RESENSI, PANRITAKITTA' -
Anna adalah tokoh utama dalam cerita 'Dunia Anna, Sebuah Novel Filsafat Semesta' karya Jostein Gaarder. Sebelum lanjut ke Anna. Ternyata penulisnya ini adalah penulis buku best seller 'Dunia Sophie'. Gaarder juga aktivis peduli lingkungan. 

Nah, di cerita Anna ini Gaarder kemungkinan besar mengambil kisah pengalamannya selama aktif di organisasi lingkungan. Pasalnya, dalam buku ini, Anna digambarkan sebagai seorang gadis dengan imajinasi tentang masa depan bumi, khususnya bidang lingkungan hidup seperti menjaga kelestarian flora dan fauna mengalami kepunahan.

Gaarder dalam bukunya ini harus menceritakan dua zaman yang berbeda, tang perasaan dan pengalamannya dituangkan dalam  tokoh cerita, Anna.

Anna di generasinya, merusak lingkungan hidup flora dan fauna sehingga keanekaragaman hayati menjadi sirna. Pada masa generasi Nova yang merupakan cucunya, di mimpinya yang dalam gambaran cerita dia berada di tahun 2082.

Sekira lebih dari 80 tahunan usia Anna. Baru lahir cucunya. Itu dalam mimpinya. Namun dalam mimpinya itu hidup sekali seperti kehidupan nyata. Dan itu yang dirasakan Anna.

Anna bermimpi sebelum hari ulang tahunnya yang jatuh pada tanggal 12 Desember 2012, usianya genap 16 tahun. Ia  memiliki kemampuan melihat masa depannya selama hampir seabad itu.

Kemampuan ini, membuat orang tuanya cemas karenaia selalu bercerita tentang lingkungan. Nah, dibawalah ia ke Benjamin seorang psikiater untuk berkonsultasi tentang apa yang dialami Anna.

Namun saat bertemu dengan Benjamin. Ia malah akrab dan mengetahui apa yang dirasakan Anna selama ini. Yang ternyata sama juga yang di alami anaknya, Ester.

Usai memeriksa Anna, Benjamin memberi tahu ke ibu dan pacarnya bahwa Anna sehat saja, tak ada kelainan. Anna kemudian berdiskusi panjang dengan Jones—pacarnya. Ia bercerita tentang apa yang barusan didiskusikannya dengan Benjamin.

Benjamin memberi usulan agar Anna membuat organisasi yang menjaga lingkungan. 

"Maukah kamu membantuku, sayang" kata Anna. 

"Apa sih yang tak bisa untuk kekasihku" jawab Jones menatap mata Anna. Hal itu membuat Anna semakin dalam cintanya. 

Sementara di lain waktu, Nova kembali meratapi kerusakan lam atas perbuatan generasi neneknya, Anna.

*** 

Serunya lagi, Gaarder mampu membuat dua setting cerita di dua waktu yang berbeda. Di kehidupan nyata, Anna hadir dengan kehidupan mimpinya yang diperankan oleh Nova. Bagusnya, kekuatan ceritanya sama menariknya. Dan terintegrasi dengan baik akan kehidupan sekarang ini. 

Inti dari cerita ini, adalah Anna yang bermimpi tentang kerusakan lingkungan di masa depan. Anna lalu ditantang untuk memperbaiki lingkungan sekarang agar itu mimpinya tak menjadi nyata di kemudian hari. 

Kerennya juga, penulis menawarkan banyak ide lewat cerita ini tentang bagaimana cara untuk memperbaiki bumi yang kian hari emisi karbondioksida menumpuk hingga atmosfer tak kuat menampung. 

Sehingga pemanasan global terjadi. Musim tak menentu dan benua Atlantik meleleh. Itu-itu hipotesis Gaarder dalam novel ini. Bahwa kedepan jika kita tidak menata baik lingkungan hidup kita. Bumi ini secara otomatis akan rusak karena ulah manusia itu sendiri.

***

Judul: Dunia Anna, Sebuah Novel Filsafat Semesta | Penulis: Jostein Gaarder| Penerbit : Mizan | ISBN: 978-979-433-842-1 

Ahmad Abdul Basyir, Pegiat Komunitas Novel Takalar


RESENSI, PANRITAKITTA' -
Novel ini dua hari kubaca dengan hati-hati. Berusaha kupahami keinginan penulis lewat cerita yang ditulisnya. Kusimpulkan bahwa dalam kehidupan sosial masyarakat Mesir pada saat itu memiliki kemapanan konsep patriarki yang tak bisa diubah. 

Penulis berusaha menaruh perhatiannya yang sangat besar untuk menggonggongi konsep patriarki ini dengan dalih kesetaraan gender.

Seperti tokoh perempuan bernama Suad dalam novel tersebut. Suad punya ambisi besar untuk bisa setara dan bisa memimpin kaum Adam. Tapi toh keinginan ini tak bisa ia raih. Bahkan Suad tak takut akan dilecehkan di ruang publik dan domestik meski dikuasai oleh kaum Adam.

"Aku percaya bahwa setiap laki-laki tidak bisa mendapatkan sesuatu dari perempuan melebihi batas-batas yang ditentukan oleh perempuan itu. Sebatas perempuan membuka dirinya, hanya sebatas itu pula seorang laki-laki mendapatkannya." (h. 12)

Artinya, penulis mengajak perempuan untuk bisa survival melawan penindasan terhadap dirinya. Walau kita tak bisa dibendung akan hasrat yang menumpuk di otak kaum hidung belang hingga mengekploitasi libido seksualnya lewat cara pemerkosaan.

Seperti kasus yang terjadi baru-baru ini, yakni seorang guru di boarding school yang menyetubuhi 13 santrinya sendiri.

Karena penulis yang orientasi pendidikannya hukum, kemungkinan besar melihat di Mesir pada saat itu ada kemunduran akan human relationship—antara laki-laki dengan perempuan.

Dan memang pada saat itu, ada perlakuan kepada perempuan yang hanya dijadikan sebagai simbol pengorbanan dalam masyarakat Mesir. Hal ini terjadi karena pandangan kita terhadap perempuan hanyalah objek seksualitas semata.

***

Pada novel ini, Suad ingin keluar dari dominasi laki-laki dengan cara fokus pada pendidikannya dan menyibukkan dirinya sebagai aktivis dengan ikut berbagai organisasi. Suad yang merupakan tokoh utama dalam novel ini, memiliki paras yang cantik, pintar, rajin, dan aktif.

Karena itu, banyak yang ingin melamarnya. Tetapi ia menolak karena ingin mencapai tujuan utamanya yakni bisa jadi doktor dan laku menjadi dosen.

Tapi tak disangka, ia harus jatuh hati sebelum mencapai misinya. Ia terpukau dengan Abdul Hamid. Padahal sebelumnya sudah mengucapkan sumpah serapah.

"Bagiku laki-laki hanyalah sepenggal kisah tentang perasaan yang kubaca sebagai hiburan." (h. 13)

Akan tetapi, Suad harus jatuh cinta sebelum lulus magisternya. Yang berakhir pada pelaminan, yang kelak memiliki buah hati bernama Faizah.

Hamid, tipikal suami yang membebaskan istrinya. Dia pun kemudian memberikan izin Suad untuk melanjutkan studinya hingga mencapai doktor. Anaknya pun terbengkalai. Kini ibu Suad yang mengurusi Faizah.

Suad yang sibuk, membuat dirinya sadar bahwa ia harus mengambil keputusan untuk berpisah dengan suaminya. Suad pun menyeraikan Hamid. Tapi tak lama, Hamid menikah dengan Samirah.

Suad menjanda, ia pun mencapai misinya meraih gelar doktoral. Ia lalu menjadi ketua Organisasi Wanita Karier. Itu berkat dorongan Adil yang merupakan lelaki yang sudah sejak lama menaruh hati kepada Suad.

Suad paham dengan identitasnya sehingga ia tak mau dekat-dekat dengan Adil. Tapi semakin ia jaga identitasnya, maka semakin ia tak bisa menjaganya. Karena saat itu ia pernah berjalan berdua. Tak disangka mereka harus melakukan hubungan intim.

