Senin, 21 Januari 2019

Hati-hati! Membaca Bisa Membunuhmu

BUOL, PANRITAKITTA' - November 1327. Adalah biarawan William dan muridnya Aldo, ketika berkunjung ke Biara Benediktin, menghadapi masalah yang pelik. Kedatangan mereka disambut oleh kematian. Tepatnya, kematian demi kematian. Bermula dari terbunuhnya Adelmo, seorang biarawan muda; iluminator, hingga berturut-turut kematian yang lain.
Rangkaian kematian demi kematian terus terjadi hingga kemudian William dan Adso menemukan kenyataan bahwa penyebabnya berasal dari sebuah buku. Di Aedeficium, bangunan sentral di biara itu, terdapat ruang perpustakaan yang menyimpan begitu banyak macam koleksi buku. Salah satunya adalah buku asli karya filsuf termasyhur, Aristoteles. William menduga buku inilah yang menjadi penyebab kematian satu per satu penghuni biara itu.
Adalah Jorge, penghuni tertua di biara itu, yang menaruh racun di buku karya Aristoteles. Tujuannya satu: agar keimanan (religiusme) para biarawan tidak tercemari oleh filsafat. Ajaran yang dituduh paganis dan jauh dari cahaya kebenaran Tuhan. Sesiapa saja yang membaca buku itu, pasti terbunuh karena racun yang ditaruhnya.
Di akhir kisah, ketika kejahatannya terkuak, di hadapan William dan Aldo, Jorge malah memakan lembar demi lembar buku karya Aristoteles itu—yang tentu saja membuatnya menemui kematian—dan menyulut api yang kemudian menyebabkan terjadinya kebakaran hebat yang melumat seluruh isi perpustakaan. Perpustakaan, yang tidak lain adalah perpustakaan Kristen terbesar dan terlengkap kala itu.
***
Umberto Eco, yang menuliskan kisah di atas dalam novel-tebalnya yang apik “The Name of The Rose” sebenarnya hendak mendeskripsikan: bagaimana pengetahuan, sebagai pandu hidup dan instrumen pencapaian kebenaran, bisa menimbulkan ketakutan yang mendalam di kalangan kaum puritan. Kaum agamawan yang anti akal. Anti pengetahuan.
Di kalangan kaum agamawan, pengetahuan didakwa sebagai anti Tuhan. Ia dianggap bisa menyebabkan orang murtad. Pengetahuan tidak saja mengotori kesucian agama, tetapi juga sekaligus menjadikan seseorang jahat. Tersesat. Roh jahat dan tindak-tanduk buruk iblis bisa menjelma pada diri manusia, jika ia berpengetahuan.
Dalam konteks sosio-historis, cerita Eco sebenarnya hendak mengingatkan kepada kita: bahwa peristiwa seperti itu tidak hanya soal masa lalu, tapi juga bisa terjadi di masa kini dan berikutnya. Ia bisa datang menghantam berkali-kali. Berulang, dari masa ke masa.
Apa yang terjadi di Kediri baru-baru ini adalah potret nyata dari cerita Eco. Sekelompok aparat melakukan sweeping terhadap buku-buku kiri. Buku-buku yang dianggap membahayakan ideologi bangsa. Kehadiran buku-buku kiri, menurut mereka, adalah pertanda bangkitnya PKI—partai beraliran komunis yang terlarang itu.
Memang, ada dua anasir yang sangat berkepentingan terhadap penghilangan buku-buku kiri. Pertama, kaum agamawan puritan. Bagi kaum agamawan puritan, membaca adalah aktivitas terlarang. Tidak saja terhadap buku-buku kiri, tetapi bahkan untuk mempelajari filsafat Islam, logika, atau sains pun tak boleh. Yang pasti, semua ilmu yang tak berkorelasi langsung dengan agama adalah haram.
Gerakan puritanisme tegak di atas frame: bahwa penalaran, apa pun bentuknya, tak diperbolehkan. Agama bukan untuk dinalar tapi dijalankan. Dalam gerakan ini, tekstualisme mengambil bentuk yang paling ekstrim. Agama mutlak diperlakukan sebagaimana termaktub dalam teks. Dalam nash-nash yang ada. Tak ada ruang untuk melakukan pengayaan perspektif melalui tindakan penalaran.
Di banyak tempat, praktik puritanisme agama ini ditandai dengan pengharaman untuk membaca buku-buku tertentu. Tak boleh ada diskusi soal agama. Apalagi debat. Debat tak hanya merusak atmosfer beragama, tetapi juga mengeraskan hati. Setiap tindakan “mempertanyakan” apa-apa yang telah digariskan dalam agama adalah bentuk ketidakyakinan. Sehingga, tidak jarang, dalam kajian-kajian yang mereka lakukan, tak ada diskusi. Yang ada adalah ceramah monologis. Pun jika bertanya, hanya bisa dilakukan melalui secarik kertas.
Kebenaran disampaikan secara satu arah. Pun, ia tidak dipahami sebagai sebuah proses pencarian yang dinamis; terus menerus. Kebenaran bersifat given. Dan ukurannya adalah teks. Apa yang tertera dalam teks sudah itulah agama. Final. Makna agama tak ditempatkan sebagai sesuatu yang bersifat trans-historis. Atau meminjam istilah Erich Fromm: sebagai sesuatu yang menjadi(becoming). Nalar ditolak, dialektika dipasung.
Kedua, aparatus negara. Memang sejarah pernah menyuguhkan cerita buram soal komunisme. Adalah insiden Madiun 1948 dan 30 September 1965, sebagai peristiwa yang menandai rencana kudeta partai terlarang, PKI, kepada pemerintahan yang sah. Tetapi memperlakukan dua peristiwa itu sebagai dalih untuk melenyapkan buku; memberangus pemikiran kiri, adalah tindakan yang picik.
