RESENSI, PANRITA KITTA' - Pluralisme agama adalah suatu kenyataan. Denny JA dalam beberapa esainya menyebutkan kurang lebih ada 4.300 agama yang tersebar di muka bumi. Mengapa ada banyak agama seperti itu? Tak lain disebabkan oleh aktivitas pikir dan kelangsungan hidup manusia, yang membutuhkan kreativitas, serta kemampuan untuk menafsirkan kehidupan berdasarkan fakta-fakta yang ditemui di alam.

Hebatnya, agama-agama itu selain punya keunikannya sendiri-sendiri, ternyata cenderung memiliki misi yang sama, yakni meyakini adanya kekuatan yang maha dahsyat di luar alam semesta ini yang dalam bahasa agama disebut Tuhan, serta meyakini bahwa manusia harus mengerjakan kebaikan dan menghindari untuk berbuat jahat, menegakkan keadilan, serta meyakini kehidupan sesudah mati.

Meski tentu ada perbedaan yang tajam dan mencolok, bahkan bertentangan, faktanya agama-agama itu bisa hidup berdampingan. Misalnya --menurut Denny JA-- antara Kristen dan Islam, memiliki pandangan yang bertentangan satu sama lain tentang sosok Yesus atau Nabi Isa as. Kristen meyakini Yesus mati disalib, sementara Islam meyakini bahwa Yesus tidak mati disalib, melainkan diangkat oleh Allah naik ke langit. Tetapi dengan pertentangan yang tajam itu, Kristen dan Islam bisa hidup berdampingan hingga sekarang dengan mempertahankan kebenarannya masing-masing.

Dalam sejarah, dulu memang terjadi perang suci atas nama agama. Perang Salib merupakan salah satu contoh terbesar bagaimana seruan dari pemuka agama antara Islam dan Kristen berkumandang untuk saling berperang. Tetapi di zaman yang lebih mutakhir, perang antara agama semakin bisa diminimalisir, bahkan dapat dicegah. Seiring dengan semakin majunya pemikiran umat manusia untuk mencari suatu format interaksi yang memungkinkan seluruh pemuka agama bisa bekerjasama satu sama lain, dengan saling mengakui eksistensi masing-masing.

Kemajuan cara pandang itu misalnya dikemukakan oleh James Thomas Johnson bahwa di Barat, perang suci atas nama agama adalah wacana yang ketinggalan zaman, itu adalah isu yang sudah lama ditinggalkan masyarakat Barat yang kini sekuler.

Dalam Islam, kemajuan cara pandang ditandai dengan perkembangan tafsir terhadap ayat-ayat Alquran. Misalnya kata "jihad" ditafsirkan bukan lagi bermakna perang, tetapi dimaknai sebagai upaya yang sungguh-sungguh dalam meraih suatu tujuan. Ada sebuah hadis yang mengamini pemaknaan ini, yakni "...kita kembali dari jihad kecil (perang badar), menuju ke jihad besar (perang melawan hawa nafsu)".

Bagaimanapun, perbedaan (apalagi yang memiliki pertentangan) agama-agama selalu menimbulkan prasangka, soalnya kita meyakini kebenaran yang berbeda-beda. Olehnya itu dibutuhkan suatu pemahaman komprehensif yang dapat membuat kita menjadi lebih dewasa dalam menyikapi suatu perbedaan. Kedewasaan itu dibentuk oleh wacana-wacana tentang pluralisme agama.

Kajian atau diskusi-diskusi tentang wacana pluralisme agama ataukah toleransi umat beragama sesungguhnya sudah banyak. Akan tetapi rata-rata ditinjau dari perspektif sosiologis. Akhirnya praktik toleransi beragama hanya pada tataran dasar-dasar rasa kemanusiaan, bukan ditopang dengan argumentasi agama itu sendiri.

Pada akhirnya, toleransi hanya dipahami sebagai suatu kewajiban warga negara terhadap warga negara yang lainnya, bukan menjadi kewajiban antara satu pemeluk agama terhadap pemeluk agama lainnya. Toleransi semacam ini mudah rapuh, konflik mudah pecah karena dianggap tak ada legitimasi kitab suci yang membenarkan pengakuan akan keberadaan kebenaran (agama) lain. Sebab yang disadari bahwa toleransi hanya didasari pada sistem sosial semata.

Di Indonesia misalnya, penyelesaian konflik antar agama  dilakukan hanya dengan menggelar deklarasi perdamaian. Misalnya konflik Poso diselesaikan dengan deklarasi Malino, demikian Ambon, di Jawa Timur dan lain sebagainya. Tetapi tidak disertai adanya upaya untuk menggali perintah perdamaian yang dilandasi oleh kitab suci itu sendiri.

Kiai Moqsith (Abdul Moqsith Ghazali), seorang cendekiawan muslim Indonesia melihat perlunya kajian pluralisme agama yang berangkat dari kitab suci Alquran. Olehnya dia menulis sebuah buku yang berjudul "Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Alquran", yang sebelumnya merupakan disertasi S3 nya pada program Doktoral bidang Tafsir Quran di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2007.

Dalam bukunya itu, kiai Moqsith mengemukakan ada 3 jenis sikap dalam menghadapi pluralisme agama: pertama, sikap eksklusif, atau sikap tertutup. Yakni meyakini bahwa agamanya adalah satu-satunya agama yang benar. Agama lain dipandang sebagai karangan manusia sehingga tidak pantas dijadikan pedoman. Interaksi terhadap yang berbeda agama hanya dimaksudkan untuk dakwah, yaitu mengajak yang lain agar keluar dari kekufuran, dan pindah ke agamanya.

Kedua, sikap inklusif, yaitu cenderung terbuka atau toleran terhadap agama lain. Tetapi tetap saja menganggap bahwa agamanya yang paling benar. Sementara, umat lain dianggap selamat apabila masih menjalankan prinsip-prinsip ketundukan kepada Tuhan, menegakkan keadilan, dan berbuat baik kepada sesama manusia.

Ketiga, sikap pluralis, bukan saja mengakui adanya agama lain, tetapi juga mengakui bahwa semua agama menuju kepada satu tujuan. Hanya saja masing-masing memiliki keunikan yang khas. Paradigma ini memandang bahwa setiap pemeluk agama berhak menjalankan agamanya dengan bebas dan dianggap setara kedudukannya dengan pemeluk agama lain.

Lebih jauh, kiai Moqsith mengungkapkan bahwa agama-agama semitik (karena memang pembahasan bukunya hanya pada lingkup agama-agama itu, yakni Yahudi, Kristen, dan Islam), sebenarnya memiliki kesamaan misi. Dalam ajaran Yahudi, sebagaimana direkam dalam kitab Perjanjian Lama (Ulangan 5: 1-2 dan 6-2), memiliki inti ajaran berupa 10 perintah (the ten commandement) kepada Musa, adalah sebagai berikut:

"...(1) Mengakui Allah sebagai Tuhan yang Esa...; (2) Tidak boleh membuat berhala (syirik)...; (3) Tidak boleh menyebut Tuhan, Allahmu, secara sembarangan; (4) Selalu mengingat Hari Sabat, dan mensucikan hari itu; (5) Menghormati kedua orang tua; (6) Tidak boleh membunuh; (7) Tidak boleh berzina; (8) Tidak boleh mencuri; (9) Tidak boleh menjadi saksi palsu; (10) Tidak boleh dengki." (Ghazali, 2009: 137)

Sepuluh ajaran yang diturunkan kepada Musa tersebut, juga disampaikan oleh Alquran untuk diamalkan oleh umat Islam, kecuali poin tentang mensucikan Hari Sabat. Misalnya dapat dijumpai pada QS. Al-an'am [6]: 151-152, dan juga pada QS Luqman [31]: 13-19. Khusus yang terakhir disebutkan, walau tak sama persis, ajaran itu terangkum dalam nasihat Lukman kepada anaknya, sebagai berikut:

"... (1) Jangan mempersekutukan Tuhan; (2) berterima kasih kepada ibu bapak; (3) sadar terhadap akibat perbuatan sendiri; (4) mengerjakan ibadah; (5) memperjuangkan tegaknya standar-standar moral masyarakat; (6) tabah; (7) memelihara harga diri; (8) tidak sombong; (9) sederhana dalam tingkah laku; (10) sederhana dalam ucapan. (Ghazali, 2009: 142).

Selain persamaan ajaran, agama-agama semitik juga memiliki kontinuitas atau ketersambungan misi pewahyuan, yang itu dibawa oleh para nabi. Argumen ini didasarkan pada tiga hal. Pertama, sesungguhnya para nabi itu memiliki hubungan kekeluargaan. Dalam lingkup agama semitik, pembawa wahyu berasal dari satu keturunan yang sama yakni Nabi Ibrahim as. Sejumlah riwayat mengabarkan bahwa dari Ishaq bin Ibrahim lahir nabi Yakub, Yusuf, Musa, Syuaib, Ayub, Dzulkifli, Dawud, Sulaiman, sampai kepada nabi Isa as. Adapun nabi Muhammad saw., merupakan keturunan Ibrahim dari nabi Ismail as.

Kedua, para nabi yang muncul belakangan tidaklah membawa syariat atau agama baru. Melainkan melanjutkan dan menyempurnakan ajaran para nabi-nabi terdahulu. Misalnya, kiai Moqsith mengutip Al Qurthubi, bahwa Alquran sudah ada dalam shuhuf (lembaran-lembaran) Ibrahim dan Musa, walau tak sama persis, tetapi esensinya sama.

Selanjutnya Alquran menerangkan dirinya (dibawa oleh nabi Muhammad) bahwa ia datang untuk membenarkan kitab-kitab sebelumnya (QS Yunus [10]: 37), dan sebagai pendukung kebenaran kitab suci yang ada sebelumnya (QS al-Maidah [5]: 48). Diterangkan pula bahwa agama yang disyariatkan kepada Muhammad saw., sebagaimana diwahyukan pada Ibrahim, Musa, dan Isa (QS al-Syura [42]: 13), wahyu diberikan kepada Muhammad sebagaimana juga wahyu telah diberikan kepada Nuh dan nabi-nabi sesudahnya, demikian pula kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yakub, Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman (QS al-Nisa [4]: 163).

Berdasarkan kenyataan ini, sesungguhnya seluruh umat manusia yang menganut agama semitik (Yahudi, Kristen, dan Islam) adalah termasuk ke dalam satu keluarga, yakni keluarga wahyu, atau keluarga Abrahamistik. Hanya saja harus diakui bahwa antara ketiga agama yang termasuk di dalamnya memiliki syariat yang berbeda-beda. Tetapi tetap satu tujuan, yakni Tuhan yang sama, yaitu Allah swt.

Kenyataan itu sebenarnya membuka peluang untuk saling mengakui adanya kebenaran pada masing-masing agama, meski kesemuanya tidak sama dalam tataran pelaksanaan ritualnya. Jika muslim bisa masuk surga, maka non Islam juga bisa masuk surga dengan ajaran agama yang dipraktikkannya.

Kehadiran Islam sebagai agama terakhir di kalangan agama semitik berperan sebagai penyempurna sekaligus mengoreksi penyimpangan pada agama-agama sebelumnya. Kehadiran wahyu terakhir tentu didasarkan pada kedua hal ini --yakni penyempurnaan dan koreksi atas penyimpangan.

Dalam menghadapi penyimpangan terhadap wahyu sebelumnya, kiai Moqsith membagi 3 jenis orang beragama di luar Islam. Yaitu Ahli Kitab, Kafir, dan Musyrik, serta bagaimana Alquran memandang ketiga macam orang ini.

Pertama, ahli kitab. Berarti orang-orang yang mempunyai atau berpegang teguh pada kitab. Konsep ahli kitab pada dasarnya merupakan pengakuan akan adanya pemeluk agama di luar Islam, yang memiliki kitab yang diturunkan kepada nabi-nabi terdahulu. Kiai Moqsith mengutip pandangan berbagai ulama sehingga berkesimpulan bahwa ahli kitab yang dimaksud sekurang-kurangnya adalah pemeluk agama Yahudi dan Kristen. Adapun pendapat yang mengemukakan lebih dari itu, adalah khilafiyah, tergantung kecenderungan teologis dan konteks geopolitik tempat si penafsir tinggal.

Terhadap ahli kitab, kiai Moqsith --dengan mengutip beberapa sumber-- menuturkan bahwa terdapat seruan di dalam Alquran untuk berupaya mencari titik temu antara muslim dan Ahli Kitab; Alquran juga menginformasikan bahwa di kalangan ahli kitab tidak semuanya baik, adapula diantara mereka yang jahat atau zalim; Alquran menyerukan agar berbuat baik terhadap Ahli Kitab; Alquran membolehkan pula kepada umat Islam untuk bersedekah atau memberi bantuan kepada non Islam; para ahli kitab juga selamat dan beroleh pahala, apabila mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian, sesuai dengan yang tertera pada QS al-Baqarah [2]: 62, dan juga pada QS Ali Imran [3]: 199.

Kedua, Kafir. Pengertian kafir paling minimal dalam pandangan kiai Moqsith adalah tidak bersyukur (kufur). Kafir bisa juga berarti lawan dari iman. Terkait dengan perilaku, kafir memiliki pengertian yakni orang yang tidak memiliki kepedulian sosial, atau gemar melakukan kezaliman.

Tetapi makna yang paling cocok untuk disematkan kepada non Islam adalah ingkar. Orang kafir berarti juga mengingkari ajaran Tuhan, mengingkari ajaran nabi, serta mengingkari kitab suci. Pada tataran tindakan sosial, menghalangi orang dari jalan yang benar juga adalah kafir.

Terkait pandangan Alquran --seperti menurut kiai Moqsith, kafir ada empat jenis: (1) Kafir zimmi, yakni kafir yang tidak memerangi orang mukmin. (2) Kafir harbi, yakni orang yang memerangi orang mukmin. Nampaknya, masih banyak orang tidak tahu membedakan kedua jenis ini sehingga cenderung menganggap kafir itu satu saja. Terutama bagi mereka yang memiliki paradigma eksklusif.

Selanjutnya ada (3) Kafir muahad, yaitu orang melakukan kontrak kesepakatan dengan orang muslim untuk tidak saling menyerang, dan adapula (4) Kafir musta'min, yaitu kafir yang meminta jaminan keselamatan kepada orang mukmin dalam waktu tertentu. Kiai Moqsith menjelaskan, bahwa selain kafir harbi, ketiga jenis kafir yang telah disebutkan haram untuk diperangi.

Ketiga, musyrik. Berdasarkan pengertian umumnya, musyrik berarti orang-orang yang menyekutukan Tuhan. Orang-orang ini sesungguhnya meyakini adanya Tuhan, tetapi mereka juga memiliki sesembahan yang lain semisal patung-patung, pohon keramat, kuburan, serta segala hal yang termasuk kategori berhala.

Alquran memandang musyrik sebagai najis (QS al-Tawbah [9]: 28), haram untuk memintakan ampun kepada mereka (QS al-Tawbah [9]: 113), serta adanya perintah untuk membunuh mereka (QS al-Tawbah [9]: 5). Tetapi ada juga ayat Alquran yang meminta umat Islam apabila ada kaum musyrik meminta perlindungan (QS al-Tawbah [9]: 6).

Harap dicatat bahwa musyrik yang dimaksud dalam ayat-ayat Alquran itu adalah kaum musyrik Mekah yang tak henti-hentinya memerangi nabi dan orang mukmin. Terdapat pengecualian, jika musyrik yang tidak memerangi, atau musyrik yang perilakunya tidak sama dengan musyrik era nabi, atau bahkan meminta perlindungan, maka berlakulah permintaan Alquran untuk melindungi mereka.

Ketiga kategori non Islam yang diberikan oleh kiai Moqsith tersebut (yakni ahli kitab, kafir, dan musyrik), sekaligus juga menimbulkan wacana bagaimana hukum menikahi mereka --versi buku ini memuat tentang perkawinan dengan non Islam, sementara versi disertasinya tidak mencantumkan pembahasan itu, demikianlah terang kiai Moqsith dalam pengantar bukunya.

Alquran melarang menikahi orang musyrik (QS al-Baqarah [2]: 221), demikian juga Alquran menyuruh menceraikan orang kafir yang telah dinikahi (QS al-Mumtahanah [60]: 10). Akan tetapi Alquran membolehkan menikahi ahli kitab (QS al-Maidah [5]: 5), sekali lagi berdasarkan definisi dan klasifikasi non Islam yang telah dibuat sebelumnya.

Ulil Abshar Abdalla juga sependapat dengan kiai Moqsith tentang hal ini. Dalam sebuah forum Ia menggunakan argumentasi ini dalam menjawab pertanyaan tentang hukum nikah beda agama dengan menggunakan ketiga definisi itu --ahli kitab, kafir, musyrik-- sekalian dengan dalil-dalilnya masing-masing.

Akan tetapi yang jelas, nikah beda agama dalam konteks Indonesia --tulis kiai Moqsith-- dilarang sejak keluarnya fatwa MUI pusat tahun 1980 tentang haramnya nikah beda agama, untuk dua kategori sekaligus: (1) wanita muslimah dengan lelaki non Islam; (2) lelaki muslim dengan wanita non Islam. Larangan itu diformalisasi dalam Inpres No. 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam (KHI).

***

Sebagai suatu karya, buku "Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Alquran", adalah sumbangan intelektual yang sangat luar biasa. Apalagi buku itu ditestimoni oleh pelbagai cendekiawan muslim besar Indonesia seperti Nasaruddin Umar, Komaruddin Hidayat, Haedar Nashir, Dawam Rahardjo (alm.), Musdah Mulia, Djohan Effendi (alm.), hingga sastrawan sekelas Goenawan Mohamad.

Selain itu, buku ini mengurai persoalan menggunakan pendekatan yang mutakhir; selama ini metodologi yang dipakai dalam mengupas isu pluralisme agama, adalah Qawaidut Tafsir (kaidah-kaidah tafsir), serta Hermeneutika. Sementara buku kiai Moqsith menambahkan satu metode lain yakni Ushul Fiqih, sebagai pisau analisa tambahan untuk membedah tema ini.

Akan tetapi tentu masih banyak hal-hal yang tidak diungkapkan oleh kiai Moqsith. Antara lain, agama-agama di luar lingkup Abrahamistik seperti Hindu, Buddha, Konghuchu, serta kepercayaan lokal masyarakat seperti kejawen. Biar bagaimanapun mereka juga adalah kelompok agama yang harus diakui hak-haknya setara dengan pemeluk agama lain, kebenaran yang mereka sampaikan versi agama mereka juga patut didengarkan dan diapresiasi.

Hal itu bisa dipahami karena tidak adanya keterhubungan narasi antara agama semitik dengan agama-agama itu. Bukan tidak mungkin, cara mengatasinya adalah mencari titik temu persamaan ajaran, ditilik dari kitab suci dan sejarah bagaimana agama-agama itu bisa muncul, dan hubungannya dengan agama-agama abrahamistik.

Satu hal penting yang belum dijawab oleh kiai Moqsith dalam bukunya, yakni bagaimana bentuk penyimpangan atau distorsi atas wahyu pra-Alquran sehingga memicu turunnya wahyu Alquran serta nabi terakhir Muhammad, dan bagaimana status hukum ahli kitab yang mengamalkan bagian-bagian wahyu yang terdistorsi itu.

Sepertinya, hal terakhir ini membutuhkan tempat yang lain, ataukah buku selanjutnya yang bisa menyempurnakan buku kiai Moqsith tersebut, sekaligus mengoreksi bagian-bagian yang keliru dalam buku itu, jika ada.
________________________

Judul buku: "Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Alquran"
Penulis: Abd. Moqsith Ghazali
Penerbit: Katakita, Depok
Tahun terbit: Mei 2009 (Cet. II)
Tebal: xxv + 442 halaman

Saeful Ihsan. Yotuber dan Blogger, menetap di Palu.

SOSIAL BUDAYA, PANRITA KITTA’ - Sebagai bentuk apresiasi terhadap khasanah pengetahuan masyarakat bugis, akun instagram lacapila.id menggelar diskusi daring secara rutin membahas masalah warekkdeng yang secara sederhana bermakna sesuatu yang digenggam erat. Salah satu aspek yang menjadi pokok bahasannya adalah masalah teologi.

Secara teologis, orang Bugis menyebut zat adikodrati yang dipahami sebagai Tuhan dengan istilah séuwwaé. Untuk membahas masalah ini, lacapila.id menghadirkan seorang akademisi muda yang juga punya perhatian terhadap pelestarian budaya Bugis, Dr. H. Andi Singkeru Rukka, S.H., S.E., M.H.

Memulai pembahasannya, pembicara yang karib disapa Etta Aji Singke menguraikan makna kata séuwwaé secara bahasa. Menurutnya, setidaknya ada tiga makna yang terkandung dalam kata séuwwaé.

Petama, séuwwa bermakna tunggal. Etta Aji Singke mencontohkan penggunaannya dalam kalimat séuwwa tau. Kata séuwwa di sini sama dengan kata séddi atau satu sehingga séuwwa tau bermakna satu orang. Kedua, séuwwa bisa juga diartikan dengan mahluk, misalnya menyebut kata berulang séuwwa-séuwwa, maka maknanya adalah sesuatu.

Ketiga, kata séuwwa juga bisa diartikan berwujud. Orang Bugis ketika menunjukkan mewujudnya sesuatu akan mengatakan masséuwwa atau ta’lé. Dari sinilah Etta Aji Singke menyimpulkan bahwa bagi orang Bugis, makna ketuhanan lebih pada perwujudan dalam laku keseharian dibanding dengan pembahasan yang rumit, atau diskursus intelektual.

Pada kesempatan yang sama, Etta Aji Singke juga menegaskan bahwa kebertuhanan orang Bugis bukanlah asimilasi atau pengaruh dari kebudayaan India. Memang, orang Bugis menyebut Tuhan dengan istilah Déwata, tapi menurutnya, itu karena perubahan pembacaan atas kata Déwata dalam tulisan lontara, yang seharusnya dibaca Dé’watang.

Untuk jelasnya, silakan lihat gambar berikut:



Dé’watang sendiri bisa dipahami sebagai sesuatu yang tak bertubuh, tak berbadan, tak berwujud. Bila kata Dé’watang disambungkan dengan séuwwa, maka akan ditemukan makna sebagai sesuatu yang tak berwujud tapi mewujud. Menurut Etta Aji Singke, ini berarti bahwa keyakinan orang Bugis pada yang tak berwujud, diwujudkan dalam keseharian, dalam tingkah laku dan perilaku.

Etta Aji Singke menegaskan bahwa Bugis tidak memiliki model peribadatan yang khas sebagaimana agama Nasrani atau Islam misalnya. Bagi orang Bugis, seluruh aspek kehidupannya adalah perwujudan ibadah yang dituntun melalui pappaseng. Pappaseng ini adalah wasiat, yang membuatnya menjadi sesuatu yang wajib dilaksanakan.

Menurut Etta Aji Singke, seluruh semesta pappaseng berisi ajaran untuk saling menghormati dan menghargai sesama manusia. Pappaseng ini bisa direfleksikan dalam sulapa’ eppa berikut:
Sadda mappadupa ada
Ada mappaddupa gau’
Gau’ mappaddupa tau








Sadda itu adalah niat, suara hati, visi, dan keinginan, yang disuarakan dalam ada, lalu melahirkan gau’ atau tindakan. Gau’ lah yang mewujudkan tau atau manusia. Inilah model peribadatan manusia Bugis, melaksanakan papaseng dalam keseharian yang menjadi jalan untuk mewujudkan tau, manusia paripurna.

Mengenai konsep tau dalam perspektif Bugis, akan dibahas dalam sesi diskusi berikutnya. Selengkapnya untuk sesi ini, dapat disaksikan di kanal youtube Panrita Kitta’




tanggapan atas Ahmad Abdul Basyir

ESAI, PANRITA KITTA' - EK (Eka Kurniawan) hanyalah salah seorang di antara banyak pengarang, sekaligus karya-karyanya juga adalah salah satu di antara banyak karya yang sudah ada. Olehnya, tidak ada yang istimewa, semua sama saja, seharusnya tak usah diributkan. Begitu sepertinya yang ingin ditegaskan oleh Ahmad (Ahmad Abdul Basyir), kala memberi tanggapan terhadap polemik Itho, guru Zaid, dan saya sendiri tentang EK.

Dalam tulisannya yang berjudul Pembaca Pemula Terkait Eka Kurniawan, tepatnya pada paragraf ke kedua dari terakhir, Ahmad menuliskan, "Semua karya buku itu sama saja, siapa pun penulisnya. Kalau menghasilkan buku, maka itu layak dibaca."

Secara keseluruhan, saya menangkap inti dari tulisannya itu bahwa dari sudut pandangnya sebagai pembaca pemula, seharusnya setiap karya itu diapresiasi sewajarnya, yaitu dengan cara dibaca saja terlebih dahulu tanpa disertai dengan sikap kagum secara berlebihan.

Suatu karya disusun dengan mengeluarkan energi, menggunakan waktu yang banyak, dan menguras tenaga. Maka setiap karya patut diapresiasi.

Oleh sebab itu, Ahmad menyebut sikap Itho, guru Zaid, dan saya sendiri sebagai bentuk kepongahan. Menyerang dan membela EK sebagaimana balas membalas tulisan yang dia ikuti sebelumnya, adalah sesuatu yang berlebihan.

Ada beberapa kekeliruan Ahmad dalam tulisannya itu yang menurut saya merupakan bentuk ketergesaan dalam menyimpulkan. Selain itu, terkait mengapresiasi suatu karya, cara pandang Ahmad perlu dikoreksi.

Pertama, soal kepongahan. Saya teringat tulisan Gus Ulil Abshar Abdalla yang mengutip David Berlinski untuk mengukuhkan pendapatnya dalam menyerang Qutbiisme dan Saintisme. Gus Ulil menyebut keduanya pongah karena sama-sama fanatik. Itu sikap yang berlebihan. Saya kira Ahmad juga sepakat dalam pengertian ini kala dia menggunakan frasa "rasa kagum berlebih", terlebih pada kata "berlebih" itu.

Fanatisme, atau sikap berlebihan kaum saintis, dalam pandangan Berlinski adalah "Scientific Boasting", kepongahan saintifik. Analogi itu dipinjam oleh Gus Ulil juga untuk mengidentifikasi kepongahan kaum kanan, yakni Qutbiisme (penerus sayid Quthb, yang fanatik itu). Qutbiisme juga adalah "kepongahan relijius", kesamaan Qutbiisme dengan Saintisme adalah menganggap diri paling benar, dan lawannya adalah salah, atau rendah--ini adalah kepongahan.

Kedua, Ahmad menyebut Itho, guru Zaid dan saya pongah karena adanya sikap berlebihan terhadap EK dan karyanya. Ahmad sebenarnya perlu melihat konteks ketiga orang ini. Saya sebenarnya setuju-setuju saja jika dia menyebut pongah hanya Itho dan guru Zaid saja. Sebab jika Itho menyanjung EK secara berlebihan, guru Zaid justeru sebaliknya.

Itho menyebut bahwa EK "menunjukkan kelasnya sebagai generasi baru sastra Indonesia", dan hampir saja meletakkannya setara dengan Pram--jika bukan karena konteks zaman. Ini adalah suatu sikap pujian yang berlebihan.

Guru Zaid, hanya karena kecewa dalam membaca salah satu karya EK, yakni Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, lantas menyebut EK adalah pengarang yang karya-karyanya tak perlu dibaca. Sementara dia sama sekali tidak pernah melihat karya EK yang lain, atau setidaknya ada bagian dalam salah satu karya EK yang ada hal-hal baiknya. Sikap ini, sesungguhnya adalah penolakan secara berlebihan.

Tak pelak, keduanya--Itho dan guru Zaid--sama-sama pongah, karena sikap yang berlebihan itu. Hanya saja jika Berlinski menyebut saintisme sebagai "Scientific Boasting", Gus Ulil menyebut Qutbiisme sebagai "Kepongahan Relijius", maka saya menyebut keduanya "kepongahan paradigmatik"--Paradigmatic Boasting.

Jika saja Ahmad mencermati dengan baik tulisan saya yang terakhir, yaitu Mengapresiasi Bukan Berarti Memuja, dia tidak perlu menyamakan sikap saya dengan Itho yang memuji EK secara berlebihan itu.

Ketiga, yang dikemukakan oleh Ahmad tentang apresiasi itu sesungguhnya adalah apresiasi paling minimal. Siapa bilang suatu karya ditulis bukan untuk dibaca? Tetapi mengapresiasi lebih dari itu bukanlah sebuah masalah. Mengungkapkan kesalutan atas talenta seorang pengarang bukanlah suatu kepongahan, malah sikap itu adalah suatu akhlak yang terpuji. Asalkan tidak melebihi dari yang sewajarnya (berlebihan), yang oleh Ahmad dipersoalkan.

Bahwa seorang penulis (writer) atau seorang pengarang (author) menempuh jalan yang berdarah-darah dalam menghasilkan karya, itu satu hal. Kehebatan suatu karya adalah hal yang lain. Tetapi nampaknya Ahmad hanya mendasarkan apresiasi pada proses yang berdarah-darah itu, sedang mengapresiasi suatu karya yang memiliki kelebihan dari yang lainnya dianggapnya sebagai suatu kepongahan.

Satu hal yang luput dari perhatian Ahmad, bahwa suatu saat dia tidak akan mengapresiasi suatu karya yang ternyata diketahuinya adalah hasil plagiasi. Hal ini sekaligus membantah apa yang dia tuliskan pada paragraf kedua dari terahir dari tulisannya itu.

Ahmad harus segera mengoreksi cara pandangnya. Jika tidak, maka ia juga selamanya akan termasuk dalam kategori Paradigmatic Boasting, kepongahan paradigmatik.

Saeful Ihsan. Seorang blogger dan youtuber. Menetap di Palu.

ilustrasi dari U-Report

sekadar tanggapan

ESAI, PANRITA KITTA' - Polemik perihal Eka Kurniawan (EK) dan karyanya yang dipicu oleh tanggapan dari guru Zaid atas ulasan Itho Murtadha dengan judul Eka Kurniawan, telah memancing perhatian saya sebagai pembaca sastra awam. Ada apa dengan Eka Kurniawan?

Polemik yang lalu menuai respon dari Saiful Ihsan untuk ikut terlibat dalam polemik ini. Mereka lalu saling berbalas tulisan. Dalam perseteruannya ini, mereka menampilkan cara pandang tersendiri dan mempunyai perspektif masing-masing dalam menilai karya-karya seorang EK.

Menurut Itho, karya EK mampu menunjukkan kelasnya sebagai generasi sastra baru asal Indonesia, EK sangat jago mengulik cerita sehingga menjadi sebuah buku yang best seller. Bahkan karya EK tak hanya dinikmati masyarakat Indonesia tapi kini bisa dinikmati oleh masyarakat dunia.

Cantik Itu Luka misalnya, novel ini telah diterbitkan dalam bahasa Jepang dengan judul Bi wa Kizu dan juga dalam bahasa Malaysia dengan judul yang sama.

Namun bagi guru Zaid, karya EK tak perlu dibaca, diburu bahkan dipromosikan dengan intens. Karena baginya, ada yang lebih baik ketimbang karya EK. Seperti buku novel Amba dan Pulang karya Leila S. Chudori.

Sementara Saiful, senada dengan Itho melihat karya EK patut diapresiasi karena ini merupakan talenta. Meski bukan berarti karya EK harus dipuja berlebihan sebagaimana Bin Baz dipuja kaum Wahabi dan Ali Bin Abu Thalib bagi pecinta Ahlul bait.

Bagi saya sebagai pembaca awam, karya-karya EK patutlah kita nikmati saja dulu. Tak usah ada rasa kagum berlebih atau fanatisme. Karena bila kita sudah berada dalam kefanatikan, maka kita akan langsung memberi cap bahwa buku ini baik, atau buku ini tak baik.

Setiap tulisan patut diapresiasi --termasuk karya EK, menulis itu membutuhkan waktu untuk bisa menciptakan karya. Menyusun, merangkai kata menjadi sebuah kalimat itu tak gampang, butuh pikiran, butuh banyak bacaan buku dan butuh pengalaman.

Konon, EK dalam proses menulisnya, durasi waktu yang dibutuhkannya dalam menelurkan sebuah cerita, sekira sepuluh jam. Sisanya lebih banyak melamun, membangun narasi atau cerita di dalam kepalanya. Itupun hanya satu tulisan. Nah bagaimana dengan satu buku? Bagi saya, itu sangat susah.

Karena itu, saya merasa polemik ini hanyalah kepongahan dari Itho, guru Zaid, dan Saiful terhadap interpretasinya kepada karya EK. Semua karya buku itu sama saja, siapa pun penulisnya. Kalau menghasilkan buku, maka itu layak dibaca.

Membaca karya seorang penulis adalah bagian dari penghormatan kita terhadap seorang penulis, karena telah menciptakan karya-karya berupa buku sehingga mampu menambah pengetahuan dan wawasan kita.

Ahmad Abdul Basyir. Branwir yang sesekali membaca novel, cerpen, dan puisi.

menepis tudingan glorifikasi dari guru Zaid

ESAI, PANRITA KITTA' - Tanggapan guru Zaid terhadap saya dalam tulisan yang berjudul, Glorifikasi Eka Kurniawan dalam Kepala Itho M. dan Saeful, semakin meyakinkan saya bahwa guru Zaid adalah benar-benar seorang guru. Bukan saja guru SMA, tetapi seorang guru kehidupan.

Guru yang saya maksudkan di sini bukanlah guru dalam pengertian hari ini (das sein), yaitu guru adalah sekadar seorang pengajar yang memakai seragam ASN, menyusun RPP, mengajar di kelas, sekaligus aktif mengurus persyaratan sertifikasi guru. Khusus di masa pandemi Covid-19, guru memiliki pengertian tambahan, yaitu segala yang telah disebutkan plus memberi tugas yang dikerjakan dari rumah secara daring.

Bukan, tetapi yang saya maksudkan adalah guru yang selayaknya (das sollen). Yakni guru yang lebih jauh dari sebagaimana adanya, memegang teguh suatu prinsip dengan kokoh. Bahwa pendidikan lebih dari sekadar pengajaran, di dalamnya ada tanggung jawab. Dalam hal polemik EK, guru Zaid memandang karya sastra harus tetap etis, lebih baik disajikan dalam bentuk ontologi kerahasiaan. Bukan sebaliknya, ontologi ketelanjangan akan mengundang kerusakan ekosistem kesadaran.

Tetapi ada hal yang perlu saya klarifikasi atas penilaian guru Zaid terhadap saya, yaitu glorifikasi EK di (dalam) kepala saya. Glorifikasi yang dimaksud adalah semacam memuliakan atau meluhurkan EK.

Sebagaimana yang ia definisikan, "Sebuah sikap hidup yang melupakan konteks ruang dan waktu secara utuh dan holistik". Definisi itu merupakan analogi dari sikap segelintir orang yang memuja rezim orde baru. Kelompok-kelompok ini sesungguhnya muncul di era reformasi ini, yaitu mereka yang jenuh terhadap kebebasan dan merindukan otoritarianisme ala orde baru. Maksudnya penguasa yang tegas, supaya pengelolaan negara tidak kacau balau.

Baiklah, klarifikasi akan saya mulai judul tulisan saya terdahulu, Eka Kurniawan Memang Patut Diapresiasi. Kala kita mengapresiasi seseorang karena kepiawaiannya, tidak lantas menjadikan kita memujanya, atau meluhurkannya. Dalam tulisan saya sebelumnya, saya sudah mengatakan bahwa:

 "Mengapresiasi EK sebagai penulis favorit bukan berarti menjadikannya sebagai pemegang nilai yang harus dijunjung, diikuti, dan dibela habis-habisan. EK di mata para fansnya, tak seperti Bin Baz bagi kaum Wahabi, atau seperti Imam Ali bin Abi Thalib bagi pencinta Ahlulbait. Karena EK bukan datang dengan kebenaran, tetapi dengan talenta, dan kita sadari itu."

Secara pribadi, yang saya kagumi dari EK adalah talentanya, bukan keharusan metode tertentu dalam mengungkapkan realitas: menggunakan ketelanjangan.

Menurut saya, jika suatu karya sudah diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa, seperti novel Cantik Itu Luka, itu menandakan pengarangnya memiliki talenta yang luar biasa. Benar saja, EK membuktikan itu: di luar dari pengungkapan segala yang telanjang, EK memiliki kemampuan yang tidak biasa, yaitu ia mampu menyatukan beberapa tokoh yang berasal dari kurun waktu yang berbeda, tetapi bisa berinteraksi dalam satu zaman: Maman Gendeng datang dari masa pra-kolonial, dari jaman para pendekar; Shodanco datang dari masa penjajahan jepang; Kamerad Kliwon yang datang dari jaman G30S PKI; dan si tokoh utama Dewi Ayu yang hidup di semua jaman.

Singkatnya, apresiasi itu lebih saya maknai sebagai sikap memuji, bukan memuja. Apresiasi paling minimal terhadap karya seseorang, adalah membacanya. Paling bagus kalau bisa meresensi, atau bahkan men-syarah karya tersebut.

Sejauh ini saya pernah membaca cerita eksotis yang lebih ekstrim dari EK, itu sudah lama sekali. Yaktu Cerpen milik Djenar Maesa Ayu yang berjudul, Disusui Ayah. Ada lagi satu yang saya lupa judulnya, yang jelas itu tentang seorang suami yang dianggap sekadar seonggok daging, cerpen itu diceritakan dari empat sudut pandang yang berbeda. Satu cerpen terdiri dari empat bagian, dan setiap bagian menggunakan kata ganti orang dan perspektif yang berbeda.

Saya juga sudah pernah membaca karya Ayu Utami, yang katanya mengandung erotisme hubungan asmara. Tetapi atas kedua macam cerita yang menampilkan diri berciri ketelanjangan ini, yang saya garis bawahi bukan ketelanjangannya, melainkan cara pengarang memahami realitas, kemudian mengungkapkannya dengan bahasa tertentu. Akhirnya kita menjadi tahu, "oh, ada toh yang beginian".

Lagipula, saya tidak harus membatalkan apresiasi saya terhadap EK lantaran membaca karya-karya milik Dee Lestari, Ayu Utami, Leila S. Chudori, Laksmi Pamuntjak, atau yang lainnya. Sebaliknya, saya akan lebih banyak melihat kekhasan dan keunikan dari macam-macam pengarang jika saya membaca semua mereka. Saya tidak harus membuat Dee dan EK bertentangan, atau Ayu dan EK menjadi bersaing.

Apresiasi terhadap karya-karya mereka tidak harus saya letakkan pada "meninggalkan suatu bacaan karena ada bacaan yang lain". Tetapi saya tetap harus mengkritisi dan membandingkan karya-karya yang berbeda, sekadar dalam rangka memperkaya khazanah. Lebih tidak.

Namun, guru Zaid menganggap saya berlebihan dalam menilai EK, terletak pada bagian terakhir tulisan saya. Di situ saya mengajukan EK layaknya intelektual penggerak perjuangan, melalui pendidikan politik. Kemudian guru Zaid mengajukan tiga pertanyaan:

 "1. Apakah apresiasi EK yang dilakukan Saeful merupakan bagian dari pendidikan politik?
2. Apakah menerima sensasionalisme terhadap bahasa vulgar dan telanjang, merupakan inovasi mencerahkan pandangan politik publik Indonesia?
3. Benarkah EK merupakan kelas intelektual yang memiliki visi politik pencerahan bagi kesadaran politik Indonesia?"

Saya tak perlu menjawabnya satu persatu. Karena pertanyaan itu berangkat dari salah paham guru Zaid terhadap pernyataan saya di paragraf terakhir itu. Itu juga--saya akui--karena lupa mendetailkan, sesungguhnya itu apa maksudnya?