Usai hal itu, Suad berjanji tak akan menemui Adil lagi dan menjauhinya.

Saat menjauh, ada lelaki baru yang mendekat tanpa disengaja. Ia bertemu teman lamanya namanya Rifat Abbasy. Ia bertemu saat mengajak ibunya berobat.

Ternyata Rifat adalah teman semasa kecilnya yang juga lelaki bercerai dengan istrinya. Rifat memiliki kesamaan dengan Suad. Rifat juga fokus pada kariernya di bidang kesehatan.

Menurut Suad, Rifat cocok menjadi suaminya. Karena akan sama-sama mengejar mimpinya sehingga tidak terlalu peduli dengan rumah tangganya. Dan memang terjadi, ia hanya bertemu saat gabut saling merindu yang berakhir dengan senggama.

Tapi karena hal ini, Suad semakin melupakan anaknya dan keluarganya. Jiwa femininitas sebagai seorang perempuan ia lupakan. Yang seharusnya merawat dan mendidiknya namun tidak ia penuhi.

Ia baru sadar ketika mencapai puncak kariernya (saat ia jadi anggota DPR) dan juga saat anaknya harus menikah dengan seorang pria pilihannya sendiri, dengan restu ayahnya, dan ibu tirinya. Sementara ia tak memiliki peran penting dalam keputusan tersebut.

Dan puncaknya ketika ingin mempertahankan karier politiknya. Tapi basis-basis aktivitas mulai kehilangan wibawanya. Usianya juga sudah menuai sementara ia juga masih ingin mempertahankan rumah tangganya yang tak mau gagal lagi.

Makanya, di akhir ia kemudian mengungkapkan bahwa, "Aku tidak menginginkan lebih dari semua itu. Aku telah terbiasa untuk lupa bahwa aku perempuan…." (Hmh. 219)

***

Judul : Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan | Penulis : Ihsan Abdul Quddus | Penerbit : Pustaka Alfabet | ISBN : 978-602-9193-16-9

Ahmad Abdul Basyir, Pegiat Komunitas Novel Takalar


RESENSI, PANRITAKITTA' -
Saat menimang buah karya Anggun Safitri ini kali pertama, lalu sekilas melihat judul yang dipilih, 'Dipeluk Angin', terlintas gambaran kisah mendayu-dayu, penuh drama cengeng, serta cerita yang akan menguras air mata pembaca serupa menonton drama Korea atau film-film Hollywood. 

Apalagi ditambah blurb yang mengutip, 'Cinta kadang datang di waktu yang tidak tepat. Kadang datang pada orang yang salah', makin sempurnalah gambaran itu. Bahwa buku ini akan mengumbar romantisme berbalut religiusitas, atau gombalan maut remaja yang lagi bucin

Tapi setelah membuka lembaran-lembaran isi, dan membaca beragam lakon yang tersaji, gambaran itu buyar berkeping-keping, kenyataan begitu berbeda dari ekspektasi. Benarlah kata pemeo, 'Don't Judge A Book By Its Cover'. Ya, jangan langsung menghakimi kualitas sebuah buku dengan hanya melihat sampulnya.

Gambar siluet wanita dengan lanskap pantai yang temaram, kepakan sayap camar di langit yang berawan, lambaian dedaunan yang disamarkan, dengan dominasi warna kelabu, tak selalu menandakan bahwa situasi benar-benar muram. Di sana justru tersimpan misteri terdalam gejolak jiwa yang kadang tak tertebak.

Dalam cerita 'Dipeluk Angin' yang lalu dipilih menjadi tajuk kumpulan ini, Anggun berhasil menghadirkan seorang perempuan tangguh dan tak ragu mengambil keputusan terkait dengan akhir hidupnya. Ia akhirnya memilih membiarkan tubuhnya dipeluk angin dan raganya didekap arus demi merengkuh kesendirian dan kesepian. 

Perempuan itu seperti takluk dalam upaya mempertahankan rumahtangganya yang dimulai sejak dini, mengakhiri kebersamaan dengan sang suami, tapi enggan menerima uluran tangan lelaki lain yang menjanjikan cinta nan meruah. Sebuah liku hidup yang tak datar.

Sebagai penulis cum aktivis perempuan, Anggun berhasil mengungkap secara gamblang sudut pandang perempuan merdeka dalam tokoh-tokohnya. Tengoklah pemberontakan Alia (Alia dan Bayangan yang Mengikutinya) yang lebih memilih kebebasan di sekolah daripada terkekang di rumah, meski akhirnya di sekolah pula yang merenggut itu darinya. 

Atau perlawanan Lisa (Bebas) pada Rian -suaminya, bapak dari kedua anaknya, digambarkan dengan gamblang, bahkan begitu berani menggenggam pisau dapur sebagai persiapan bila suaminya mencegah pilihannya untuk meninggalkan rumah. 

Longok pula keberanian Karin (Jam Tangan Merah Muda) merengkuh getirnya hidup dengan mencintai dan menerima cinta dari lelaki beristri dan punya anak. Mengenai hal ini, Karin berucap lirih, "Ia tetaplah milik istri dan anak-anaknya yang setia menunggunya pulang setiap senja." 

Serta ketegasan Rina (Pernikahan yang Batal) menganulir pernikahannya dengan seorang lelaki yang mencarinya kemana-mana, demi menunjukkan keberpihakan pada kakeknya, seorang lelaki tua yang diterungku berbilang tahun tanpa pernah tahu kesalahan apa yang telah diperbuatnya. 

Demikian pula dengan tokoh perempuan lain yang dikisahkan Anggun dalam ke delapan belas cerita dalam kumpulan ini, didominasi oleh karakter perempuan yang berani bersikap cadas, keluar dari pakem gambaran perempuan baik-baik, penurut, dan mungkin salehah.

Sayang, berbilang cerita yang dibabar Anggun akan membuat pembaca yang begitu mencintai kehidupan yang harmonis, keluarga yang bahagia, jalan hidup yang happy ending, akan kecewa dan meradang. Kehidupan tokoh-tokohnya selalu diposisikan pada titik nadir kegelisahan dan derita yang tak biasa. 

Alia yang begitu menyukai sekolah, malah dilemparkan ke peristiwa silam yang hendak dilupakannya, kisah yang mengorek trauma di jiwa mudanya. Trauma yang lalu membuatnya linglung dan bahkan merenggut nafas terakhirnya. 

Lisa memilih mengakhiri rumah tangga yang telah memberinya dua orang anak, Karin yang bersetia hanya menjadi perempuan pilihan lain daripada merusak rumah tangga lelakinya, serta Rina yang memilih menolak lelaki yang begitu mendambakannya menjadi istri. 

Alih-alih menyenangkan hati pembaca cibi-cibi, Anggun memilih untuk mewartakan, melalui cerita-cerita gubahannya, kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan dihadapi perempuan dalam hidup. Kejadian yang selalu berusaha dihindari, bahkan dalam kisah sekalipun. 

Anggun memberi mulut untuk bersuara pada perempuan yang selama ini dibisukan oleh peradaban lelaki nan 'baik-baik saja'. Anggun menerabas jalan bagi keluarnya kegelisahan, meski ia tak memberi pilihan jalan keluar, semua dibiarkan mengalir entah menuju ke mana. 

Itu menunjukkan bahwa penulis kelahiran Banggai 4 Mei 1992 ini, tak berkehendak mendikte pembacanya, bahkan terlihat enggan mengarahkan tokoh-tokoh rekaannya. Pembebasan bagi perempuan yang diberikan oleh Anggun pada tokoh-tokohnya, begitu total.

Atau bisa juga, tokoh-tokoh itu merupakan altar ego seorang Anggun. Seorang perempuan yang berhasrat tinggi pada kesendirian dan kesepian. Seperti narasi ini, "Semua berakhir. Aku kembali sendiri dan sepi". Apa benar demikian? Hanya Anggun yang bisa menjawabnya, dan tentu saja, kita para pembaca bebas mempertanyakannya.

Judul: Dipeluk Angin  | Penulis: Anggun Safitri | Penerbit: CV. Cleopatra Mandiri | Cetakan: Pertama, Desember 2020 | Jumlah Halaman: 179 | ISBN : 9-786236-016374

Kasman McTutuFounder Makassar Book Review




RESENSI, PANRITAKITTA' -
Di blantika kepenulisan tanah air, terutama di Sulawesi Selatan, Badaruddin Amir bukan nama baru. Esai, puisi dan cerpen-cerpennya, mudah ditemui di berbagai media, baik skala lokal, maupun skop nasional. Ketelatenannya melahirkan karya dengan latar belakang daerah  di Sulsel, membuat karya-karyanya gampang diterima oleh pembaca.

Demikian halnya dengan Kumpulan Cerita bertajuk Latopajoko & Anjing Kasmaran yang ditubuhkannya pada Februari 2007 silam. Latopajoko dan enam belas judul cerita yang membersamainya seakan mengajak kita berkelana pada kawasan yang begitu tepat merepresentasikan suasana masyarakat dan alam yang melingkupi manusia Bugis.

Latopajoko, judul salah satu cerita yang lalu dipilih mewakili kumpulan ini, begitu kuat membetot ingatan masa silam akan kisah-kisah heroisme para pemberani (towarani). Tapi di saat yang sama, Badaruddin berhasil mentransformasi kekuatan lampau sebagai pijakan bagi generasi baru dalam menaja masa depannya. 

Latopajoko, yang bisa dibaca La Topajoko (Sang Manusia Penakluk) atau Latoq Pajoko (Kakek Penakluk) adalah sosok yang memiliki kemampuan untuk menundukkan (pacoko) musuhnya. Dengan bermodalkan kesaktian dan ilmu panimboloq, semacam pengetahuan mistis yang berimplikasi pada kebalnya seseorang dari senjata tajam membuat Latopajoko meraih reputasi sebagai towarani.

Kedigdayaan Latopajoko, meskipun telah menjadi pengawal raja, tak pelak mengundang kekhawatiran dari sang raja bahwa pengawalnya yang keturunan pengembara itu akan berbalik melawannya. Upaya raja untuk menjebaknya dengan meminta Latopajoko menghadapi Lataddangpali, perompak yang juga sangat sakti, tak menyurutkan semangat juang untuk mengabdi pada rajanya.

Melalui Latopajoko, Badaruddin mengajari kita makna kesetiaan bahwa, meski hingga polo papa - polo panni (remuk kepak patahlah sayap), kesetiaan tetap di atas segalanya, bahkan hingga harus menghadapi La Malakul Maut (Malaikat Maut). Selain itu, Latopajoko juga menjadi pengingat bahwa kesusksesan bukanlah sesuatu yang diraih secara instan, melainkan harus diperjuangkan dengan pengorbanan sepenuh hati.

Selain soal kepahlawanan, lewat cerita-ceritanya yang mengalir, Badaruddin juga mengajarkan romantisme sederhana namun tak biasa. Daraslah 'Tahi Lalat Suster Ezra', atau 'Pipit Kecil Bermata Sayu', atau 'Pinrakati'. Di sana ada alunan percintaan dengan getaran lembut yang hampir tak terasa, tapi sulit untuk dilupakan. Kesemua itu menunjukkan betapa Badaruddin adalah seorang pencerita yang mumpuni.

Tak salah bila Joni Ariadinata dalam pengantarnya atas buku ini, memuji cerpen-cerpen Badaruddin. Joni menera bahwa kehadiran kumpulan yang berisi cerpen dengan gaya tutur klasik, dengan kesederhanaan bahasa ungkap, serta mengutamakan kekuatan tema dan kerapian alur yang terang, menjadi tanda bahwa tampaknya cerpen sedemikian mulai kembali mendapatkan tempat.

Menariknya pula, Badaruddin tak berupaya memuaskan pembaca dengan selalu memenangkan sisi baik dalam ceritanya, bahkan sebaliknya, ia berani berdiri berseberangan dengan keberpihakan mayoritas pembaca. Tengoklah nasib tokoh Dia dalam 'Dia Berenang Terus' yang harus kalah oleh konspirasi tokoh Dul Hamid yang merebut istrinya.

Atau tokoh 'Aku' dalam 'Pipit Kecil Bermata Sayu' yang memilih untuk tidak melanjutkan percintaan masa kecilnya dengan alasan yang menggemaskan. Badaruddin menulis begini, "Pipit kecil, ...... Aku takut bertemu denganmu. Aku takut kenangan percintaan masa kecil kita yang bening, sebening air kali itu, akan ternoda oleh kedewasaan kita yang mendebarkan!

Badaruddin juga melengkapi kumpulan ini dengan kisah yang berbau mistik nan mengguncang seperti pengalaman tokoh 'saya' dalam 'Perempuan di Atas Bus', atau tokoh 'lelaki tua' dalam 'Di Bawah Cahaya Bulan'. Kedua kisah ini disatukan oleh penggambaran latar belakang sungai dengan nuansa yang temaram dan menimbulkan luka traumatis.

Akhirnya, kesemua itu menjadi kelindan dan jejaring  makna yang melukiskan wajah kepengarangan Badaruddin, seorang penulis prolifik yang menjalani keseharian sebagai seorang pendidik.

Judul: Latopajoko & Anjing Kasmaran  | Penulis: Badaruddin Amir | Penerbit: AKAR Indonesia | Cetakan: Pertama, Februari 2007 | Jumlah Halaman: xii + 258| ISBN : 979-998382-7

Kasman McTutuFounder Makassar Book Review


RESENSI, PANRITAKITTA' -
Ada orang yang lihai bercerita, sebagian pula lincah menuliskannya, tapi jarang bisa keduanya. Sahru Ramadhan adalah pengecualian. Ia bisa melakukan keduanya dengan sama baiknya. Ceritanya mengalir dan mudah dicerna, tulisannya juga bernas serta gampang ditangkap pesannya. Sebuah talenta yang jarang dimiliki oleh seorang penulis autodidak.

Kemampuan Sahru tersebut terekam dengan baik dalam buku Kumpulan Cerita yang dianggitnya, Aku dan Cerita di Masa Lalu (Pakalawaki, November 2021). Setidaknya ada 17 kisah yang dibabar oleh Sahru dalam buku setebal 140 halaman, yang menjadi penanda, betapa menjadi pencerita dan penulis cerita bukan kemampuan ekslusif para sastrawan.

Menariknya lagi, Sahru yang sehari-harinya merupakan seorang karyawan swasta berlatar pendidikan ekonomi, dengan kesukaan membaca serta mendiskusikan tema-tema filosofis. Tiba-tiba melahirkan buku yang berisi fragmen keseharian anak manusia: menyeruput kopi di emperan pusat perbelanjaan, atau jatuh hati pada seorang gadis di toko buku.

Mengapa seorang Sahru menulis cerita? Sebab dengan menulis cerita, banyak hal yang bisa dia pikirkan, akunya. Cerita-cerita dalam buku ini, tak lepas sebagai hasil keseriusannya merenung dan membayang-bayangkan sesuatu. Sepertinya, menulis menjadi semacam terapi baginya, sarana untuk menemukan ketenangan.

Lalu, kenapa harus tentang masa lalu? Sahru mengakui bahwa ini sebagai upayanya mengambil pelajaran, sebab masa lalu baginya selalu ya bermakna kesalahan, bentuk-bentuk kegilaan yang mungkin demikian keterlaluan. Maka menulisnya akan membuatnya menjadi lebih dewasa, mencintai dengan biasa, pun mempercayai dengan biasa.

Membaca Aku dan Cerita di Masa Lalu beserta ke-16 cerita lainnya, membuat kita ikut merasakan getar-getar kenangan dalam rajutan cinta yang disulam ulang oleh pemuda kelahiran Kolaka tiga puluh satu tahun silam. Darinya kita memahami bahwa semua menjadi begitu indah kala ia diceritakan ulang dengan cara yang elegan.