Nasionalisme tak bisa ditegakkan di atas mindset demikian. Setiap tindak pemberangusan terhadap pemikiran adalah wujud nyata nasionalisme sempit. Kita pernah mengalami masa dimana pemikiran “didisiplinkan”. Kuasa pengetahuan adalah kuasa politik. Pengetahuan dijalankan dan dikontrol ketat oleh satu pusat kekuasaan bernama Cendana.
Tetapi apakah itu semua lantas menghentikan komunisme? Menghentikan anak-anak muda dari menikmati revolusionerisme kiri? Atau sebaliknya, kemudian berbondong-bondong mengikuti Penataran P4 yang dijajakan dari tempat ke tempat, dari hari ke hari, dengan segala tetek-bengeknya yang membosankan itu?
Tahun 1996 Partai Rakyat Demokratik (PRD) berdiri. Partai yang dituduh sebagai metamorfosis dari rangkaian gerakan atau organisasi kiri sebelumnya di Indonesia itu, tepat berdiri di saat rezim Orde Baru tengah kuat-kuatnya. Bahkan, Budiman Sudjatmiko, pentolannya, ditangkap.
Tetapi itu terbukti tak menghentikan sama sekali diseminasi gagasan kiri. Gagasan-gagasan kiri terus meluas, terutama di kampus-kampus, dan kalangan anak muda. Sebelumnya, di tahun-tahun 1980-an, juga tumbuh gagasan-gagasan kiri. Penyebarannya terjadi melalui kelompok-kelompok diskusi yang berjamuran di kampus. Buku-buku kiri hadir; dikopi atau dipinjamkan, untuk kemudian dibaca para mahasiswa yang membutuhkannya. Diskusi-diskusi pemikiran kiri digiatkan. Semua itu berlangsung nyata, kendati dengan cara diam-diam.
***
Siapakah komunis hari ini? Atau siapakah yang benar-benar komunis hari ini? Pertanyaan yang sama, yang juga bisa diajukan, seperti: adakah Islam yang benar-benar genuine hari ini?
Hari-hari ini saya menyaksikan lahirnya generasi baru yang boleh dibilang kompleks. Tidak tunggal pemikirannya. Ada yang kemudian menyebutnya sebagai gejala post-islamisme. Atau jika di kalangan kiri, disebut sebagai post-marxisme.
Saya tidak terlalu hirau dengan istilah itu di sini. Bukan ranahnya untuk memperdebatkan itu. Tetapi yang pasti, generasi baru ini, jika pemikirannya bercorak keislaman, ia tak bisa benar-benar disebut Islam. Ia salat; ia berpuasa; ia memahami Islam dengan baik. Tetapi di sisi lain, ia sangat kritis terhadap Islam. Atau memberi aksentuasi yang berbeda terhadap Islam. Warnanya bisa “merah” sebagaimana Ali Syariati dan Asghar Ali Engineer, atau bisa sangat modernis sebagaimana Fazlur Rahman. Juga bisa berwarna tradisionalis sebagaimana Mohammed Arkoun, M. Abid Al-Jabiri, dan lain sebagainya.
Mereka bisa melafalkan dengan baik isu-isu tentang demokrasi, HAM, dan kesetaraan gender. Mereka pun akrab dengan hermeneutika: metodologi tafsir yang banyak dikembangkan di Barat. Mereka juga lincah memainkan pisau dekonstruksi Jacques Derrida untuk membedah Islam. Di tangan mereka, Islam menjadi sangat kaya warna.
Untuk anak-anak kiri, saya kira, susah kita menemukan mana yang komunis. Setulen-tulennya komunis. Kita tahu, komunisme sebagai varian dari marxisme, berdiri di atas filsafat materialisme. Sementara materialisme, jika dilekatkan sebagai sebuah ideologi, jelas-jelas menafikan Tuhan. Mana ada orang yang menolak Tuhan tapi tetap salat? Di banyak kesempatan, saya menyaksikan banyak anak-anak kiri yang salat ketika azan memanggil.
Jadi saya meyakini, bagi generasi kini, marxisme (atau komunisme) tak lebih dari sekadar metodologi berpikir. Marxisme ditempatkan sebagai basis teoritik dan analisis sosial dalam menggelorakan praksis pembebasan. Ia sekadar “jalan” untuk mewujudkan cita keadilan. Cita yang juga sama disuarakan oleh agama-agama.
Saya sendiri mengoleksi banyak buku kiri. Ada ratusan judul yang berderet di lemari saya. Semua buku kiri yang disita di Kediri saya miliki. Apa karena itu, lantas saya bisa dituduh komunis? Atau menjadi komunis? Saya kira, tak boleh segegabah itu. Saya mengoleksinya karena meyakini bahwa aktivitas membaca adalah perintah pertama Tuhan kepada kita. Iqra, kata Tuhan kepada Nabi Saww.
Saya meyakini, bahwa aktivitas membaca adalah aktivitas yang mulia. Bahkan wajib. Tak ada jendela lain untuk (dapat) berpengetahuan selain dari membaca. Terhadap apa? Terhadap semua kitab pengetahuan. Apalagi hanya terhadap gagasan-gagasan atau buku kiri, tentu tak ada alasan untuk melarangnya.
Jadi, saya kira, dengan dalih apa pun, aktivitas membaca tak boleh dilarang. Melarang orang membaca sama dengan melenyapkan kemerdekaan dia sebagai manusia yang diberi keleluasaan Tuhan untuk berpikir. Dan, lebih dari itu, tindakan demikian sangat berbahaya bagi masa depan: bangsa dan peradaban. Sebab, mana ada peradaban yang maju tanpa buku.
Melarang membaca buku hanya akan mengembalikan kita kepada masa lalu. Mengembalikan kita ke zaman dimana pikiran kita digenangi oleh kepicikan dan tindakan kita hanya layak kita sebut sebagai: tindakan purba.
Buol, 20 Januari 2019
Itho Murtadha. Setiap hari bekerja serabutan, membaca bila ada waktu, menulis bila senggang.