Itu adalah pengibaratan, karena Itho sudah terlanjur menghubungkan Pram dan EK dengan komunitas berhaluan kiri, keduanya Marxis. Saya mau bilang, Pram Ibarat mewakili perjuangan proletariat dalam pengertian Marx. Bagi Marx, perjuangan kelas itu mekanis. Pram adalah representasi kaum proletar yang jenuh dengan penindasan itu, dan akhirnya melawan.

EK, bukan representasi proletariat. Di tulisan sebelumnya, saya menyebut EK sebagai Intelektual. Tetapi di situ saya juga menyebut Lenin. Kita kan tahu bahwa intelektual dalam pandangan Lenin adalah orang partai, dan mereka itu berasal dari kaum borjuis. Karena dalam pandangan Lenin, proletariat tidak akan revolusioner tanpa dipimpin oleh partai. Di situlah saya membedakan posisi Pram dengan EK, untuk menepis anggapan, "EK is the new Pramoedya...."

Jadi, sesungguhnya saya tidaklah mengagungkan EK. Hanya sekadar mengapresiasi. Tidak lebih.

Saiful Ihsan. Seorang Blogger dan Youtuber, menetap di Palu.

sebuah pembelaan demi keselamatan pikiran

ESAI, PANRITA KITTA' - Setiap peristiwa harus dilihat konteksnya. Tentu saja 'konteks' yang saya maksud meliputi konteks ruang dan konteks waktu sekaligus. Begitulah siasat hermeneutika, ada bersama dengan dunia.

Bila konteks ruang selalu berkaitan erat dengan dimensi kebudayaan, sosiologi politik, hingga motif ideologi maka konteks waktu merupakan dimensi historitas yang melukiskan dialektika ide menjadi kenyataan.

Maka jangan heran, kelompok masyarakat Indonesia yang terlanjur 'bahagia' dalam ekosistem politik orde baru, hingga kini masih terus menyuarakan keunggulan-keunggulan semu pada masa kekuasaan Soeharto. Mereka menganggap kehidupan era reformasi sebagai manifestasi hidup tanpa kepastian.

Dalam analisis konteks, paradigma militan kelompok pemuja orde baru ini terbentuk oleh berbagai formasi diskursus 'konteks ruang' baik itu kebudayaan, politik maupun ideologi.

Pada masa orba, moralitas publik itu harus berhamba pada moralitas penguasa. 'Kebenaran tertinggi' dalam kehidupan bermasyarakat itu merupakan hak prerogatif penguasa. Setiap protes kepada penguasa merupakan dosa negara yang harus segera dibasmi hingga ke akar-akarnya.

Sementara konteks historis yang membentuk keseragaman jiwa pendukung orde baru, sangat ditentukan oleh diversifikasi program-program seremonial, indoktrinasi Pancasila melalui penataran P4, hingga melalui militerisasi corak berpikir masyarakat.

Andai diajakukan pertanyaan hipotetik, mengapa homo orbaicus, demikian setia pada dunia masa lalunya?

Maka jawaban mudahnya, oleb sebab mereka terlanjur dipenjara 'glorifikasi zamannya'.

Apakah maksud glorifikasi zaman itu sendiri? Sebuah sikap hidup yang melupakan konteks ruang dan waktu secara utuh dan holistik.

Homo orbaicus, terlanjur menikmati penjara pikiran dunianya sendiri. Mereka memandang Indonesia, dengan alam pikiran yang mereka ciptakan sendiri. Tiada tempat bagi kelompok yang menentang pemerintah. Bagi mereka, konteks ruang dan waktu itu sepenuhnya dikuasai dan dikendalikan oleh pihaknya.

***

Dalam pengertian glorifikasi di atas, saya menyaksikan sendiri Itho Murtadha (Itho) juga menilai Eka Kurniawan (EK) dalam bingkai glorifikasi. Pada kedua tulisannya, Itho terlanjur bernafsu menjelaskan kedudukan EK, hanya dari kekaguman individual semata. Ia seolah lupa, bahwa konteks 'karya-karya' EK jauh lebih penting daripada sekadar nama besar EK sebagai salah satu novelis Indonesia terkemuka saat ini.

Pada tulisan pertamanya, Itho menunjukan kekaguman pada dua karya EK yaitu kumpulan cerpen Cinta Tak Ada Mati dan novel Cantik Itu Luka. Ia bahkan dengan terus terang mengakui begitu emosional ketika membaca  cerpen yang berjudul Surau.

sesaat emosi kita digulung-gulung. Diaduk-aduk selama beberapa menit—untuk ukuran normal membaca—oleh sebuah peristiwa biasa yang diceritakan kembali oleh Eka.

Pengakuan Itho di atas jelas sebuah bingkai glorifikasi. Ia hanya berhenti pada sihir kata-kata EK. Ia tak memiliki nafsu menggeledah pemihakan EK dalam cerpen itu.

Benarkah 'lupa bacaan salat', sebagaimana dinyatakan EK merupakan jalan buntu hidayah?

Haruskah setiap kebimbangan yang lahir dari beban masa lalu, pada akhirnya dibiarkan kalah oleh selera penulis?

Bukankah, terlalu jauh menyangkal kehadiran Tuhan meski pada hati yang senantiasa mengingkariNya?

Bahkan untuk sepintas, menyandingkan narasi Surau ala EK dengan cerpen AA Navis yang berjudul Robohnya Surau Kami, Itho pun lupa melakukannya. Sekali lagi inilah bukti bila glorifikasi EK dalam pikiran Itho, benar-benar terjadi.

Selanjutnya Itho berkata :
Sepanjang bacaan saya, karya-karya Eka selalu padat dengan kritik sosial. Tak ada cerita yang berdiri tunggal sebagai sebuah cerita. Ia selalu memuatinya dengan kritik atas keadaan sosial. Entah itu keserakahan, kezaliman, kemunafikan, kesewenang-wenangan, dan lain sebagainya. Tetapi selalu satire.

Dalam Cantik itu Luka, misalnya, Eka hendak menguak bagaimana praktek perbudakan seks berkelindan-rapat dengan kolonialisme. Perbudakan seks adalah sisi kelam yang tak terelakkan dari kolonialisasi.

Tetapi sebagaimana khas Eka, ia tak akan mengumpat-ngumpat kolonialisme sebagai sebuah kejahatan satu bangsa terhadap bangsa lain. Atau mengonstruksi sosok Dewi Ayu sebagai wanita korban penjajahan seksual yang kemudian bangkit menenteng senjata melawan kaum penjajah.

Ketiga paragraf pernyataan Itho di atas, paling tidak menunjukkan mandulnya sikap kritis di hadapan kekaguman literatif. Altar pemujuaan aksara terhadap EK, membuat Itho 'fana' dalam letupan-letupan imajinasi EK.

Tentu saja, konsekuensi totalitas cinta Itho terhadap EK membuat tulisan-tulisannya mudah ditebak. Di sana-sini, penuh pujian. Ia seolah bait-bait lagu yang mendendangkan EK penuh harmoni yang syahdu.

Untungnya, pada tulisan kedua yang berjudul Eka dan Pram Mewakili Lingkungan Sosial dan Sejarah yang Berbeda, Itho mulai menyadari kekeliruannya.

Ia mulai bicara tentang konteks, bukan lagi semata soal narasi kekaguman individual pada EK. Meski Itho masih menunjukan pembelaan yang setia pada EK, namun Ia tetap mempertahankan gaya apologi khas analisis sastrawi.

Tetapi sebagaimana beber Pram, bahwa Pram adalah Pram, maka Eka juga adalah Eka. Eka tentu saja tak bisa menjadi Pram. Atau dipaksa menjadi Pram. Seberdarah apapun upaya kita.

Konteks paragraf di bagian akhir tulisan kedua ini, nampaknya menjadi pernyataan antiklimaks seorang Itho. Ia terlalu kompromistis sebagaimana pendukung teori glorifikasi.

Ingat, 'ruh emansipatoris sastra', justru terletak pada kritik sastra yang berhasil membersihkan debu-debu glorifikasi yang melekat pada setiap huruf-huruf sastrawi.

***
Harus diakui, pesona kepenyairan EK sedang bagus-bagusnya. Apalagi setelah EK menolak untuk menerima penghargaan kebudayaan dari negara pada tahun 2019, melalui Kementrrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam bahasa penolakannya, yang begitu banyak diapresiasi kalangan seniman dan budayawan, EK justru menunjukan 'ketidakseriusan' pemerintah dalam melindungi kerja-kerja kebudayaan.

Menurut EK, menerima anugerah kebudayaan negara kepada dirinya sama saja merestui peran-peran negara yang terlanjur membiarkan terjadinya pengkhianatan kebudayaan di republik ini.

saya kasih contoh bagaimana buku begitu mudah dirampas dan dirazia, di toko buku kecil dan besar

industri buku sudah lama teriak-teriak soal pembajakan buku, tapi nyaris tiada perkembangan berarti

Sikap dan protes EK, membuktikan bahwa pencemaran dunia politik dalam kehidupan kebangsaan tidak cukup kuat untuk membeli integritas seorang EK.

Bahkan saat EK menginterupsi 'keberpihakan negara' pada pahlawan dunia olahraga dengan memberi hadiah 1,5 M bagi peraih emas Asian Games, sementara pahlawan kebudayaan 'cukup' dihargai sebesar 50 juta, maka EK melihat negara terlalu dijajah glorifikasi nasionalisme semu.

Dari EK kita belajar, harga diri bangsa di dunia olahraga dengan menggelontorkan dana yang besar, malah menjerumuskan peradaban bangsa pada titik nadir kehinaan yang memalukan. Mengapa? Karena kita sibuk mengejar pengakuan internasional, sementara kebudayaan dibiarkan terlantar tanpa kehadiran negara.

Apakah, saya lantas tertarik untuk membaca kembali karya-karya EK dengan sederet glorifikasi kisah hebat EK? Tentu saja, TIDAK!

***

Subjektivitas apresiasi karya sastra yang didedah Saeful, pada akhirnya juga merupakan selera yang individual. Tapi dalam ruang publik, selera individu bisa dihakimi. 

Saat Jokowi mengungkapkan kegemarannya membaca komik Doraemon dan Sinchan, maka dalam konteks ini publik berhak menggugat, apakah Jokowi benar-benar paham jalan pikiran Soekarno, Tan Malaka, hingga Hatta dan Sutan Sjahrir? Mau jadi apa bangsa ini dengan gerakan literasi model Doraemon dan Sinchan?

Demikian pula, penilaian Saeful kepada EK yang menurut saya terlalu berlebihan. Penilaian yang diaduk-aduk glorifikasi, meniscayakan penilaian penuh cacat di sana-sini.

Mari kita cermati pernyataan Saeful ;
Jika Pram ibarat melawan karena ia proletar, dengan segenap pikiran ala proletariat. EK ibarat menjalankan peran sebagai intelektual penggerak perjuangan, menyadarkan kelas melalui pendidikan politik.

Pertanyaan kita,
1. Apakah apresiasi terhadap EK yang dilakukan Saeful merupakan bagian dari pendidikan politik?

2. Apakah menerima sensasionalisme terhadap bahasa vulgar dan telanjang, merupakan inovasi mencerahkan pandangan politik publik Indonesia?

3. Benarkah EK merupakan kelas intektual yang memiliki visi politik pencerahan bagi kesadaran politik manusia Indonesia?

Terhadap ketiga pertanyaan itu, bayang-bayang glorifikasi dalam imajinasi Saeful dan pengagum EK tentu akan menyeret mereka pada banjir bandang perspektif yang tidak sakral.

Mereka tidak bisa lagi menyaksikan kejernihan di balik kerusakan ekosistem kesadaran pada sekelompok penikmat sastra Indonesia 'kelas kelamin'.

Cacat bawaan pikiran Saeful, berangkat dari ontologi ketelanjangan jauh lebih eksotis daripada ontologi kerahasiaan. Bila ontologi ketelanjangan memuja semua keterusterangan hingga terbuka apa adanya, maka ontologi kerahasiaan merupakan desain teka-teki yang hanya terungkap dalam kesunyian.

Derajat ontologi ketelanjangan pun, bertingkat-tingkat. Ada yang levelnya sarkasme, ironisme maupun satirisme.

Pada titik berangkat inilah, penilaian saya pada EK tidak berubah. EK memilih jalan sastra yang berbeda dengan Ayu Utami, Dewi Lestari, Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak. Bukankah menciptakan kecanggihan ungkapan soal 'kelamin' menjadi lebih estetik dan etik, justru buku Eka yang pernah saya baca, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, menampilkan bahasa-bahasa yang mundur dari pencapaian kuartet penulis perempuan di atas. Dan inilah alasan paling utama, saya menyingkirkan EK sebagai penulis layak baca dan apresiasi.

Kalaupun Saeful mengagumi konteks cerita EK dalam novel Cantik Itu Luka, saya pikir itu karena Ia belum akrab dengan konteks cerita Ayu Utami, Dee, Leila, dan Laksmi yang amat mahakaya perspektif. Maka Mintalah Tuan Itho Murtadha memfasilitasi buku-buku karya Srikandi Sastra Indonesia kontemporer itu.

Kalaupun, tidak bertaubat, minimal Adinda Saeful bisa membersihkan debu-debu glorifikasi dalam penilaian terdapat Eka Kurniawan.

Zaid. Pegiat Komunitas Pena Hijau Takalar.

tanggapan atas resensi Itho, tanggapan guru Zaid, dan tanggapan atas tanggapan oleh Itho

ESAI, PANRITA KITTA' - Zaid --yang seorang guru, menurut (dugaan) saya, tidak melepaskan jiwa keguruan dalam dirinya kala memandang Eka Kurniawan (EK). Kita tahu, bahwa seorang guru pada umumnya tidak menyukai murid yang nakal. Walau ada yang berhasil menyembunyikan kejengkelan, tetapi tetap saja lebih menyenangi murid yang penurut dan baik hati.

Mengapa saya menduga demikian? Karena Zaid hanya berhenti pada cukup menamatkan bagian satu saja novel EK yang berjudul Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Dia tidak menjelaskan alasannya mengapa. Hanya tidak suka saja gaya berceritanya. Sementara gaya bercerita EK itu liar, ia terlalu nakal untuk ukuran penulis best seller; EK seperti tidak memfilter sama sekali kata-kata tidak senonoh yang digunakannya menurut standar kepantasan umum.

Apalagi dalam novel yang telah disebutkan itu, EK tidak mencarikan kata ganti untuk diksi-diksi vulgar seperti kemaluan, demikian halnya dengan ngaceng, dan lain sebagainya. Semua diungkapkan secara telanjang dan apa adanya. Bahkan disajikan seenak hati dan semau pengarang. EK bikin cerita sesuai dengan imajinasinya tentang fakta yang tersembunyi di sudut-sudut kebudayaan masyarakat; suatu episode kehidupan yang hanya dialami oleh orang-orang tertentu, yang kisah hidupnya terlalu menjijikkan untuk diungkap.

Saya tidak yakin kalau Zaid tidak membaca karya-karya EK yang lain, sehingga dia menyimpulkan bahwa bagi dia, EK adalah penulis yang karya-karyanya tak perlu dibaca, diburu bahkan dipromosikan begitu intens. Alasannya? Karena masih banyak karya-karya sastra mutakhir Indonesia, walau tanpa kehadiran EK.

Entah mengapa, saya menafsirkan bahwa  Zaid mencoba menafikan EK, berarti sekaligus menafikan kekhasan karya-karya EK, hanya karena dia tidak suka dengan gaya EK bercerita. Tetapi kita tidak bisa menggugat selera, sesuatu yang ukurannya suka atau tidak suka. Zaid tentu bebas untuk mengungkapkan ketidaksukaannya, dan dalam konteks ini Zaid juga tidak mengharuskan orang lain untuk bersikap seperti dia. Karena ketidaksukaannya itu subjektif.

Bagi saya pribadi, Eka Kurniawan adalah penulis--lebih tepatnya pengarang--yang patut diapresiasi. Dalam pandangan saya, EK menggunakan kata-kata telanjang sekadar untuk mencari sensasi, agar masalah sesungguhnya yang diangkat EK bisa dilirik terlebih dahulu. Ya, kita tahu bahwa selera humor kaum lelaki selalu  yang bernuansa cabul. Walau tidak semua lelaki seperti itu.

Mengapresiasi EK sebagai penulis favorit bukan berarti menjadikannya sebagai pemegang nilai yang harus dijunjung, diikuti, dan dibela habis-habisan. EK di mata para fansnya, tak seperti Bin Baz bagi kaum Wahabi, atau seperti Imam Ali bin Abi Thalib bagi pencinta Ahlulbait. Karena EK bukan datang dengan kebenaran, tetapi dengan talenta, dan kita sadari itu.

Baiklah, untuk mengomentari argumentasi guru Zaid, saya cukup pada novel EK yang satu ini, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Satu-satunya karya EK yang disebutkan judulnya pada saat Ia menanggapi resensi kanda Itho. Kalau saya, tak akan berhenti pada gaya berceritanya, melainkan melihat apa sebenarnya yang hendak diangkat oleh pengarang?

Ajo Kawir, tokoh utama yang diceritakan mengalami problem seks yang membuatnya dilema berhari-hari, ia tak bisa ngaceng. Geli juga sih sebenarnya membaca hal ini diulangi terus menerus pada setiap bab. Akan tetapi, yang menarik adalah, saat lelaki kehilangan kemampuan ngacengnya, ia hidup dengan kenyataan yang pahit, stres, dan sulit untuk berpikir jernih.

Gegara dilanda impotensi akibat kedapatan ngintip aksi nakal dua petugas terhadap seorang janda nirwaras, Ajo Kawir menjadi sosok pemurung, emosinya meluap-luap, dendamnya tak terbayarkan. Olehnya, ia bersedia berkelahi dengan siapa saja, termasuk dengan preman nomor wahid di kampungnya--si Macan.

Kisah cintanyapun jadi berantakan. Iteung si pendekar wanita yang mencintainya, yang dulu ditaklukkannya melalui kekalahannya bertarung bersama Iteung, lalu dinikahinya, tak dapat disentuhnya layaknya pasangan suami isteri lainnya. Hingga Iteung hamil, hasil dari orang lain. Ajo Kawir semakin meratapi nasibnya.

Bagaimana kalau kita yang berada pada posisi Ajo Kawir? Berapa orang yang bisa tetap berperilaku positif jika mengalami nasib yang demikian?

***

Membaca resensi buku kumpulan Cerpen EK, Cinta Tak Ada Mati oleh Itho Murtadha, menjadikan saya mengingat kembali cara bercerita EK yang khas. EK memiliki selera humor yang tinggi, saking tingginya jadi keterlaluan. Dia bebas saja mengambil apapun yang menjadi bahan leluconnya. Bagi saya, adegan paling lucu yang dibuat EK adalah pada novel Cantik Itu Luka, tepatnya pada bagian tentang Alamanda yang berhasil membuat (mohon maaf) celana dalamnya memiliki perlindungan berlapis dari suaminya: terbuat dari baja, dipasangi gembok, dan dilindungi mantera sakti.

Alamanda merupakan puteri Dewi Ayu si Pelacur, terpaksa menikah dengan seorang Shodanco lantaran sudah terlanjur dinodai dengan cara yang curang. Ia diperkosa dengan cara dibius.

Dalam hal mengomentari tulisan kanda Itho, saya tertarik pada seputar novel Cantik itu Luka karya EK yang dibahasnya. Itho berkata, "Eka juga dikenal pula sebagai penulis surealis, memadukan hal-hal yang tak nyata dan yang nyata." Contohnya, Dewi Ayu yang bangkit dari kubur, setelah berdasawarsa sebelumnya dinyatakan meninggal, dan kita percaya itu.

Menurut pembacaan saya, sosok Dewi Ayu yang ditampilkan dalam bentuk person itu sekadar simbolik. Saya menangkap bahwa, maksud EK, wanita bernasib seperti Dewi Ayu bisa terlahir kembali, atau bisa bangkit dikemudian hari dalam bentuk yang lain, mereka yang belakangan mengenal lebih dalam terhadap realitas. Jadi, makna denotatifnya bukanlah mistik, tetapi ini adalah rangkaian kejadian yang ada pada setiap zaman.

Dewi Ayu dalam bentuk paling awal, yaitu ketika awal mula masuk di penjara pemerintahan Jepang. Ia ditangkap karena memiliki ciri belanda: mata biru, kulit putih, dan rambut pirang, walau tetap lebih mirip dengan wanita pribumi. Karena Dewi Ayu adalah Indo--campuran pribumi dan Belanda totok (asli).

Dewi Ayu bukan melakukan perlawanan, tetapi ia menukar kehormatannya dengan keselamatan seorang anak yang diserang panas tinggi, supaya mendapat obat penawar dari pemerintah Jepang.

Lainnya adalah dimana sosok Dewi Ayu hidup di masa normal, ia melayani satu tamu untuk satu hari tanpa rasa cinta. Ia hanya bertindak sebagai penyedia jasa bagi yang membutuhkan. Anehnya, di novel itu, Dewi Ayu yang seharusnya sudah berumur, lebih diminati para lelaki ketimbang puteri-puterinya yang cantik-cantik. Sehingga jajaran menantu pun berebut ingin merasakan bagaimana bercinta dengan sang mertua. Kalau cerita ini dimaknai denotatif, kan kacau. Tetapi begitulah cara EK, tidak memberikan panduan tertentu bagaimana harus membaca karyanya, sebagaimana penulis fiksi pada umumnya.

Ada juga pada bagian lain, realisma yang dibalut mistik. Yaitu pada bagian Rengganis si Cantik membuat pengakuan di dalam kelas, bahwa ia digauli oleh seekor anjing di toilet sekolah saat hendak buang air kecil. Teman-temannya tak satupun yang menyaksikan seekor anjing ada di sekolah selama ini.

Padahal, si Anjing tidak lain adalah putera dari Kamerad Kliwon. Si Anjing adalah sepupunya sendiri. Begini: Ia datang meniru model seekor anjing, merangkak dan menjulurkan lidah. Si Rengganis berupaya diyakinkan berkali-kali bahwa si sepupu adalah seekor anjing. Hingga si Rengganis tahunya bahwa lelaki itu adalah seekor anjing.

Pesannya apa? Sesuatu yang diulang-ulang, walau salah, suatu saat akan diterima sebagai sebuah kebenaran, dan itu berbahaya.

***

Pram adalah Pram, Eka adalah Eka.

Setiap pengarang memiliki ciri khas. Sangat kecil peluang para pengarang untuk memiliki karakter yang sama persis. Sebab mereka hidup di dunia kreasi. Setiap ciptaan memiliki kekhasannya sendiri-sendiri, ciptaan yang sama persis sudah pasti plagiasi.

Demikian halnya dengan EK dan Pram, saya juga termasuk orang tidak sepakat kalau ada yang berkata, Eka Kurniawan is the new Pramoedya Ananta Toer. Bukan lagi karena perbedaan karakter, tetapi ada beberapa faktor: Ideologi; zaman; karakter masyarakat yang dihadapi; serta daya kreasi, meliputi kekuatan dan daya tahan seorang pengarang.

Saya malah melihat bahwa EK lebih dekat ke Milan Kundera ketimbang Pram. Novel Kundera, The Book of Laughter and Forgetting juga memiliki kemiripan cara bercerita dengan novel EK, Cantik Itu Luka. Ada latar sejarah tertentu, ada kebudayaan masyarakat, ada mistik, dan yang terpenting adalah lelucon--humor.

Itho seolah tampak seperti ingin melihat adanya sedikit kemiripan antara EK dan Pram yaitu keduanya sama-sama berhaluan kiri; EK yang PRD dan Pram yang Lekra (milik PKI).

Saya jadi membayangkan, Pram mewakili kaum proletar yang melawan dalam perjuangan kelas ala Marx. Sementara EK mewakili kaum intelektual dari kalangan partai revolusioner yang memimpin revolusi, ala Lenin, atau Gramsci. Jika Pram ibarat melawan karena ia proletar, dengan segenap pikiran ala proletariat. EK ibarat menjalankan peran sebagai intelektual penggerak perjuangan, menyadarkan kelas melalui pendidikan politik.

Saeful Ihsan. Blogger dan Youtuber,  menetap di Palu.