Bahkan, kritik sosial yang dititip oleh Sahru dalam berbagai cerita tak membuat buku ini menjadi sekumpulan pamflet. Sahru berhasil menyusupkan sikapnya melalui tokoh seperti Karim (Tak Ada Lelaki yang Baik di Mata Karim), Mahmut (Karena Wanita Itu Kami Beradu), Kiro (Berhijrah di Kampung Halaman), atau Si Lela (Si Lela, Setelah Ditinggal Nikah).

Tentu, sebagai seorang penulis sastra autodidak, kualitas karya Sahru tak elok dibanding sandingkan dengan tulisan-tulisan para maestro dan begawan sastra. Tapi, kehadiran buku ini menjadi pemantik semangat bahwa menjadi penulis dan menerbitkan buku bukanlah perkara yang tak terjangkau oleh masyarakat awam sastra. Maka mari menulis.

Judul: Aku dan Cerita di Masa Lalu | Penulis: Sahru Ramadha | Penerbit: Pakalawaki | Cetakan: Pertama, November 2021 | Jumlah Halaman: 140 | ISBN : 978-623-97273-9-0

Kasman McTutu, Founder Makassar Book Review


RESENSI, PANRITA KITTA' -
Semua kaum hawa di dunia ingin dianggap cantik. Bahkan tak tanggung-tanggung, mereka akan membeli skincare atau pemutih muka, asal bisa terlihat glowing. Ia tak mau terlihat jelek ketika dipandang lawan jenisnya. Sehingga mereka akan bersusah payah merawatnya. Ada juga mengeluarkan biaya mahal yakni dengan operasi, agar bisa memperoleh kecantikan. 


Namun, tidak untuk seorang gadis dalam novel ‘Cantik Itu Luka’ karya Eka Kurniawan. Justru kecantikan dirinya menjadi penderitaan baginya selama ia hidup. Mungkin bisa sedikit menggambarkan bagaimana penderitaan gadis cantik ini, ketika membaca isi cover belakang buku tersebut. 


“Di akhir masa kolonial, seorang perempuan dipaksa menjadi pelacur. Kehidupan itu terus dijalaninya hingga ia memiliki tiga anak gadis yang kesemuanya cantik. Ketika mengandung anaknya yang keempat, ia berharap anak itu akan lahir buruk rupa. Itulah yang terjadi, meskipun secara ironik ia memberikan nama Si Cantik.” (Cover belakang) 


Begitulah sinopsis dalam cerita di novel tersebut. Bisa dibayangkan bukan? Jadi, dalam cerita novel itu, tokoh yang berperan sebagai pelacur dalam cerita novel itu bernama Dewi Ayu. Ia gadis blasteran, hasil persilangan antara darah Belanda dengan darah Indonesia. Gadis ini begitu cantik, semua lelaki yang melihatnya akan tergoda. Air liur di mulut saat memandang akan ditelan, berahi memuncak, harapnya ingin menidurinya. Itulah yang terjadi pada Dewi Ayu di kota Halimunda ketika Jepang menguasai segala sumber daya alam dan manusia pasca mengusir Belanda di Indonesia. 


Dan disitulah Dewi Ayu mulai melacur yang kelak melahirkan tiga anak yang cantiknya mengikuti dirinya. Ketiga anaknya bernama Alimanda, Adinda dan Maya Dewi. Ketiganya ini terlihat mengikuti jejak ibunya. Sehingga harapan pun muncul pada Dewi Ayu untuk tak mau melahirkan anak yang cantik tapi ingin terlihat jelek. Karena kalau ia cantik maka ia ingin mati saja. Tapi ketika lahir anak keempatnya ini, ternyata bumi mengabulkan, lalu lahirlah anak jelek yang diberi nama Cantik. Cuma Dewi Ayu tak pernah melihat anak keempatnya usai terlahir di dunia ini, hingga ia mati selama 20 tahun lalu bangkit kembali. Ia tak mau melihat karena harapan ini tidak akan pernah dikabulkan. Dan itu hal mustahil, sehingga ia berpikiran bahwa tak ada gunanya hidup sebagai orang cantik kalau hidup kita digerogoti oleh lelaki nafsu lalu mengeksploitasi keperempuanannya. 


Itulah secara singkat yang saya pahami dalam cerita novel tersebut saat saya membaca novel dari Eka Kurniawan ini. Menurutku cantik itu luka yang dimaksud penulis adalah ketika kita lahir di dunia ini hanyalah sebuah paksaan memenuhi berahi para lelaki lewat kecantikan. Buat apa cantik kalau hanya membuat kita menderita sebagaimana peristiwa yang menimpa Dewi Ayu. 


Novel ini juga mengajak kita untuk berpetualang ke masa pasca kemerdekaan tentang kehidupan seorang perempuan. Tak hanya itu, kita juga disuguhi bagaimana kehidupan lelaki yang memperebutkan seorang wanita cantik. Eka juga begitu ciamik dalam menggambarkan cara berhubungan seks. Sehingga bagi pembaca akan dibawa ke imajinasi vulgar. Dan Eka Kurniawan di setiap tokoh dalam cerita itu menggambarkan identitasnya tanpa harus melupakan maksud cerita yang ingin disampaikan. 


Buku ini memang layak best seller, karena jika kita membacanya akan membuat kita terpesona dengan kata-kata yang disusun. Serta juga novel ini beralur maju mundur. Makanya di awal-awal kita akan disuguhi hal mistis. Tapi jangan khawatir! Ketika kita melanjutkan halaman demi halaman pasti kamu akan tergoda. Sebagaimana tergodanya para lelaki ketika melihat wanita cantik. 


Judul: Cantik itu Luka

Penulis: Eka Kurniawan

Penerbit: Gramedia Pustaka Umum (GPU)

Cetakan ketujuh Juli 2015

Halaman: 479

ISBN: 978-602-03-1258 


Ahmad Abdul Basyir, Pegiat Komunitas Pena Hijau Takalar 


Dicomot dari MataKita.Co


RESENSI, PANRITA KITTA' -
Menulis cerita dengan pesan yang padat,  namun tak sampai membuat kening berkerut dibuatnya, adalah salah satu kelihaian Dul Abdul Rahman. Kisah-kisah yang dibabar oleh lelaki dari Bikeru, Sinjai Selatan ini, jauh dari kesan menggurui. Bahkan, tak jarang, pembaca membenarkan apa yang diwartakan dalam kisah gubahannya. Mungkin, salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah, karena selain sebagai penulis, Dul pula adalah seorang akademisi. 


Seperti Sabda Laut, novel yang terbit di Yogyakarta sejak 2010 silam, Dul kembali menunjukkan kepiawaiannya sebagai seorang pencerita. Sejak di halaman pertama, kita sudah dibetot untuk mengikuti jalan ceritanya yang mengalir melalui kisah hidup Samad menempuh pendidikan di SMP Negeri 15 Makassar. Putra nelayan yang saban malam menemani ayahnya, Daeng Rewa mengarungi pesisir Barombong, sejak dari muara Je'neberang.


Dengan apik Dul menggambarkan semangat Samad untuk terus bersekolah, meski ayahnya hanya seorang nelayan tangkap. Hal itu juga ditopang oleh ayahnya yang begitu yakin bahwa dengan pendidikanlah, seseorang bisa memperbaiki nasib. Untuk menegaskan keberpihakan, Dul menghadikan Daeng Bollo sebagai tokoh antagonis dalam konteks penolakannya untuk terus membiarkan anaknya bersekolah.


Lihatlah, bagaimana kelihaian Dul menyisipkan kelong Makassar dalam nasihat Daeng Rewa kepada anaknya, Samad. Manna majai tedonnu, mattambung barang-barannu, susajakontu, punna tena sikolanu [meskipun banyak kerbaumu, bertumpuk barang-barangmu, engkau akan susah juga, jika tidak berpendidikan]. Atau pesan ayahnya yang mengikuti gaya Jenderal Nagabonar, tokoh yang diperankan oleh artis kawakan, Deddy Mizwar. Nagabonar hadir dalam bahasa Makassar, "Kamma-kamma anne, punna tena sikola, apa nakana linoa [Hari ini tak sekolah, apa kata dunia].


Maka anak siapa yang tak bakal rajin menempuh pendidikan? Pantaslah si Samad begitu bersemangat ke sekolah, sambil berdendang riang, Manna bosi manna rimbuk/ Battujak ri sikolangku/ Manna maklakro/ Gunturuk ta kujampangi/ [Biarpun hujan dan badai menghantam/ aku tetap pergi ke sekolah/ meski guntur bersahutan/ aku tetap tidak peduli]. Apalagi, dengan ciamik, Dul meramu cinta monyet beraroma platonis dari Samad ke Subihawati, anak Haji Daeng Manaba yang selain manis, juga selalu menjadi juara kelas.


Dul menyempurnakan karakter tokohnya yang merepresentasikan kesadaran literatif mumpuni, dengan menambahkan cap pecinta buku pada Samad, terutama buku-buku puisi dan (tentu saja) buku-buku cinta di perpustakaan sekolah. Oh ya, Samad juga digambarkan sebagai pengutil buku perpustakaan, prinsipnya, "Daripada dijadikan sampah, lebih baik aku mengambilnya saja."


Agar pembaca tak bosan dengan melulu pesan-pesan pendidikan, Dul memperkaya kisah hidup si Samad dengan perjuangan menjadi lelaki pengejar cinta. Demi harapan agar cintanya berbalas tepuk, Dul rela menempuh jarak berbilang kilometer dari Barombong ke Panciro hanya untuk menemui seorang penjual nasi kuning bernama Daeng Asmara. Tak lain, tujuannya adalah berburu mantra pejinak bagi Subihawati.


Namun rupanya, Daeng Asmara tak mewariskan jampi, melainkan sebuah botol imut berisi cairan kekunging-kuningan yang merendam beberapa benda. Dengan detil Dul menguraikan: jintan hitam bermakna kesuburan, kapas merupakan simbol kelembutan, dan sebatang jarum sebagai simbol lelaki. "Jarum ini bisa menancap dan menusuk jintan-jintan dan kapas karena ia berdiri keras dan kuat," terang Daeng Asmara.

*     *     *


Seperti novel-novelnya yang lain, semisal Pohon-Pohon Rindu dan Daun-Daun Rindu, dalam Sabda Laut, Dul tak luput menyajikan humor segar, namun tetap menjadi sebagai sarana transformasi nilai etika. Lelucon yang disajikannya adalah kebiasaan-kebiasaan sederhana yang saban hari dilakukan anak-anak di Sulawesi Selatan. Ornamen ini membuat novel ini terasa hidup dan membumi.


Simaklah saat Samad mengantar Subihawati ke rumah salah seorang gurunya, Pak Slamet Sunoko, usai magrib. Samad memanfaatkan peluang itu untuk meramu aktivitasnya menjadi semacam kencan dadakan. Tentu saja, semua atas dukungan Sapri --putra Daeng Bollo yang awalnya begitu anti pendidikan, dan juga Sulham, sahabatnya yang lain. Sore sebelum kejadian, mereka menyusun rencana dengan matang. 


Saat meninggalkan rumah Pak Slamet di kompleks SMP Negeri 15 Makassar, mentari sudah lama sembunyi, gelap merajai angkasa. Rumah kosong di sekitar sekolah yang terkenal angker dan menjadi hunian dua hantu lokal bernama poppo & parakang, terlihat kian suram. Perlahan Samad dan Subihawati berjalan beriringan dengan terap menjaga jarak. Tak lama, dari arah kegelapan, terdengar suara berbunyi, "Po... Po.. Po... Poppo.."


Mendengar suara itu, Subihawati ketakutan,  sementara Samad tersenyum gembira, sebab rencananya mulai berjalan. Perlahan, Subihawati mendekat, bahkan saat terdengar bunyi keempat kalinya, Subihawati telah merangkul Samad yang balas merengkuh dirinya dalam pelukan. Rupanya, Samad, Sapri dan Sulham sengaja menakut-nakuti Subihawati agar lengket ke Samad, dan berhasil.


Sayang, keberhasilan Samad berangkulan dengan Subihawati, harus dibayarnya dengan peristiwa kerasukan di kolong rumah kosong depan sekolah. Dalam kondisi tak sadarkan diri, Samad merasa didatangi oleh Poppo, bahkan berteriak-teriak menyuarakan "Poppoooooo." Setelah peristiwa itu, Samad bergegas mentraktir Sulham dengan dua mangkuk coto sebagai bayarannya berpura-pura menjadi poppo tempo hari. 


Dalam novel setebal 200an halaman ini, Dul betul-betul menyerap spirit dari laut yang menjadi pondasi karakter generasi pesisir semacam Samad, Sulham, Sapri, dan tentu juga Subihawati. Di laut memang ada badai dan gelombang, tapi di sana juga semangat yang menggelora, dan sabda-sabda laut yang menjadi penuntut dalam mengarungi samudra kehidupan. Lalu Dul, berhasil menulisnya dengan baik. 


Melalui novel ini, Dul mengukuhkan konsistensinya pada tema-tema berbasis lokalitas, Burhanuddin Arafah, seorang profesor dalam kesusastraan, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unhas kala novel ini menemui pembaca, berkata begini, "Di novel Sabda Laut ini, Dul Abdul Rahman tetap bertahan pada ciri khas kepenulisannya, penuh dengan nuansa local wisdom." Bukankah ini menjadi jaminan betapa menariknya buku ini? 


Judul: Sabda Laut

Penulis: Dul Abdul Rahman

Penerbit: Penerbit Ombak, Yogyakarta

Tahun : 2010

Halaman: vi + 202 hal, 13 x 19 cm


RESENSI, PANRITA KITTA' -
Kini, rasa penasaran saya sudah terjawab, pada isi buku yang bersampul merah maron tersebut. Novelet yang mengambil latar masa kolonial Belanda, ditulis begitu sangat apik. Meski hanya sebuah novelet, tapi diceritakan dengan begitu lugas. 

Sebagaimana disebutkan, bahwa kehidupan sang tokoh terjadi setelah kehidupan Max Havelaar atau Multatuli. Kemudian berakhir pada tahun 1879. Tepat saat Kartini lahir (hal. 1)

Pada tahun-tahun perjalanan kehidupan Karti, si tokoh utama, sedang berlangsung politik etis yang diterapkan oleh pemerintah Hindia-Belanda pada bangsa-bangsa jajahannya.

Meski demikian, tidak semua orang dapat merasakan politik etis tersebut. Jelata yang telanjur menjadi budak, selamanya menjadi budak. Sementara bagi kaum priyayi, bangsawan, hanya kaum Adam saja yang bisa merasakan politik balas budi atas kebijakan ratu Wilhelmina itu. Sedangkan kaum hawa, seperti rakyat kebanyakan. Terutama yang masih mempertahankan adat budaya Jawa yang kental. Masih tabu jika perempuan berpendidikan tinggi. Dianggap melawat adat dan merusak tatanan yang sudah ada.

Setelah menginjak usia remaja, para putri bangsawan harus menjalani masa-masa dipingit. Tinggal di dalam kamar, hingga datang calon suami yang akan menjemput mereka untuk diperistri.

Demikian halnya yang berlaku pada Karti. Ketika usianya sudah menginjak usia 17 tahun, artinya, ia sudah memasuki masa untuk dipingit. Bahkan, masa itu telah dijalaninya sejsk usia 12 tahun.

Tapi, keinginannya untuk bebas berinteraksi seperti para pria, bersekolah hingga ke Nederland, membuatnya berontak. Di dalam kamarnya, ia selalu merasa gelisah, karena masa-masa itu telah menyiksa batinnya. 

Meskipun kata hatinya hanya bisa ia ungkapkan kepada kakak laki-lakinya serta  Everdine dan Van Edeen yang merupakan teman sekolahnya di ELS. Sementara sebangsanya kaum hawa, ia sama sekali tak mendapat dukungan. Hanya satu yang mendukungnya untuk keluar dari tatanan yang dianggap penjara emas itu. Ialah ibunya, ya ibu kandungnya. Yang hanya menjadi istri yang tak dianggap keberadaannya oleh suaminya, karena bukan dari keturunan bangsawan.

Novelet yang terdiri dari dua bagian ini, menceritakan sosok Karti ketika berada di Neraka Emas dan Neraka Besi. 

Neraka Emas sendiri merupakan istilah bagi kehidupan yang dijalani oleh Karti saat masih dalam pingitan ayahandanya. Sedangkan Neraka Besi, situasi yang dialami oleh Karti saat nekat melarikan diri dari rumahnya. Yang menjumpai dan mengalami situasi yang tidak jauh berbeda dengan yang dialaminya saat berada di Neraka Emas

Tokoh Karti dalam novelet ini diceritakan sebagai perempuan yang tangguh, pemberani dan tak mudah menyerah. Meskipun nyawa sebagai taruhannya. 

Hal tersebut dapat dilihat saat dia nekat melarikan diri, ketika malam persiapan acara pernikahan yang tak dikehendakinya dengan seorang bupati Rembang. Juga ketika bersembunyi di Batavia, menjadi buron ayahnya sendiri, ancaman dan gangguan-gangguan yang didapatkannya tak sedikit pun menyurutkan langkahnya, hingga pulang kembali ke rumahnya, menuruti nasihat Raden Mas Radityo, kakaknya.

Teror dan ancaman yang mengelilinginya tak membuatnya menyerah pada situasi, bahkan kehilangan seorang teman yang memercayainya selama ini sekalipun, tak menyurutkan langkahnya. Tujuannya hanya satu, memperoleh hak-hak yang sama dengan kaum perempuan di luar sana. Seperti sosok perempuan-perempuan yang menjadi inspiratornya, Pundita Ramabai, pejuang wanita dari India, Sri Ratu Wilhelmina, seorang perempuan kekasih Dewa, dan Mathilda Newport, Joan of Arch dari Liberia. (hal. 9)

Dia memang perempuan yang lembut, tapi tak membuatnya menjadi manja, tekadnya telah bulat, cita-citanya untuk memajukan kaum perempuan sudah diyakini sepenuhnya dalam hatinya. Seperti pesan terakhir ibunya sebelum mereka berpisah. "Perempuan Hindia Belanda harus menyadari kebodohannya." (hal. 30)

Dalam buku yang ditulis oleh Mayon Sutrisno pada 2001 ini, menggambarkan pula keadaan pribumi hidup di masa kolonial, menjadi sapi perah bagi bangsa penjajah di satu sisi, juga menjadi budak bagi tuan tanah  bagi para penguasa setempat, yang tunduk pada pemerintahan kolonial.

Memang novelet ini cukup ringkas untuk menceritakan seluruh kehidupan Karti, hingga ia menggapai cita-cita yang diperjuangkannya. Tapi, bisa menjadi referensi bagi generasi yang hidup di zaman ini, bahwa selain R.A. Kartini yang lazim didengar dan diperingati setiap tahunnya, ternyata ada perempuan lain yang juga bisa menjadi inspirasi.

Pertanyaan saya setelah membaca novelet ini, benarkah Karti, tokoh yang nyata? Atau ia hanya fiktif belaka? Seandainya ada buku biografinya yang lebih lengkap dari novelet ini. Sungguh saya penasaran ingin membacanya.

Judul: Hidupku Sesudah Max Havelar- Neraka Emas Neraka Besi
Penulis: Mayon Sutrisno
Penerbit: Progress, Jakarta
Tahun : 2001
Halaman: Vi + 101 hal, 23 cm.

Ahmad RusaidiPengajar di SMA Negeri 9 Takalar dan pegiat literasi di Sudut Baca Al-Syifa Bantaeng, Boetta Ilmoe Bantaeng dan Pena Hijau Takalar

RESENSI, PANRITA KITTA’ - Apa yang ditutur dalam Novel  yang berhalaman isi 380 ini??? Demikian tanya yang merajai benak saya saat melihat judul di cover-nya. Beberapa malam saya menggadaikan waktu; menyicil tuk merapal kisah yang tertuang. Sebagai faqir, banyak pengetahuan baru yang kutemui.

Tentu beberan singkat ini, tidaklah dapat merekam utuh konten novel  bergenre true history ini. Mini narasi ini juga tidak dimaksudkan sebagai  resensi ataupun review. Ini sekadar apresiasi sederhana sekaligus eksplorasi kesan, dan yang terpenting adalah cermin diri; adakah membaca dapat memberi makna?

(*)


Calabai sebagai  identitas gender ‘Kawasan Antara’ adalah topik sensitif-sensasional.


Sebagai hasil studi netral atas fakta budaya lokal, Calabai sebagai grand isu paparan terasa menjadi ‘bermutu’. Pepi Al-Bayqunie [penulis] cukup piawai merajutnya menjadi cerita yang disentuh-serempetkan dengan berbagai ‘perkara’ yang menyeruak gaduh; Stigmatisasi berbasis sosial publik dan agama. Setting lokasi di tanah bugis, menjadi satu daya pikat tersendiri bagi saya secara pribadi.


Ini adalah karya, dan teramat layak dibaca-arifi.

(*)


Adalah Saidi, anak lelaki yang tumbuh kembangnya menghadirkan risau-murka bagi ayahnya [Puang Baso]. Alih-alih menjadi ‘lelaki sejati’ sebagaimana pengharapan sang ayah, Saidi kian hari kian gemulai. Tubuhnya memang lelaki, namun tabiatnya perempuan. Sejak Saidi diketahui sebagai calabai [begitu orang menyebutnya], maka derita pun kian membekap hidupnya. Sejak kelas 4 SD Saidi terpaksa meninggalkan sekolah karena tak tahan dengan ledekan kawan-kawannya.


Namun keputusan itu tak serta merta membuatnya lega. Menghabiskan waktu di rumah justru kian membuatnya tersiksa. Sang ayah terus memaksanya untuk tumbuh sebagai lelaki. Setiap waktu Saidi dibebani tugas yang dalam kira ayahnya akan membuatnya menjadi ‘lelaki dengan pengawasan super ketat; menimba air di sumur, mencangkul di sawah-kebun, dll. Bahkan tak jarang Saidi diseret paksa, jika terlihat manja dan lemah.

Saidi sesungguhnya tak menyenangi semua itu, ia akan lebih merasa bahagia jika berada d iarea kerja sang Ibu; menata rumah dan memasak. Tapi ia tak punya pilihan, menuruti keinginan ayahnya, sedikitnya, akan melepaskan dirinya dari amuk amarah lelaki yang menjadi musabab kelahirannya di dunia.


          Baca Juga: Calabai: Menguak Misteri Dunia Antara


Saidi adalah anak yang baik dan berbudi. Hanya satu celanya, ia calabai. Dan cela itulah yang tak dapat diterima sang ayah. Memasuki usia 17 Tahun, tak ada yang berubah. Semua usaha sang ayah menjadikan Saidi ‘lelaki’, nihil. Tak ada otot-otot kekar, sebagaimana ekspektasi Puang Baso. Sang ayah kian meradang. Intimidasi kian gencar, omongan masyarakat juga kian lancar.


Berjuta kali Saidi mendapat hardik sang ayah, bahkan tak jarang Saidi menerima pukulan. Saidi melarutkan segenap dukanya dalam nanar. Menyoal kondisinya dalam gerutu batin berkepanjangan. Kenapa saya harus begini? Demikian ratap Saidi dalam malam-malam panjang.

(*)


Tuhan melaknat lelaki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai lelaki

~HR. Ahmad Ibnu Abbas


Demikian kutipan khatib jumat. Ini bukan kali pertama Saidi mendengarnya, Ayahnya juga lebih dari puluhan kali menimpalinya dengan kalimat serupa disertai dengan momok neraka sebagai muara akhirnya. Dan setiap kali kalimat-kalimat seperti itu disitir, Saidi akan bersimbah keringat. Ucapan khatib yang disertai tatapan sinis jamaah menohok jantungnya.

 ”.....Saidi kikuk, serasa duduk di atas bara. Ia merasa dihakimi. Duduk di tengah rumah Tuhan sebagai terdakwa”

[h. 18].


Bagi Saidi, hanya pelukan hangat Ibunya yang dapat sedikit menawar duka panjangnya. Dan sesekali, jika rumah sedang sepi, Saidi bergegas merangsek ke kamar ibunya; menaburi bedak di pipinya, menggoreskan gincu di bibirnya. Menatap lamat-lamat wajah yang telah didandaninya lewat kaca. Di saat-saat demikian, berkecambahlah bahagia direlung jiwanya. Ia pun tak mengerti, dari mana dan kenapa rasa itu bertumbuh.


Namun bahagia itu tak kan lama, sebab ia secepat kilat akan menghapus polesan bedak dan gincu dari wajahnya, jika radar telinganya telah menangkap sentak kaki menaiki tangga rumahnya. Tak boleh ada jejak yang tersisa, sebab itu bakal mengundang dampratan caci dan pukulan dari sang ayah.

(*)


Saidi seringkali bertanya pada ibunya tentang dilema yang membelitnya. Ia lelah tertuduh sebagai ‘pembawa bencana’. Ia lelah sebab ia sendiri tak mengerti mengapa ia menjadi calabai. Biasanya sang ibu menyambut curah hatinya dengan belaian kasih, menenangkannya dan memintanya bersabar atas situasi yang ada. Bagi Saidi, ibu menjadi satu-satunya yang mengerti akan dirinya.


Satu malam Saidi membatin dan melangitkan keluh kesahnya. Lama ia mengadu dan bertanya, hingga ia terlelap. Tidurnya malam itu ditaburi bunga-bunga mimpi. Yah, mimpi yang tak biasa. Hingga ia terjaga, mimpi itu terus memberati jiwa dan fikirannya.


Mimpi itulah yang menjadi pemicu ia memiliki sejumput nyali memohon restu  ayahnya untuk merantau. Ayahnya setuju, karena baginya meski Saidi tampak gemulai, tetapi ia adalah laki-laki. Dan bagi tradisi bugis, anak lelaki harus berani merantau.


Walau sang ibu sekuat tenaga berusaha mencegah dan tak merela Saidi menjauh dari sisinya. Sebab Saidi adalah anak bungsu sekaligus satu-satunya anak lelakinya. Kedua kakak perempuannya telah berkeluarga dan menetap di kampung sebelah. Tapi ia tak punya kuasa. Pada akhirnya ibu Saidi pasrah dan tak berdaya, sebab ia amat tahu prinsip orang bugis; Taro ada taro gau, toddo puli temmalara (perbuatan harus sesuai dengan perkataan, sekali berniat tak boleh tergoyahkan).


Berangkatlah Saidi dilepas tumpah ruah air mata sang ibu, diiringi doa tulus memohon kepada yang kuasa agar Saidi selalu dalam keselamatan. Puang Baso juga membekali Saidi dengan sebilah badik.


”Bawalah badik ini, ingat nak! Badik ini warisan keluarga kita.  Hanya untuk lelaki”

(h.43)


Kalimat terakhir sang ayah, “Hanya untuk lelaki diucapkan dengan nada tinggi tanpa geletar sedih sedikit pun. Meski kalimat itu terasa amat pedas, tapi Saidi paham.

(*)


Saidi meninggalkan kampung halaman, Lappariaja Kabupaten Bone dalam bimbang tak tentu tujuan. Di setiap simpang jalan Saidi dirundung bingung memilih arah. Tapi, seolah ada kejadian-kejadian mistikal yang menuntunnya. Hingga suatu ketika, dalam perjalanan, Saidi pingsan di jalan akibat lelah dan lemah. Ditolong oleh seorang nenek bernama Sagena, pemilik warung kecil di tepi jalan.


Sebulan lamanya Saidi hidup bersama nenek Sagena yang baik hati. Saidi adalah sosok yang amat tahu balas budi, ia giat mebantu si nenek mengelola warung, hingga berkembang maju. Namun kebersamaan itu tak berlangsung lama, karena keduanya diintimidasi warga. Saidi diminta paksa pergi meninggalkan kampung Pallawa, Maros. Lagi-lagi gegara Saidi adalah calabai.


Begitulah Saidi. Kembali mengembara tanpa arah, dengan membopong luka hati. Hingga tak sengaja ia bertemu seorang pedagang keliling  yang bernama Daeng Maddenring. Pertemuan inilah yang kemudian menjadi babakan atas revolusi nasib Saidi.


Kepada Daeng Maddenring, Saidi lugas  bercerita tentang dirinya termasuk tentang identitasnya yang calabai. Daeng Maddenring tak menyoalnya, bahkan respek padanya. Bahkan ia berkenan mengajak Saidi hidup bersamanya, di Sigeri Pangkep. Menurut Daeng Maddenring, Saidi pasti cocok tinggal di kampungnya, sebab di sana ada komunitas calabai yang dihormati sejak dahulu, mereka dipercaya warga sebagai orang-orang pilihan dan memiliki kemampuan khusus, menjadi perantara makhluk bumi dengan dewata. Mereka dikenal dengan sebutan Bissu.

 

Kalau nasibmu mujur, kamu bisa dilantik menjadi bissu. Alamat itu ada padamu;  kamu calabai tetapi matamu tidak menyala karena birahi. Juga kamu meninggalkan rumah, atas kemauan sendiri, pertanda kamu memiliki ketetapan hati”

(h. 75-76).


Saidi akhirnya tinggal menetap bersama Daeng Maddenring, pedagang yang kemudian mengangkatnya menjadi anak. Mengasihinya sepenuh hati. Bagi Daeng Maddenring, Saidi menjadi pelipur sepi, setelah ia hidup sendiri ditinggal mati sang istri. 


Di Sigeri, di Negeri para Bissu, di kampung dimana calabai diperlakukan sebagai manusia Saidi terus berinteraksi dengan para bissu. Saidi memang berbeda dari calabai lainnya, ia teramat menggandrungi Attoriolong (ritual adat) yang dijalankan para bissu. Ia kerap menyisihkan waktu tuk berguru pada Puang Matoa di Bola Arajang (rumah adat), Ia belajar aksara lontara dan lahap mendedah hikayat budaya leluhur semisal I Galigo. 


Singkatnya, Saidi dalam waktu yang cukup ringkas sampai pada puncak capaian; menjadi pemimpin Bissu (Puang Matoa). Kemampuan batin yang dipunyainya, menjadikan ia banyak dipinang oleh penyelenggara event-event budaya. Menyeberang ke pulau Jawa, hingga bertandang ke mancanegara.

(*)


Bagian kecil yang juga menjadi renung refleksi; adalah ketika Asnawi yang kemudian mengubah nama menjadi Wina calabai, anak tunggal seorang hartawan, dititip orang tuanya pada Bissu karena sudah kehilangan cara menjadikan anak semata wayangnya menjadi lelaki. Dengan harapan asuhan para Bissu dapat menjadikan Asnawi menjadi Ccalabai yang lebih berguna. Wina nyatanya adalah calabai yang akrab dengan dugem.


Suatu kali, berambisi belajar ilmu Naga Sikoi (Pelet jenis aktif) dengan maksud memperdaya dan memikat laki-laki incarannya.

 

Puang Matoa menjawabnya: “Ilmu itu tidak cocok bagimu”

Kenapa? Tanyanya.

“Karena kamu sudah genit, selain itu kekayaan orang tuamu menjadi pelet yang sangat kuat pengaruhnya memikat laki-laki”

(h.254)


Selain struktur dan giat adat para bissu, yang menarik bagi saya adalah kecenderungan dan apresiasi seksual bissu yang turut dieksplor dalam novel ini. Sebagaimana umumnya calabai; mereka tertarik pada lelaki. Tetapi tidak dimungkinkan menjalin kasih dengan lelaki sebagaimana banyak dilakonkan para calabai lainnya. Kenapa? Sebab tugas utama bissu adalah menjaga keseimbangan alam dan dalam ‘teologi’ mereka; Lelaki fisik dengan lelaki lainnya jika membangun hubungan asmara akan merusak harmoni alam.


Maka dalam angan saya; Bissu adalah representasi post gender, dan masuk dalam spektrum studi feminisme kosmologi, dan kajian Tao.  Bagi pemimpin bissu dan wakilnya (puang matoa dan puang malolo) kecenderungan itu kian tertantang, sebab dalam adat, mereka dalam aktivitasnya di-asisteni oleh Toboto (lelaki tulen-belum nikah) yang kebutuhan hidupnya ditanggung oleh bissu itu hingga keharusan penanggungan biaya nikah toboto nantinya yang memiliki masa bakti maksimal 3 tahun.


Ketika Saidi [tokoh dalam novel] menyoal perkara ini dalam sebuah narasi dialog bersama seorang bissu seniornya, lagi-lagi penjelasannya memikat perhatian saya;

Kenapa calabai tidak boleh menikahi laki-laki, Puang” tanya Saidi.

“Sebab menikah bukan semata perkara jiwa, melainkan juga urusan tubuh. Jika kamu menikah dengan Parewa [perkakas] yang sama, keseimbangan alam akan rusak” Jawab Puang Matoa.

“Bagaimana dengan jiwa kita puang; jatuh cinta dan mengingini memiliki lelaki?”

“Cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang berjarak, itulah cinta yang tepat bagi bissu. Memberi dan tidak meminta. Cinta orang tua kepada anaknya tetap suci, karena ada jarak. Tak boleh dilanggar jaraknya  [mengawininya] sebab berakibat pada kerusakan harmoni alam (h. 270-271).


Bagian lain yang yang turut memancing nalar saya, adalah soal pandangan agama terhadap calabai termasuk bissu. Untuk Saidi, sejak ia distempeli sebagai calabai, maka agama kian terasa getir baginya. Meski sedari kecil ia cukup akrab dengan giat keagamaan. Kegetiran itu terasa kian kuat kala ia mengetahui bahwa komunitas Bissu di Sigeri, seringkali mendapat teror dari kelompok agamawan, bahkan dari tuturan seniornya: Bissu pernah diserang dan Bola Arajang dibakar, dan dalam insiden itu satu orang Bissu sepuh yang memilih tetap bertahan di Bola Arajang dibakar hidup-hidup. Belakangan Saidi tahu bahwa ayahnya ternyata juga merupakan bagian dari tim penyerang kala itu. 


Para bissu menjadi mafhum, bahwa agama tidak akan pernah ramah untuk para kaum calabai. Namun, asumsi Saidi begeser, setelah menghadiri sebuah majelis ilmu [Pengajian waria]. Ia bertemu dan berinteraksi dengan Kiai Kusen [pimpinan sebuah pondok pesantren di tanah Jawa] pasca mengisi sebuah event pagelaran budaya di sana. Bahkan Saidi menyaksikan adegan yang tidak lumrah pada moment itu; seorang waria melantunkan ayat suci dengan suara yang merdu. Saidi kian terkesan dengan beberapa narasi Pak Kiai dalam dialog interaktifnya menyinggung isu calabai.

 

Kisah masa lalu di baghdad, konon seorang khalifah sangat membenci waria, hingga mengeluarkan perintah untuk memberantasnya sebab waria dalam pandangannya adalah ‘penyakit sosial’. Alhasil, para waria diusir dan Baghdad bersih dari waria. Anehnya, beberapa tahun kemudian putra sang khalifah tumbuh menjadi waria.

(h.297-298).


Perihal ancaman laknat untuk calabai [yang menyerupai lawan jenis], menurut kiai Kusen bahwa konotasi hadits tersebut adalah ‘Pembatasan Kodrat’; yang sejak awal lahir sebagai laki-laki jangan jadi perempuan, begitu pun sebaliknya.

 

Lalu bagaimana jika kecenderungan pengubahan itu bawaan lahir [naluri]?

Lagi [pandangan Pak Kiai]; yang dilaknat bukan naluri tapi perilaku.

Bagaimana dengan homoseks [Gay]?

Kembali Pak Kiai; “Allah melaknat siapa saja yang melakukan tindakan kaum Nabi Luth”. Kata kuncinya adalah tindakan, bukan perasaan.

Diberi hasrat homoseks, tapi dilarang menikah sesama jenis, ini tidak adil pak kiai?

Lagi-lagi Pak Kiai; adalah special price. Perbedaan itu menjadi peluang. Mereka memiliki ‘kesempatan’ untuk fokus mendekati Tuhan. Sebab konsentrasinya tak lagi dikebiri oleh urusan pemenuhan seksual-material. Banyak ulama Islam yang tidak menikah bukan karena kecenderungan homoseks tetapi karena argumentasi berkonsentrasi pada perkara peng-Abdi-an dan karya. Seperti Imam Nawawi dan Rabi’ah Al-Adawiyah ...(h.297-303)

 

Saidi Sumringah, ada lega bertumbuh di ruang-ruang rasanya.

Kuru’ Sumangek!

 

Siti Naisyah Ibrahim. Seorang guru, menetap di Toli-Toli, Sulawesi Tengah.

 

Sebelum Agustus

 

Dariku untukmu yang hadir sebelum agustus

Halo Mei

Aku ingat betul bincang kita yang pertama

Percakapan tengah malam itu sungguh membekas

Halo Juni

Kita sempat tak bersua

Maaf jika aku terlalu tergesa

Halo Juli

Kamu kembali!

Aku tidak mengerti mengapa semesta membuatnya menjadi indah

Aku senang

Halo Agustus

Awal yang baik untuk kita

Kamu menjadi kamu yang apa adanya

Aku suka itu

 

Sekali lagi, Halo Agustus

Semoga kamu yang hadir sebelum Agustus,

Tidak berakhir di Agustus

----------------------------------------------- 

 

Ingin Ku

 

Semua tampak sangat gelap

Deraian dari mata setiap malam

Ingin menghilang agar merasa baik

Namun bisakah itu terjadi?

 

Begitu takut dengan tatapan orang

Ingin rasanya satu hari tanpa merasakan itu

Semua menatapku kuat

Namu aku hanyalah aku

Rapuh.

 

Adakah cahaya terang untukku?

Ingin rasanya tidur dengan damai untuk satu malam

Ingin rasanya melupakan itu semua

Apakah itu harapan yang terlalu besar?

Kurasa ya.

Dari seseorang yang ingin bebas.

 ----------------------------------------------- 

 

Sahabat

 

Hai sahabat...

Kamu yang berada disana

Ku berharap kita dapat bertemu kembali.

 

Bersamamu...

Melalui hari-hari yang penuh belokan

Berbagi kisah yang selalu ada

Tentang hal yang tak penting hingga hal yang berbau masa depan

Tentang dirimu dan dirinya

Dan masih banyak lagi.

 

Kapankah hari itu tiba?

Aku akan sangat menantikannya

Berharap kau berubah

Tetap menjadi orang yang penuh kekenyolan

Tetap menjadi orang yang penuh kegilaan yang sama sepertiku.

 

Ha.ha.ha.ha....

Tidak biasa aku mengatakan ini

Tapi aku sangat merindukanmu

Wahai sahabatku

 ----------------------------------------------- 

 

Bumi Bukan Bumi yang Dulu

 

Bumiku

Seperti bukan Bumiku yang dulu

Langitnya tak lagi biru, melainkan abu kehitaman

Lahannya tak lagi hijau, gersang yang kulihat

Lautnya tak lagi indah dipandang, sampah memenuhinya

 

Salah siapa?

Harus apa?

Jika bisa berteriak, Bumi akan terisak

 

Aku yang ingin Bumiku yang dulu

 ----------------------------------------------- 

 

Ananda Dwi Kartika, kelahiran Makassar tahun 2004. Saat ini duduk di kelas XI. MIPA SMA Negeri 9 Takalar, memiliki hobi memasak dan punya cita-cita jadi psikolog.