Tulisan ini telah pernah tayang di sini

Share:

Jumat, 18 Januari 2019

Kopi Bukan Sekadar Ngopi


MAKASSAR, PANTIRAKITTA’ - Seorang perempuan berumur sekira 60an tahun membuka kaleng Khong Guan, mengeluarkan biji kopi yang telah disangrai. Dia mengamati sejenak biji kopi, membaunya, kemudian mengambil semacam cobek batu kecil. Dia mulai menumbuk biji kopi, sambil memastikan api tungku tetap menyala, menunggu air mendidih.

Perempuan berkebaya itu memasukkan kopi yang telah halus dalam hanya dua gelas. Lalu menuangkan air mendidih yang dimasak dengan kayu bakar, dan memberi sedikit gula pasir.
Minumlah, begini kopi yang selalu saya buat untuk Puang Uceng. Hari ini saya bikin lagi dua gelas. Satu untuk saya, satu untuk cucuku. Dia menyodorkan segelas kopi yang asapnya masih mengepul ke hadapan saya. Itu kali pertama saya meminum kopi.

Saya memandangnya lama-lama. Menunggu kalimat lain yang meluncur dari bibir hitamnya. Dia menyeka matanya dengan ujung kebaya.
Di sini, di dapur ini saya sering membuatkan kopi untuk puang Uceng, awweee... kasi'na, hari ini cucuku datang, kubuatkan lagi kopi untukta’, Nak.”

Perempuan itu mengajak saya menyeruput kopi bersama. Kami duduk bersisian di dapur, tempat paling rahasia dan intim bagi masyarakat setempat. Itu kali pertama saya belajar meneguk kopi. Kopi yang disangrai dengan memasukkan beberapa ruas jahe dan sedikit potongan daging kelapa tua sebesar telapak tangan bayi. Sejak itu saya mulai menyukai kopi.

Tetapi pengetahuan saya tentang kopi, hanyalah kopi yang ada di gelas. Saya tidak menyertakan pengetahuan bagaimana kebun kopi dikembangkan, terlebih lagi cara menyeduh kopi yang menjadi wilayah para barista.

Hingga satu masa saya menikmati Jogja tidak sekadar kota wisata. Ketika saya mulai belajar di Jogja, terbukalah banyak kesempatan menimba pengetahuan sosiologis tentang kopi. Juga saya mulai berteman dengan sesama penikmat kopi. Lalu seorang barista bercerita bahwa kopi yang diseduh pada cangkir porselen akan berbeda rasanya dengan gelas kaca, pun akan berbeda rasa dengan yang disaji di canteng, meskipun cara olahnya sama. Hari itu saya menyadari betapa pengetahuan saya tentang kopi sangat tak memadai.

Kesadaran minimnya pengetahuan tentang kopi menyatu dalam keharusan menyelesaikan bacaan sosiologis tentang masyarakat dan pengetahuan lokal mereka, membuat saya melebarkan pertemanan. Teman untuk berdiskusi, teman untuk saling membagi bahan bacaan, dan tak kalah penting adalah teman yang bersedia menampung keresahan tipikal mahasiswa.

Dari berbagai pertemanan itu juga saya mendapat informasi bazar buku atau pameran buku. Ini kesempatan baik bagi saya karena uang beasiswa harus dihemat sedemikian rupa. Lalu sampai pada saat saya mendatangi bazar buku di  Gramedia  Sudirman Yogyakarta. Saya menemukan buku berjudul Kopi, Adat Dan Modal di keranjang buku-murah. Buku ini dijual seharga Rp 15.000. Buku yang diterbitkan pada tahun 2013 melalui kolaborasi tiga lembaga pemerhati masalah agraria yakni Yayasan Tanah Merdeka Palu, Tanah Air Beta Yogyakarta, dan Sajogyo Institute Bogor.

Kopi, Adat dan Modal saya miliki pada tanggal 06 September 2015. Ketika itu saya tinggal di Bogoran Bantul Yogyakarta. Buku ini adalah disertasi Claudia D'Andrea yang ditulis untuk University of California Berkeley tahun 2003.

Claudia menulis disertasi berdasarkan penelitian mendalam pada masyarakat adat Katu di Sulawesi Tengah. Masyarakat Katu berhasil menggunakan terminologi adat untuk mendefinisikan diri mereka yang mana dengan kosntruksi tersebut mereka berhasil merebut tanahnya yang dikuasai negara selama bertahun-tahun. Negara atas nama lingkungan telah mengambil dan kemudian mengusir orang Katu dari kampungnya. Tanah orang Katu dijadikan Taman Nasional, dan pemilik Tanah dilarang menempatinya.

Orang Katu memperjuangkan kembali tanah mereka yang diambil negara tersebut bukan tanpa momentum. Mereka menemukan momen yang pas ketika reformasi 1998 berlangsung dengan dibantu oleh para aktivis masyarakat adat yang tergabung dalam Yayasan Tanah Merdeka.

Pasca pengambilan kembali tanah mereka, orang Katu menggantungkan hidupnya pada empat jenis tanaman; padi, coklat, rotan, dan kopi. Saya mencari-mencari jika ada empat jenis tenaman yang dominan, mengapa kopi menempati kedudukan istimewa sehingga hanya tanaman kopi yang termaktub dalam judul disertasi maupun buku ini.

Saya kemudian mencatat pada indeks kata coklat muncul 26 kali, sementara kopi muncul 25 kali. Gerangan apakah yang dikandung kopi hingga penting untuk dimasukkan sebagai judul buku ini? Saya akhirnya menemukan antara lain bahwa orang Katu secara indigineous memang menanam kopi, bukan coklat. Rotan adalah hasil hutan yang tidak mereka budidayakan di kebunnya. Padi adalah tanaman yang yang baru dikembangkan.

Dari 305 halaman buku yang terdiri dari 7 bab, saya menjadi tahu bagaimana tanah yang hilang dapat diambil kembali. Perjuangan untuk mengikat diri mereka dalam kesatuan adat yang abstrak bukan hal yang gampang. Ketika adat sulit didefiniskan, muncullah kesadaran adanya common enemy  yang harus dihadapi bersama. Dari sinilah adat menemukan jalan untuk dimanfaatkan.

Claudia mencatat bahwa adat bagi orang Katu bukan sekadar romantisme budaya masa lalu belaka. Adat dipakai untuk menunjukkan batas teritori mereka, lalu kemudian adat dimanfaatkan untuk merebut kembali tanah tersebut. Adat akhirnya bukan semata-semata sejarah tentang apa yang dilakukan oleh leluhur, tetapi adat adalah upaya dinamik atas legacy yang ditinggalkan agar memberi manfaat bagi masyarakatnya.

Jika adat bukan sekadar cerita masa lampau, dan karenanya dia membutuhkan pemaknaan yang baru yang dalam bahasa sosilogisnya disebut kontekstualisasi, maka sudah saatnya kopi dinikmati tidak sekadar duduk ngopi, padanya perlu basis pengetahuan yang kuat, agar kopi kita menjadi semakin bermakna dan berkelas.

Makassar, 17 Januari 2019

Judul          : Kopi, Adat dan Modal
Penulis       : Claudia D’Andrea, Ph.D
Editor         : Noer Fauzi
Penerjemah: Budi Prawitasari
Penerbit     : Yayasan Tanah Merdeka, Tanah Air Beta & Sajogyo Institute
Terbit di     : Bogor (Mei, 2013)
Halaman    : 270 halaman

Ida Azuz. Dosen Fakultas Pertanian Universitas Bosowa Makassar.
Share:

Jumat, 07 September 2018

Mencecap Kopistarbuk Rasa Kendari

SURABAYA, PANRITAKITTA' - Apakah status facebook bisa dijadikan buku? Pertanyaan ini telah berulang kudengar. Demikian pula dengan soal, layakkah buku demikian diterbitkan? Dalam berbagai kesempatan, selalu mengemuka.

Sebetulnya, bila kita sedikit rajin menyambangi toko-toko buku, kita dengan mudah menemukan beberapa buku yang lahir dari ketelatenan para editor menelisik dinding facebook para penulis.

Tak usah jauh-jauh mencari bukti. Longoklah buku Air Mata Darah (2015) anggitan Sulhan Yusuf, atau Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014) yang dikarang oleh Abdul Rasyid Idris.

Demikian pula dengan pustaka yang sedang berusaha kumamah, Kopistarbuk tajuknya, singkatan dari Kumpulan Opini, Status, dan Racauan Fesbuk. Buah karya Arham Kendari yang diterbitkan Gramedia.

Perihal Arham, jurnalis dengan seabrek side job (seperti pengakuannya) ini, telah menulis dua buku, diterbitkan Gramedia juga, Jakarta Underkompor Sebuah Memoar Garing (2008), dan Dumba - Dumba Gleter Jodoh di Tangan Tuhan (2010).

Namun bila belum cukup juga informasi ini untuk membantu pengenalan akan si Arham. Maka ketahuilah bahwa dialah pelaku utama pembuatan meme "Extra Boss merubah Jongos menjadi Boss..!!" yang viral itu.

Kembali ke Kopistarbuk, dalam buku ini, Arham berhasil menunjukkan dirinya sebagai seorang ferbukers yang tak segan melempar opininya dengan gaya konyol, dan bisa memotret realitas sosial dengan cara unik.

Boim Lebon, penulis bernama lengkap Hilman Hariwijaya, pengarang kisah lawas yang menjadi idola abege zaman baheula, Lupus (1988), menilai Arham sebagai penulis yang "Kepo tapi kreatif, konyol tapi produktif." Sebentuk penilaian yang tak berlebihan.

Di halaman 89 bukunya, Arham menulis:
"Kalo gak bisa memiliki apa yg Anda cintai, cobalah mulai mencintai apa yg Anda miliki."

Wew...keren juga nih khatib Jumatan. Tapi sayang kurang penambahan kata "itu" di ujung kalimat, jadi kesan Golden Ways-nya kurang dapat.

Lihatlah, ketika ia ingin mengatakan betapa klise-nya kalimat seorang khatib Jumat, Arham malah menyebutnya keren, setelahnya, barulah ia berulah menunjukkan bahwa tindak peniruan si khatib kurang sempurna.

Tengok pula, betapa cadasnya ia menggambarkan realitas ketenagakerjaan di negeri ini. Maaf bila kutipan dari halaman 168 buku ini agak panjang, silakan menyimak:
Syahdan, tersebutlah sebuah negeri antah berantah yang indah dan romantis, negeri yang disinyalir sebagai bagian dari Benua Atlantis. Negeri yang membuat gemas bangsa Eripa di masa lalu. Juga membuat repot Unesco atas klaim demi klaim bangsa Melayu. Negeri di mana tanpa berguru ke sekolah Hogwarys pun tongkat layu dan batu bisa disulap jadi tanaman.


Tapi ironis... Belakangan negeri ini lebih tersohor sebagai negeri produsen kasus tingkat tinggi, dan pencetak jongos yang mumpuni. Ribuan tenaga kerja siap siksa, diekspor setiap tahunnya. Stand by untuk dikeplak-keplak majikan bahlul. Hampir setara dengan banyaknya tenaga kerja intelektual yang siap mengeplak-ngeplak harga diri bangsa,  menghamba pada lembaga donatur. 


Sebagai sebuah karya, Kopistarbuk pun tak lepas dari kekhilafan, terutama dengan munculnya tema yang garing nan basi. Terkadang lontaran status yang ditulis Arham adalah parafrase dari lelucon yang sudah amat tenar. Lihat postingan di halaman 46.

Ponakan gw iseng banget nanya ke bapaknya berapa biaya yang dibutuhkan untuk menikah. Bapaknya cuma menghela nafas panjang sambil memandang wajah anaknya yang polos. "Entahlah, Nak, karena sampe detik ini Bapak masih terus bayar sama ibumu."

Di era blackberry messenger (BBM) sedang jaya-jayanya, kutipan ini pernah hadir sebagai broadcast berulang yang dibaca oleh para BBMers. Kisah ini juga divisualisasi dalam salah satu episode MOP Papua yang tenar, Epen Cupen.

Longok pula postingan di halaman 47, saat Arham memposting perihal hanya malam-malam yang berawalan S yang dibolehkan melakukan hubungan suami istri.  Lalu solusinya adalah mengganti nama hari menjadi berawalan S,  seperti Jumat menjadi Sumat.

Bukankah cerita ini telah tersuar dengan beragam versi di tengah khalayak? Lagi pula, versi si Arhan tak lebih elegan dibanding versi lain yang beredar.  Meski memang dia mengakuinya di ekor postingan: *Maksa woy*.

Tapi walau bagaimanapun, buku ini tetap menjadi spesial buatku, karena dia adalah hadiah dari sebuah pertemuan pintas kemarin (Kamis, 06/09/2018) siang di Pelataran Balaikota Malang dengan seorang kawan lama.

Ya, buku ini kuperoleh sebagai kenangan persuaan dengan Ika Farihah Hentihu, seorang jurnalis (Sekretaris Redaksi wartasulsel.net); blogger; traveler; akademisi (dosen dan mahasiswa sekaligus); pun pecinta budaya dan sejarah Makassar.

Selain itu, buku ini kian berkesan dengan terpampangnya nama Tsurayya Zahra pada halaman 230, seseorang yang juga kukenal sebagai seorang jurnalis (Pimpinan Redaksi jurnalpublik.com); aktivis; politisi; jua ibu rumah tangga.

Nama kedua perempuan ini menjadi semacam agunan bahwa buku ini, tak sekadar layak, juga enak dibaca. "Saya tak berhenti ngakak ketika membaca buku itu," kesan Daeng Te'ne, demikian Ika Farihah lebih senang disapa.

Maka kubacalah buku setebal 240 muka ini sepanjang perjalanan selama di Malang, dan dalam perjalanan dari Malang ke Surabaya. Walhasil, aku memang bisa menghalau kantuk dengan tawa yang gelak.

Judul               : Kopistarbuk (Kumpulan Opini, Status, dan Racauan Fesbuk
Penulis           : Arham Kendari
Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama (2014)
Tebal              :  240 halaman

Muhammad Kasman. Penikmat buku gratis, menetap di pinggiran Makassar.
Share:

Karman, Si Komunis Pembuat Kubah

Apalah yang bisa diharap dari seorang eks tahanan politik seperti Karman?

PALU, PANRITAKITTA' - Demikianlah kira-kira Ahmad Tohari, memulai kisah dalam novel Kubah. Karman, tokoh sentral dalam novel tersebut, digambarkan mengalami pergolakan batin yang amat kencang selepas keluar dari tahanan. Karman ditahan selama 12 tahun karena divonis menjadi antek-antek PKI, dan menjadi sasaran dari apa, yang dulu, disebut sebagai 'pembasmian' sisa-sisa G 30 S/PKI.

Karman mendapati kenyataan bahwa: pertama, Marni, istri yang paling dicintainya itu kini telah bersuamikan orang lain, dan bahkan dari pernikahan dengan suami barunya (Patra) itu, Marni telah beranak 2. 

Kabar pernikahan Marni memang telah lama didengar oleh Karman. Terhitung semenjak surat terakhir Marni --saat itu tahun kelima Karman menjalani masa tahanan-- ia telah mengutarakan niat untuk menikah lagi. Himpitan ekonomi menjadi satu-satunya alasan yang diutarakan Marni dalam surat itu. Ia tak tahu harus bagaimana menghidupi ketiga anaknya dengan Karman lagi, terang Marni.

Lama Karman memikirkannya. Frustasi ia dibuatnya. "Bagaimana bisa, Marni, perempuan yang paling ia kasihi itu, kini berkhianat," batin Karman. Itu membelitnya selama dalam tahanan. Tetapi, adakah yang lebih sakit dari menemui kenyataan bahwa apa yang ia takutkan itu kini benar-benar terjadi?

Kedua, Tini, anak perempuan Karman, hendak dipersunting oleh Jabir. Pada dasarnya, bukan rencana pernikahan yang membuat ia gelisah. Siapa orang tua yang tidak senang bila anaknya dipersunting oleh orang yang 'berada'. Baik pula. Tetapi kenapa harus dengan Jabir. Itu yang menjadi pangkal keberatan Karman. Jabir adalah cucu Haji Bakir. Sosok yang selama ini paling ia musuhi di seantero Pegaten, kampung Karman.

Pasal ketidaksukaan Karman terhadap Haji Bakir, sebenarnya telah berlangsung lama. Jauh sebelum Karman masuk bui. Haji Bakir adalah perwujudan dari apa yang disebut dalam teori-teori pertentangan kelas --yang ia pelajari dari Margo dan Triman, dua tokoh penggerak PKI di kecamatannya-- sebagai penghisap. Kapitalis. 

Haji Bakri mewakili kelas itu. Ia satu-satunya orang kaya di desa Karman yang menguasai berhektar-hektar tanah sawah. Sesuatu yang kontras dengan mayoritas penduduk Pegaten, tidak terkecuali Karman. 

Karman menaruh sakit hati kepada Haji Bakir, sejak ia sadar --sekali lagi lewat indoktrinasi yang dilakukan Margo-- bahwa proses barter satu setengah hektar tanah dengan beberapa kuintal beras, milik ayahnya (Pak Mantri) dulu, adalah sesuatu yang salah. Tidak peduli itu atas inisiatif ayahnya, dan juga karena menolong mereka.

Dendam itu semakin menggumpal tatkala Karman menginjak dewasa, ia menemui kenyataan yang tidak kalah menyakitkan. Lamarannya terhadap Sarifah, anak Haji Bakir; teman sepermainan Karman; gadis yang dulu pernah diselamatkan oleh Karman dari tandukkan kambing, ditolak mentah-mentah oleh Haji Bakir. Benih-benih ketidaksukaan Karman lambat laun membiak, mewujud amarah, dan itu laten. 

Dalam novel ini, Ahmad Tohari, melalui teknik penceritaan yang menarik, menutur konflik batin yang melanda Karman itu. Bagaimana prosesi pertemuannya dengan Marni yang berlangsung dramatis. Memang Karman tidak punyak pilihan lain, kecuali kembali ke kampungnya, dan menetap bersama ibunya. Sehingga bertemu dengan Marni mustahil untuk dihindari.

Ahmad Tohari juga mengurai bagaimana kekagetan Karman setelah mengetahui bahwa Jabir, calon mantunya itu, ternyata adalah anak Sarifah. Juga bagaimana perjumpaannya dengan Haji Bakir di rumah ibunya, ketika temali cinta antara Tini dan Jabir harus dilanggengkan dalam sebuah ikrar-suci pernikahan. 
***

Semua mafhum, Ahmad Tohari adalah novelis handal. Ia adalah salah satu sastrawan besar yang pernah terlahir di bumi pertiwi ini. Ia tidak saja pandai mengolah kisah, tetapi juga memainkan emosi pembaca. Ceritanya sederhana, dengan latar yang sederhana pula. Bila kita membaca karya-karya Ahmad Tohari, semua berkisah hal-hal yang remeh-temeh, pinggiran (periferal), 'ndeso'; hal-hal yang acap luput dari perhatian atau tak terpikirkan (unthinkable) bagi kebanyakan orang.

Tetapi justru di situlah kekuatan Ahmad Tohari. Di tangan Ahmad Tohari cerita yang sederhana dengan latar yang sederhana, pinggiran dan ndeso itu bisa dipilin menjadi bangunan kisah yang menarik. Dengan bernas, Ahmad Tohari memunculkan konflik, kecewa, luka, ketidaksetujuan, 'pemberontakan' di satu sisi, sembari di sisi lain, mengangkat nilai-nilai moral, kemanusiaan, keadilan dan kebenaran sebagai sesuatu yang harus dijaga.

Inilah warna dasar karya Ahmad Tohari, dan uniknya, itu disampaikan dengan tutur yang jauh dari kesan menggurui. Melalui karakter tokoh-tokoh dan laku yang dihadirkan, semua orang menjadi mengerti apa itu moralitas (misalnya), di mana batasannya, dan apa tolak ukurnya, tanpa harus dijelaskan.
***

Novel kubah ini, sejauh yang saya tangkap, sebenarnya hendak memotret dua persoalan besar, yang mengemuka sejak munculnya faham komunisme --ini yang lebih familiar di masyarakat dibandingkan dengan Marxisme, Leninisme atau varian-varian Marxisme lainnya-- di Indonesia hingga berakhirnya Orde Baru.

Pertama, tertolaknya ajaran komunisme secara kultural di masyarakat. Komunisme, apa pun itu, dipandang sama dengan ateisme. Masyarakat meyakini betul bahwa komunisme adalah ajaran anti-Tuhan. Pemahaman ini merata di masyarakat, terlebih di wilayah pedesaan. Mereka tak mengerti benar apa komunisme, yang mereka tahu adalah bahwa komunisme itu: tak percaya Tuhan; melarang orang untuk sembahyang; dan menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuannya.

Lewat tokoh Karman, Ahmad Tohari hendak mendeskripsikan bagaimana dampak yang ditimbulkan oleh adanya pemahaman komunisme pada diri seseorang serta bagaimana respon masyarakat terhadapnya.

Karman diceritakan beberapa kali melakukan 'pemberontakan', mulai dari merusak tempat wudu di mesjid, menggugat keimanan warga, hingga menyudahi ritual sembahyang yang telah ia lakoni sejak kecil. Sikap yang tidak disadari oleh Karman menjadi 'senjata' bagi Haji Bakri untuk menolak lamarannya. 

Kedua, rumitnya proses pembauran eks tahanan politik G 30 S/PKI dengan warga di dekade 60-an hingga 80-an. Memang tidak gampang menerima kelompok yang telah dengan tega melakukan pengkhianatan terhadap kekuasaan dan ideologi negara yang sah. Apalagi cerita soal G 30 S/PKI menyertakan "bau amis" kekerasan, pembunuhan dan kesadisan di dalamnya. Jadilah kemarahan warga menemui puncaknya. 

Tetapi, bagaimanapun, eks tahanan politik G 30 S/PKI adalah anak-anak bangsa yang memiliki hak untuk hidup dan mendiami bumi Indonesia. Sehingga proses rekonsiliasi dengan warga mau tak mau harus dilakukan. Negara berkewajiban untuk melindungi sekaligus memastikan bahwa mereka mendapat 'tempat' di masyarakat sekaligus terhindar dari tindakan semena-mena dan balas dendam.

Dalam novel kubah ini, Ahmad Tohari menggambarkan bagaimana proses rekonsiliasi Karman dengan warga yang berlangsung sejuk, damai, dan tanpa riak. Warga Pegaten dapat menerima Karman dengan lapang dada. Tanpa dendam sedikitpun. Bahkan di ujung cerita, Karman dituturkan menginsyafi segala perbuatannya. Ia taubat. Lalu dalam satu kesempatan, ketika warga sedang melakukan rehab terhadap mesjid di desanya, Karman diserahi tanggungjawab untuk membuat kubah.

Judul               : Kubah
Penulis           : Ahmad Tohari
Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama (2012)
Tebal              :  216 halaman
Dimensi         : 135 mm x 200 mm

Itho Murtadha. Penikmat novel, menetap di Palu.
Share:

Minggu, 02 September 2018

Seteru

"...hidupnya hanya berjuang, menderita, dan berkorban untuk menciptakan, supaya rakyat Indonesia merdeka dalam segala tindasan. Dia meninggal dengan tiada mencapainya. Dia berjuang untuk Indonesia Merdeka, melarat dalam perjuangan Indonesia Merdeka, ikut serta membina Indonesia Merdeka, tetapi dia sakit dan meninggal dunia dalam tahanan Republik Indonesia yang merdeka...
[Pidato Hatta saat pemakaman Sjahrir]

PALU, PANRITAKITTA' - Dua tahun lalu, kayaknya, saya sempat menulis soal seteru satu guru; yakni bagaimana silang sikap dan pemikiran antara tiga sekawan: Soekarno, Musso, dan Kartosoewirjo. Tulisan itu diinspirasi --semacam 'reviu' saja, bukan resensi karena tak memenuhi kaidah-kaidah penulisan resensi-- oleh, Seteru 1 Guru : Novel Pergulatan 3 Murid Tjokroaminoto: Soekarno, Musso, Kartosoewirjo, karya Haris Priyatna. 

Pagi tadi --pukul 03.00 Wita-- seusai menamatkan novel, Hatta : Aku Datang Karena Sejarah, saya terpanggil untuk menuliskannya juga. Novel ini tidak saja memperkaya referensi, tetapi juga kesadaran. Tidak saja memantik asa, tapi juga menyelip luka. Tidak sekadar berkisah bahagia, tetapi juga sekaligus membeber pilu.

Setidaknya ada dua momen --dan tulisan ini hendak memotret dua momen itu saja-- yang membuat, sumpah, bulir-bulir air mata saya tak terbendung. Menetes deras. Ada banyak peristiwa yang melingkupi perjalanan hidup Hatta, tetapi inilah yang paling menyentuh (menurut saya). Amat menyayat. Subuh tadi adalah subuh tersedih yang saya rasakan selama membaca novel kepahlawanan. 


Dulu, seingatku pernah sekali menangis, kala membaca kisah kepahlawanan Imam Husain a.s. dalam novel, Husain Sang Kesatria Langit, karya Ust. Muhsin Labib.

Momen pertama adalah momen ketika Hatta mendapat kabar Sjahrir meninggal dunia. Dia tak menyangka bahwa begitulah akhir hidup Sjahrir. Kawan yang menjadi 'pelengkap' derita kala sama-sama menuntut ilmu di Belanda, di pembuangan Boven Digul, Banda, hingga memerdekakan Indonesia. Kawan yang, bersama-sama Soekarno, menjadi tulang punggung kemerdekaan. Kawan yang tidak sekadar kawan.

Sjahrir meninggal dunia dalam posisi sebagai tahanan politik Soekarno. Setelah tak kuasa melawan penyakitnya (pendarahan otak), ia menutup usianya pada 9 April 1966. Sebelumnya Sjahrir dituduh sebagai dalang teror pembunuhan Soekarno di Makassar tahun 1962. 

Sergius Sutanto, penulis novel ini, menuturkan: Berminggu-minggu, Hatta berduka. Kecewa seakan tak bisa rapat tertutup di ruang jiwanya, melihat nasib tragis yang menimpa si Bung Kecil (hal. 330). Saat pemakaman, dengan getir ia berpidato, "...apakah wafatnya Sutan Sjahrir ini bukan suatu tanda yang ditunjukkan Tuhan kepada kita untuk membuka mata, bahwa pemerintahan negara kita, di bawah pengaruh pengikut-pengikut Gestapu dan anasirnya serta kaum kabir (kapitalis birokrat), sudah jauh menyeleweng ke jalan yang salah?"

Momen yang kedua, adalah jelang wafatnya Soekarno. Kalau bicara soal sakit hati atau kecewa terhadap Soekarno, Hatta pastilah sakit hati dan kecewa. Itu tak ia pungkiri. Terhitung sejak mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden pada 1 Desember 1956, Hatta merasa bahwa perbedaan antara dia dan Soekarno semakin tajam saja. Ia merasakan bagaimana Soekarno yang sekarang berbeda jauh dengan Soekarno dulu; Soekarno yang dikenalnya selepas kuliah dulu; Soekarno yang mengancam tidak mau membaca naskah proklamasi jika tak ada Hatta di sampingnya.

19 Juni 1970, Hatta mendapat kabar Soekarno sakit. Kritis. Bergegaslah ia ke rumah sakit. Di sana ia mendapati kawannya itu tengah terbaring lemah. Soekarno tak segagah dulu. Wajahnya membengkak dan rambutnya menipis.

"Mengapa cepat sekali berubah, No?" Batin Hatta.

Sesaat kemudian Hatta menggenggam tangan Soekarno. Hanya terucap, "Oo, Hatta, kau ada di sini..." dari bibir Soekarno. Selebihnya, tersisa air mata yang menggenangi wajah Soekarno. Dan Hatta. 

Dua hari kemudian, tepatnya tanggal 21 Juni 1970, Soekarno meninggalkan Hatta untuk selama-lamanya.
***

Soekarno, Hatta, dan Sjahrir adalah kawan. Mereka pernah dipersatukan oleh perjuangan: memerdekakan Republik Indonesia dari cengkeraman penjajah. Tetapi kemudian perbedaan pendapat, cara pandang, dan sikaplah yang memisahkan mereka. Kawan menjadi 'lawan'.

Di penghujung usia, alasan kemanusiaanlah yang kemudian mempertemukan mereka kembali. Laiknya Khalil Gibran, "Adakah alasan yang lebih baik dalam mempertemukan dua orang yang terpisah, selain ajal?"

Soekarno, Hatta, dan Sjahrir, telah melakoni hidup masing-masing. Mereka kerap saling silang pendapat. Berbeda sikap. Acap biasa, tapi acap pula tajam. Acap mewujud kata-kata, tapi tak jarang berbuah pertengkaran. Tetapi begitulah. Bagaimanapun sejarah pernah mencatat, dari perkawanan merekalah terlahir Indonesia ini. Iya, mereka adalah kawan, sampai kapan pun.

Judul               : Hatta: Aku Datang karena Sejarah
Penulis           : Sergius Sutanto
Penerbit          : Qanita, 2013
Tebal              : 354 halaman
Dimensi         : 205 mm x 130 mm

Itho Murtadha. Penikmat novel, menetap di Palu.
Share: