tapi memang demikianlah kiranya seorang penganut suluk Malamatiyah --seperti dakwaan Alto, terkadang mereka mengungkap kebenaran yang dikemas dalam balutan makna yang berlapis. Dan disinilah masalahnya, hanya para pesuluklah yang bisa mengelupas lapis maknanya. Maka aku sebagai seorang pembaca awam hanya bisa terkekeh menertawakan kemesuman penggalan bait dari puisi Surya di atas.

Hal lain yang membuat aku rajin membolak-balik AirMataDarah adalah hasratku untuk menemukan sepenggal dua penggal bait yang bisa dipakai untuk maggombal, dan menebar jala asmara ala generasi unyu-unyu. Ya, siapa tahu bisa dikutip oleh para hight quality jomblo --semacam Fajar Al Ghifary, untuk dijadikan status di facebook dan blackberry messenger, atau untuk bahan musikalisasi puisi pada pentasnya di panggung-panggung cafe. Namun sayang, tak ada bait-bait sedemikian.

Semoga Bang Sulyus bisa memahami kegirangan saya menertawakan diksi celana dalam berjamur, serta biji dan pohon kehidupannya. Maafkan juga kekecewaanku akan ketiadaan kalimat-kalimat gombal ala drama korea dalam himpunan puisi ini. Aku berharap agar Bang SulYus tak mengeluarkan kutukan padaku karena tulisan ini, sebab seperti ungkap Alto, kata-kata yang dilontarkan oleh seorang pesuluk musti selalu mengandung kesaktian.

Seperti ajaran Bang Sulyus, bila sebuah pembicaraan sudah menyerempet soal kelamin, dan gombal-gombalan, itu alamat pembicaraan harus segera dikhatamkan, sebab bila tidak, maka bisa saja kita semua terjebak pada kategori ahlul fitnah wal ghibah. Pun demikian dengan risalah singkat itu. Yang pasti, puisi-puisi dalam AirMataDarah bisa menjadi mantra pelindung dari godaan batu akik yang berkilau.

Muhammad Kasman. Pegiat Komunitas Makassar Book Reviu.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar