RESENSI, PANRITA KITTA’ - Apa yang ditutur dalam Novel  yang berhalaman isi 380 ini??? Demikian tanya yang merajai benak saya saat melihat judul di cover-nya. Beberapa malam saya menggadaikan waktu; menyicil tuk merapal kisah yang tertuang. Sebagai faqir, banyak pengetahuan baru yang kutemui.

Tentu beberan singkat ini, tidaklah dapat merekam utuh konten novel  bergenre true history ini. Mini narasi ini juga tidak dimaksudkan sebagai  resensi ataupun review. Ini sekadar apresiasi sederhana sekaligus eksplorasi kesan, dan yang terpenting adalah cermin diri; adakah membaca dapat memberi makna?

(*)


Calabai sebagai  identitas gender ‘Kawasan Antara’ adalah topik sensitif-sensasional.


Sebagai hasil studi netral atas fakta budaya lokal, Calabai sebagai grand isu paparan terasa menjadi ‘bermutu’. Pepi Al-Bayqunie [penulis] cukup piawai merajutnya menjadi cerita yang disentuh-serempetkan dengan berbagai ‘perkara’ yang menyeruak gaduh; Stigmatisasi berbasis sosial publik dan agama. Setting lokasi di tanah bugis, menjadi satu daya pikat tersendiri bagi saya secara pribadi.


Ini adalah karya, dan teramat layak dibaca-arifi.

(*)


Adalah Saidi, anak lelaki yang tumbuh kembangnya menghadirkan risau-murka bagi ayahnya [Puang Baso]. Alih-alih menjadi ‘lelaki sejati’ sebagaimana pengharapan sang ayah, Saidi kian hari kian gemulai. Tubuhnya memang lelaki, namun tabiatnya perempuan. Sejak Saidi diketahui sebagai calabai [begitu orang menyebutnya], maka derita pun kian membekap hidupnya. Sejak kelas 4 SD Saidi terpaksa meninggalkan sekolah karena tak tahan dengan ledekan kawan-kawannya.


Namun keputusan itu tak serta merta membuatnya lega. Menghabiskan waktu di rumah justru kian membuatnya tersiksa. Sang ayah terus memaksanya untuk tumbuh sebagai lelaki. Setiap waktu Saidi dibebani tugas yang dalam kira ayahnya akan membuatnya menjadi ‘lelaki dengan pengawasan super ketat; menimba air di sumur, mencangkul di sawah-kebun, dll. Bahkan tak jarang Saidi diseret paksa, jika terlihat manja dan lemah.

Saidi sesungguhnya tak menyenangi semua itu, ia akan lebih merasa bahagia jika berada d iarea kerja sang Ibu; menata rumah dan memasak. Tapi ia tak punya pilihan, menuruti keinginan ayahnya, sedikitnya, akan melepaskan dirinya dari amuk amarah lelaki yang menjadi musabab kelahirannya di dunia.


          Baca Juga: Calabai: Menguak Misteri Dunia Antara


Saidi adalah anak yang baik dan berbudi. Hanya satu celanya, ia calabai. Dan cela itulah yang tak dapat diterima sang ayah. Memasuki usia 17 Tahun, tak ada yang berubah. Semua usaha sang ayah menjadikan Saidi ‘lelaki’, nihil. Tak ada otot-otot kekar, sebagaimana ekspektasi Puang Baso. Sang ayah kian meradang. Intimidasi kian gencar, omongan masyarakat juga kian lancar.


Berjuta kali Saidi mendapat hardik sang ayah, bahkan tak jarang Saidi menerima pukulan. Saidi melarutkan segenap dukanya dalam nanar. Menyoal kondisinya dalam gerutu batin berkepanjangan. Kenapa saya harus begini? Demikian ratap Saidi dalam malam-malam panjang.

(*)


Tuhan melaknat lelaki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai lelaki

~HR. Ahmad Ibnu Abbas


Demikian kutipan khatib jumat. Ini bukan kali pertama Saidi mendengarnya, Ayahnya juga lebih dari puluhan kali menimpalinya dengan kalimat serupa disertai dengan momok neraka sebagai muara akhirnya. Dan setiap kali kalimat-kalimat seperti itu disitir, Saidi akan bersimbah keringat. Ucapan khatib yang disertai tatapan sinis jamaah menohok jantungnya.

 ”.....Saidi kikuk, serasa duduk di atas bara. Ia merasa dihakimi. Duduk di tengah rumah Tuhan sebagai terdakwa”

[h. 18].


Bagi Saidi, hanya pelukan hangat Ibunya yang dapat sedikit menawar duka panjangnya. Dan sesekali, jika rumah sedang sepi, Saidi bergegas merangsek ke kamar ibunya; menaburi bedak di pipinya, menggoreskan gincu di bibirnya. Menatap lamat-lamat wajah yang telah didandaninya lewat kaca. Di saat-saat demikian, berkecambahlah bahagia direlung jiwanya. Ia pun tak mengerti, dari mana dan kenapa rasa itu bertumbuh.


Namun bahagia itu tak kan lama, sebab ia secepat kilat akan menghapus polesan bedak dan gincu dari wajahnya, jika radar telinganya telah menangkap sentak kaki menaiki tangga rumahnya. Tak boleh ada jejak yang tersisa, sebab itu bakal mengundang dampratan caci dan pukulan dari sang ayah.

(*)


Saidi seringkali bertanya pada ibunya tentang dilema yang membelitnya. Ia lelah tertuduh sebagai ‘pembawa bencana’. Ia lelah sebab ia sendiri tak mengerti mengapa ia menjadi calabai. Biasanya sang ibu menyambut curah hatinya dengan belaian kasih, menenangkannya dan memintanya bersabar atas situasi yang ada. Bagi Saidi, ibu menjadi satu-satunya yang mengerti akan dirinya.


Satu malam Saidi membatin dan melangitkan keluh kesahnya. Lama ia mengadu dan bertanya, hingga ia terlelap. Tidurnya malam itu ditaburi bunga-bunga mimpi. Yah, mimpi yang tak biasa. Hingga ia terjaga, mimpi itu terus memberati jiwa dan fikirannya.


Mimpi itulah yang menjadi pemicu ia memiliki sejumput nyali memohon restu  ayahnya untuk merantau. Ayahnya setuju, karena baginya meski Saidi tampak gemulai, tetapi ia adalah laki-laki. Dan bagi tradisi bugis, anak lelaki harus berani merantau.


Walau sang ibu sekuat tenaga berusaha mencegah dan tak merela Saidi menjauh dari sisinya. Sebab Saidi adalah anak bungsu sekaligus satu-satunya anak lelakinya. Kedua kakak perempuannya telah berkeluarga dan menetap di kampung sebelah. Tapi ia tak punya kuasa. Pada akhirnya ibu Saidi pasrah dan tak berdaya, sebab ia amat tahu prinsip orang bugis; Taro ada taro gau, toddo puli temmalara (perbuatan harus sesuai dengan perkataan, sekali berniat tak boleh tergoyahkan).


Berangkatlah Saidi dilepas tumpah ruah air mata sang ibu, diiringi doa tulus memohon kepada yang kuasa agar Saidi selalu dalam keselamatan. Puang Baso juga membekali Saidi dengan sebilah badik.


”Bawalah badik ini, ingat nak! Badik ini warisan keluarga kita.  Hanya untuk lelaki”

(h.43)


Kalimat terakhir sang ayah, “Hanya untuk lelaki diucapkan dengan nada tinggi tanpa geletar sedih sedikit pun. Meski kalimat itu terasa amat pedas, tapi Saidi paham.

(*)


Saidi meninggalkan kampung halaman, Lappariaja Kabupaten Bone dalam bimbang tak tentu tujuan. Di setiap simpang jalan Saidi dirundung bingung memilih arah. Tapi, seolah ada kejadian-kejadian mistikal yang menuntunnya. Hingga suatu ketika, dalam perjalanan, Saidi pingsan di jalan akibat lelah dan lemah. Ditolong oleh seorang nenek bernama Sagena, pemilik warung kecil di tepi jalan.


Sebulan lamanya Saidi hidup bersama nenek Sagena yang baik hati. Saidi adalah sosok yang amat tahu balas budi, ia giat mebantu si nenek mengelola warung, hingga berkembang maju. Namun kebersamaan itu tak berlangsung lama, karena keduanya diintimidasi warga. Saidi diminta paksa pergi meninggalkan kampung Pallawa, Maros. Lagi-lagi gegara Saidi adalah calabai.


Begitulah Saidi. Kembali mengembara tanpa arah, dengan membopong luka hati. Hingga tak sengaja ia bertemu seorang pedagang keliling  yang bernama Daeng Maddenring. Pertemuan inilah yang kemudian menjadi babakan atas revolusi nasib Saidi.


Kepada Daeng Maddenring, Saidi lugas  bercerita tentang dirinya termasuk tentang identitasnya yang calabai. Daeng Maddenring tak menyoalnya, bahkan respek padanya. Bahkan ia berkenan mengajak Saidi hidup bersamanya, di Sigeri Pangkep. Menurut Daeng Maddenring, Saidi pasti cocok tinggal di kampungnya, sebab di sana ada komunitas calabai yang dihormati sejak dahulu, mereka dipercaya warga sebagai orang-orang pilihan dan memiliki kemampuan khusus, menjadi perantara makhluk bumi dengan dewata. Mereka dikenal dengan sebutan Bissu.

 

Kalau nasibmu mujur, kamu bisa dilantik menjadi bissu. Alamat itu ada padamu;  kamu calabai tetapi matamu tidak menyala karena birahi. Juga kamu meninggalkan rumah, atas kemauan sendiri, pertanda kamu memiliki ketetapan hati”

(h. 75-76).


Saidi akhirnya tinggal menetap bersama Daeng Maddenring, pedagang yang kemudian mengangkatnya menjadi anak. Mengasihinya sepenuh hati. Bagi Daeng Maddenring, Saidi menjadi pelipur sepi, setelah ia hidup sendiri ditinggal mati sang istri. 


Di Sigeri, di Negeri para Bissu, di kampung dimana calabai diperlakukan sebagai manusia Saidi terus berinteraksi dengan para bissu. Saidi memang berbeda dari calabai lainnya, ia teramat menggandrungi Attoriolong (ritual adat) yang dijalankan para bissu. Ia kerap menyisihkan waktu tuk berguru pada Puang Matoa di Bola Arajang (rumah adat), Ia belajar aksara lontara dan lahap mendedah hikayat budaya leluhur semisal I Galigo. 


Singkatnya, Saidi dalam waktu yang cukup ringkas sampai pada puncak capaian; menjadi pemimpin Bissu (Puang Matoa). Kemampuan batin yang dipunyainya, menjadikan ia banyak dipinang oleh penyelenggara event-event budaya. Menyeberang ke pulau Jawa, hingga bertandang ke mancanegara.

(*)


Bagian kecil yang juga menjadi renung refleksi; adalah ketika Asnawi yang kemudian mengubah nama menjadi Wina calabai, anak tunggal seorang hartawan, dititip orang tuanya pada Bissu karena sudah kehilangan cara menjadikan anak semata wayangnya menjadi lelaki. Dengan harapan asuhan para Bissu dapat menjadikan Asnawi menjadi Ccalabai yang lebih berguna. Wina nyatanya adalah calabai yang akrab dengan dugem.


Suatu kali, berambisi belajar ilmu Naga Sikoi (Pelet jenis aktif) dengan maksud memperdaya dan memikat laki-laki incarannya.

 

Puang Matoa menjawabnya: “Ilmu itu tidak cocok bagimu”

Kenapa? Tanyanya.

“Karena kamu sudah genit, selain itu kekayaan orang tuamu menjadi pelet yang sangat kuat pengaruhnya memikat laki-laki”

(h.254)


Selain struktur dan giat adat para bissu, yang menarik bagi saya adalah kecenderungan dan apresiasi seksual bissu yang turut dieksplor dalam novel ini. Sebagaimana umumnya calabai; mereka tertarik pada lelaki. Tetapi tidak dimungkinkan menjalin kasih dengan lelaki sebagaimana banyak dilakonkan para calabai lainnya. Kenapa? Sebab tugas utama bissu adalah menjaga keseimbangan alam dan dalam ‘teologi’ mereka; Lelaki fisik dengan lelaki lainnya jika membangun hubungan asmara akan merusak harmoni alam.


Maka dalam angan saya; Bissu adalah representasi post gender, dan masuk dalam spektrum studi feminisme kosmologi, dan kajian Tao.  Bagi pemimpin bissu dan wakilnya (puang matoa dan puang malolo) kecenderungan itu kian tertantang, sebab dalam adat, mereka dalam aktivitasnya di-asisteni oleh Toboto (lelaki tulen-belum nikah) yang kebutuhan hidupnya ditanggung oleh bissu itu hingga keharusan penanggungan biaya nikah toboto nantinya yang memiliki masa bakti maksimal 3 tahun.


Ketika Saidi [tokoh dalam novel] menyoal perkara ini dalam sebuah narasi dialog bersama seorang bissu seniornya, lagi-lagi penjelasannya memikat perhatian saya;

Kenapa calabai tidak boleh menikahi laki-laki, Puang” tanya Saidi.

“Sebab menikah bukan semata perkara jiwa, melainkan juga urusan tubuh. Jika kamu menikah dengan Parewa [perkakas] yang sama, keseimbangan alam akan rusak” Jawab Puang Matoa.

“Bagaimana dengan jiwa kita puang; jatuh cinta dan mengingini memiliki lelaki?”

“Cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang berjarak, itulah cinta yang tepat bagi bissu. Memberi dan tidak meminta. Cinta orang tua kepada anaknya tetap suci, karena ada jarak. Tak boleh dilanggar jaraknya  [mengawininya] sebab berakibat pada kerusakan harmoni alam (h. 270-271).


Bagian lain yang yang turut memancing nalar saya, adalah soal pandangan agama terhadap calabai termasuk bissu. Untuk Saidi, sejak ia distempeli sebagai calabai, maka agama kian terasa getir baginya. Meski sedari kecil ia cukup akrab dengan giat keagamaan. Kegetiran itu terasa kian kuat kala ia mengetahui bahwa komunitas Bissu di Sigeri, seringkali mendapat teror dari kelompok agamawan, bahkan dari tuturan seniornya: Bissu pernah diserang dan Bola Arajang dibakar, dan dalam insiden itu satu orang Bissu sepuh yang memilih tetap bertahan di Bola Arajang dibakar hidup-hidup. Belakangan Saidi tahu bahwa ayahnya ternyata juga merupakan bagian dari tim penyerang kala itu. 


Para bissu menjadi mafhum, bahwa agama tidak akan pernah ramah untuk para kaum calabai. Namun, asumsi Saidi begeser, setelah menghadiri sebuah majelis ilmu [Pengajian waria]. Ia bertemu dan berinteraksi dengan Kiai Kusen [pimpinan sebuah pondok pesantren di tanah Jawa] pasca mengisi sebuah event pagelaran budaya di sana. Bahkan Saidi menyaksikan adegan yang tidak lumrah pada moment itu; seorang waria melantunkan ayat suci dengan suara yang merdu. Saidi kian terkesan dengan beberapa narasi Pak Kiai dalam dialog interaktifnya menyinggung isu calabai.

 

Kisah masa lalu di baghdad, konon seorang khalifah sangat membenci waria, hingga mengeluarkan perintah untuk memberantasnya sebab waria dalam pandangannya adalah ‘penyakit sosial’. Alhasil, para waria diusir dan Baghdad bersih dari waria. Anehnya, beberapa tahun kemudian putra sang khalifah tumbuh menjadi waria.

(h.297-298).


Perihal ancaman laknat untuk calabai [yang menyerupai lawan jenis], menurut kiai Kusen bahwa konotasi hadits tersebut adalah ‘Pembatasan Kodrat’; yang sejak awal lahir sebagai laki-laki jangan jadi perempuan, begitu pun sebaliknya.

 

Lalu bagaimana jika kecenderungan pengubahan itu bawaan lahir [naluri]?

Lagi [pandangan Pak Kiai]; yang dilaknat bukan naluri tapi perilaku.

Bagaimana dengan homoseks [Gay]?

Kembali Pak Kiai; “Allah melaknat siapa saja yang melakukan tindakan kaum Nabi Luth”. Kata kuncinya adalah tindakan, bukan perasaan.

Diberi hasrat homoseks, tapi dilarang menikah sesama jenis, ini tidak adil pak kiai?

Lagi-lagi Pak Kiai; adalah special price. Perbedaan itu menjadi peluang. Mereka memiliki ‘kesempatan’ untuk fokus mendekati Tuhan. Sebab konsentrasinya tak lagi dikebiri oleh urusan pemenuhan seksual-material. Banyak ulama Islam yang tidak menikah bukan karena kecenderungan homoseks tetapi karena argumentasi berkonsentrasi pada perkara peng-Abdi-an dan karya. Seperti Imam Nawawi dan Rabi’ah Al-Adawiyah ...(h.297-303)

 

Saidi Sumringah, ada lega bertumbuh di ruang-ruang rasanya.

Kuru’ Sumangek!

 

Siti Naisyah Ibrahim. Seorang guru, menetap di Toli-Toli, Sulawesi Tengah.

 

Sebelum Agustus

 

Dariku untukmu yang hadir sebelum agustus

Halo Mei

Aku ingat betul bincang kita yang pertama

Percakapan tengah malam itu sungguh membekas

Halo Juni

Kita sempat tak bersua

Maaf jika aku terlalu tergesa

Halo Juli

Kamu kembali!

Aku tidak mengerti mengapa semesta membuatnya menjadi indah

Aku senang

Halo Agustus

Awal yang baik untuk kita

Kamu menjadi kamu yang apa adanya

Aku suka itu

 

Sekali lagi, Halo Agustus

Semoga kamu yang hadir sebelum Agustus,

Tidak berakhir di Agustus

----------------------------------------------- 

 

Ingin Ku

 

Semua tampak sangat gelap

Deraian dari mata setiap malam

Ingin menghilang agar merasa baik

Namun bisakah itu terjadi?

 

Begitu takut dengan tatapan orang

Ingin rasanya satu hari tanpa merasakan itu

Semua menatapku kuat

Namu aku hanyalah aku

Rapuh.

 

Adakah cahaya terang untukku?

Ingin rasanya tidur dengan damai untuk satu malam

Ingin rasanya melupakan itu semua

Apakah itu harapan yang terlalu besar?

Kurasa ya.

Dari seseorang yang ingin bebas.

 ----------------------------------------------- 

 

Sahabat

 

Hai sahabat...

Kamu yang berada disana

Ku berharap kita dapat bertemu kembali.

 

Bersamamu...

Melalui hari-hari yang penuh belokan

Berbagi kisah yang selalu ada

Tentang hal yang tak penting hingga hal yang berbau masa depan

Tentang dirimu dan dirinya

Dan masih banyak lagi.

 

Kapankah hari itu tiba?

Aku akan sangat menantikannya

Berharap kau berubah

Tetap menjadi orang yang penuh kekenyolan

Tetap menjadi orang yang penuh kegilaan yang sama sepertiku.

 

Ha.ha.ha.ha....

Tidak biasa aku mengatakan ini

Tapi aku sangat merindukanmu

Wahai sahabatku

 ----------------------------------------------- 

 

Bumi Bukan Bumi yang Dulu

 

Bumiku

Seperti bukan Bumiku yang dulu

Langitnya tak lagi biru, melainkan abu kehitaman

Lahannya tak lagi hijau, gersang yang kulihat

Lautnya tak lagi indah dipandang, sampah memenuhinya

 

Salah siapa?

Harus apa?

Jika bisa berteriak, Bumi akan terisak

 

Aku yang ingin Bumiku yang dulu

 ----------------------------------------------- 

 

Ananda Dwi Kartika, kelahiran Makassar tahun 2004. Saat ini duduk di kelas XI. MIPA SMA Negeri 9 Takalar, memiliki hobi memasak dan punya cita-cita jadi psikolog.

RESENSI, PANRITA KITTA' - Pluralisme agama adalah suatu kenyataan. Denny JA dalam beberapa esainya menyebutkan kurang lebih ada 4.300 agama yang tersebar di muka bumi. Mengapa ada banyak agama seperti itu? Tak lain disebabkan oleh aktivitas pikir dan kelangsungan hidup manusia, yang membutuhkan kreativitas, serta kemampuan untuk menafsirkan kehidupan berdasarkan fakta-fakta yang ditemui di alam.

Hebatnya, agama-agama itu selain punya keunikannya sendiri-sendiri, ternyata cenderung memiliki misi yang sama, yakni meyakini adanya kekuatan yang maha dahsyat di luar alam semesta ini yang dalam bahasa agama disebut Tuhan, serta meyakini bahwa manusia harus mengerjakan kebaikan dan menghindari untuk berbuat jahat, menegakkan keadilan, serta meyakini kehidupan sesudah mati.

Meski tentu ada perbedaan yang tajam dan mencolok, bahkan bertentangan, faktanya agama-agama itu bisa hidup berdampingan. Misalnya --menurut Denny JA-- antara Kristen dan Islam, memiliki pandangan yang bertentangan satu sama lain tentang sosok Yesus atau Nabi Isa as. Kristen meyakini Yesus mati disalib, sementara Islam meyakini bahwa Yesus tidak mati disalib, melainkan diangkat oleh Allah naik ke langit. Tetapi dengan pertentangan yang tajam itu, Kristen dan Islam bisa hidup berdampingan hingga sekarang dengan mempertahankan kebenarannya masing-masing.

Dalam sejarah, dulu memang terjadi perang suci atas nama agama. Perang Salib merupakan salah satu contoh terbesar bagaimana seruan dari pemuka agama antara Islam dan Kristen berkumandang untuk saling berperang. Tetapi di zaman yang lebih mutakhir, perang antara agama semakin bisa diminimalisir, bahkan dapat dicegah. Seiring dengan semakin majunya pemikiran umat manusia untuk mencari suatu format interaksi yang memungkinkan seluruh pemuka agama bisa bekerjasama satu sama lain, dengan saling mengakui eksistensi masing-masing.

Kemajuan cara pandang itu misalnya dikemukakan oleh James Thomas Johnson bahwa di Barat, perang suci atas nama agama adalah wacana yang ketinggalan zaman, itu adalah isu yang sudah lama ditinggalkan masyarakat Barat yang kini sekuler.

Dalam Islam, kemajuan cara pandang ditandai dengan perkembangan tafsir terhadap ayat-ayat Alquran. Misalnya kata "jihad" ditafsirkan bukan lagi bermakna perang, tetapi dimaknai sebagai upaya yang sungguh-sungguh dalam meraih suatu tujuan. Ada sebuah hadis yang mengamini pemaknaan ini, yakni "...kita kembali dari jihad kecil (perang badar), menuju ke jihad besar (perang melawan hawa nafsu)".

Bagaimanapun, perbedaan (apalagi yang memiliki pertentangan) agama-agama selalu menimbulkan prasangka, soalnya kita meyakini kebenaran yang berbeda-beda. Olehnya itu dibutuhkan suatu pemahaman komprehensif yang dapat membuat kita menjadi lebih dewasa dalam menyikapi suatu perbedaan. Kedewasaan itu dibentuk oleh wacana-wacana tentang pluralisme agama.

Kajian atau diskusi-diskusi tentang wacana pluralisme agama ataukah toleransi umat beragama sesungguhnya sudah banyak. Akan tetapi rata-rata ditinjau dari perspektif sosiologis. Akhirnya praktik toleransi beragama hanya pada tataran dasar-dasar rasa kemanusiaan, bukan ditopang dengan argumentasi agama itu sendiri.

Pada akhirnya, toleransi hanya dipahami sebagai suatu kewajiban warga negara terhadap warga negara yang lainnya, bukan menjadi kewajiban antara satu pemeluk agama terhadap pemeluk agama lainnya. Toleransi semacam ini mudah rapuh, konflik mudah pecah karena dianggap tak ada legitimasi kitab suci yang membenarkan pengakuan akan keberadaan kebenaran (agama) lain. Sebab yang disadari bahwa toleransi hanya didasari pada sistem sosial semata.

Di Indonesia misalnya, penyelesaian konflik antar agama  dilakukan hanya dengan menggelar deklarasi perdamaian. Misalnya konflik Poso diselesaikan dengan deklarasi Malino, demikian Ambon, di Jawa Timur dan lain sebagainya. Tetapi tidak disertai adanya upaya untuk menggali perintah perdamaian yang dilandasi oleh kitab suci itu sendiri.

Kiai Moqsith (Abdul Moqsith Ghazali), seorang cendekiawan muslim Indonesia melihat perlunya kajian pluralisme agama yang berangkat dari kitab suci Alquran. Olehnya dia menulis sebuah buku yang berjudul "Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Alquran", yang sebelumnya merupakan disertasi S3 nya pada program Doktoral bidang Tafsir Quran di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2007.

Dalam bukunya itu, kiai Moqsith mengemukakan ada 3 jenis sikap dalam menghadapi pluralisme agama: pertama, sikap eksklusif, atau sikap tertutup. Yakni meyakini bahwa agamanya adalah satu-satunya agama yang benar. Agama lain dipandang sebagai karangan manusia sehingga tidak pantas dijadikan pedoman. Interaksi terhadap yang berbeda agama hanya dimaksudkan untuk dakwah, yaitu mengajak yang lain agar keluar dari kekufuran, dan pindah ke agamanya.

Kedua, sikap inklusif, yaitu cenderung terbuka atau toleran terhadap agama lain. Tetapi tetap saja menganggap bahwa agamanya yang paling benar. Sementara, umat lain dianggap selamat apabila masih menjalankan prinsip-prinsip ketundukan kepada Tuhan, menegakkan keadilan, dan berbuat baik kepada sesama manusia.

Ketiga, sikap pluralis, bukan saja mengakui adanya agama lain, tetapi juga mengakui bahwa semua agama menuju kepada satu tujuan. Hanya saja masing-masing memiliki keunikan yang khas. Paradigma ini memandang bahwa setiap pemeluk agama berhak menjalankan agamanya dengan bebas dan dianggap setara kedudukannya dengan pemeluk agama lain.

Lebih jauh, kiai Moqsith mengungkapkan bahwa agama-agama semitik (karena memang pembahasan bukunya hanya pada lingkup agama-agama itu, yakni Yahudi, Kristen, dan Islam), sebenarnya memiliki kesamaan misi. Dalam ajaran Yahudi, sebagaimana direkam dalam kitab Perjanjian Lama (Ulangan 5: 1-2 dan 6-2), memiliki inti ajaran berupa 10 perintah (the ten commandement) kepada Musa, adalah sebagai berikut:

"...(1) Mengakui Allah sebagai Tuhan yang Esa...; (2) Tidak boleh membuat berhala (syirik)...; (3) Tidak boleh menyebut Tuhan, Allahmu, secara sembarangan; (4) Selalu mengingat Hari Sabat, dan mensucikan hari itu; (5) Menghormati kedua orang tua; (6) Tidak boleh membunuh; (7) Tidak boleh berzina; (8) Tidak boleh mencuri; (9) Tidak boleh menjadi saksi palsu; (10) Tidak boleh dengki." (Ghazali, 2009: 137)

Sepuluh ajaran yang diturunkan kepada Musa tersebut, juga disampaikan oleh Alquran untuk diamalkan oleh umat Islam, kecuali poin tentang mensucikan Hari Sabat. Misalnya dapat dijumpai pada QS. Al-an'am [6]: 151-152, dan juga pada QS Luqman [31]: 13-19. Khusus yang terakhir disebutkan, walau tak sama persis, ajaran itu terangkum dalam nasihat Lukman kepada anaknya, sebagai berikut:

"... (1) Jangan mempersekutukan Tuhan; (2) berterima kasih kepada ibu bapak; (3) sadar terhadap akibat perbuatan sendiri; (4) mengerjakan ibadah; (5) memperjuangkan tegaknya standar-standar moral masyarakat; (6) tabah; (7) memelihara harga diri; (8) tidak sombong; (9) sederhana dalam tingkah laku; (10) sederhana dalam ucapan. (Ghazali, 2009: 142).

Selain persamaan ajaran, agama-agama semitik juga memiliki kontinuitas atau ketersambungan misi pewahyuan, yang itu dibawa oleh para nabi. Argumen ini didasarkan pada tiga hal. Pertama, sesungguhnya para nabi itu memiliki hubungan kekeluargaan. Dalam lingkup agama semitik, pembawa wahyu berasal dari satu keturunan yang sama yakni Nabi Ibrahim as. Sejumlah riwayat mengabarkan bahwa dari Ishaq bin Ibrahim lahir nabi Yakub, Yusuf, Musa, Syuaib, Ayub, Dzulkifli, Dawud, Sulaiman, sampai kepada nabi Isa as. Adapun nabi Muhammad saw., merupakan keturunan Ibrahim dari nabi Ismail as.

Kedua, para nabi yang muncul belakangan tidaklah membawa syariat atau agama baru. Melainkan melanjutkan dan menyempurnakan ajaran para nabi-nabi terdahulu. Misalnya, kiai Moqsith mengutip Al Qurthubi, bahwa Alquran sudah ada dalam shuhuf (lembaran-lembaran) Ibrahim dan Musa, walau tak sama persis, tetapi esensinya sama.

Selanjutnya Alquran menerangkan dirinya (dibawa oleh nabi Muhammad) bahwa ia datang untuk membenarkan kitab-kitab sebelumnya (QS Yunus [10]: 37), dan sebagai pendukung kebenaran kitab suci yang ada sebelumnya (QS al-Maidah [5]: 48). Diterangkan pula bahwa agama yang disyariatkan kepada Muhammad saw., sebagaimana diwahyukan pada Ibrahim, Musa, dan Isa (QS al-Syura [42]: 13), wahyu diberikan kepada Muhammad sebagaimana juga wahyu telah diberikan kepada Nuh dan nabi-nabi sesudahnya, demikian pula kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yakub, Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman (QS al-Nisa [4]: 163).

Berdasarkan kenyataan ini, sesungguhnya seluruh umat manusia yang menganut agama semitik (Yahudi, Kristen, dan Islam) adalah termasuk ke dalam satu keluarga, yakni keluarga wahyu, atau keluarga Abrahamistik. Hanya saja harus diakui bahwa antara ketiga agama yang termasuk di dalamnya memiliki syariat yang berbeda-beda. Tetapi tetap satu tujuan, yakni Tuhan yang sama, yaitu Allah swt.

Kenyataan itu sebenarnya membuka peluang untuk saling mengakui adanya kebenaran pada masing-masing agama, meski kesemuanya tidak sama dalam tataran pelaksanaan ritualnya. Jika muslim bisa masuk surga, maka non Islam juga bisa masuk surga dengan ajaran agama yang dipraktikkannya.

Kehadiran Islam sebagai agama terakhir di kalangan agama semitik berperan sebagai penyempurna sekaligus mengoreksi penyimpangan pada agama-agama sebelumnya. Kehadiran wahyu terakhir tentu didasarkan pada kedua hal ini --yakni penyempurnaan dan koreksi atas penyimpangan.

Dalam menghadapi penyimpangan terhadap wahyu sebelumnya, kiai Moqsith membagi 3 jenis orang beragama di luar Islam. Yaitu Ahli Kitab, Kafir, dan Musyrik, serta bagaimana Alquran memandang ketiga macam orang ini.

Pertama, ahli kitab. Berarti orang-orang yang mempunyai atau berpegang teguh pada kitab. Konsep ahli kitab pada dasarnya merupakan pengakuan akan adanya pemeluk agama di luar Islam, yang memiliki kitab yang diturunkan kepada nabi-nabi terdahulu. Kiai Moqsith mengutip pandangan berbagai ulama sehingga berkesimpulan bahwa ahli kitab yang dimaksud sekurang-kurangnya adalah pemeluk agama Yahudi dan Kristen. Adapun pendapat yang mengemukakan lebih dari itu, adalah khilafiyah, tergantung kecenderungan teologis dan konteks geopolitik tempat si penafsir tinggal.

Terhadap ahli kitab, kiai Moqsith --dengan mengutip beberapa sumber-- menuturkan bahwa terdapat seruan di dalam Alquran untuk berupaya mencari titik temu antara muslim dan Ahli Kitab; Alquran juga menginformasikan bahwa di kalangan ahli kitab tidak semuanya baik, adapula diantara mereka yang jahat atau zalim; Alquran menyerukan agar berbuat baik terhadap Ahli Kitab; Alquran membolehkan pula kepada umat Islam untuk bersedekah atau memberi bantuan kepada non Islam; para ahli kitab juga selamat dan beroleh pahala, apabila mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian, sesuai dengan yang tertera pada QS al-Baqarah [2]: 62, dan juga pada QS Ali Imran [3]: 199.

Kedua, Kafir. Pengertian kafir paling minimal dalam pandangan kiai Moqsith adalah tidak bersyukur (kufur). Kafir bisa juga berarti lawan dari iman. Terkait dengan perilaku, kafir memiliki pengertian yakni orang yang tidak memiliki kepedulian sosial, atau gemar melakukan kezaliman.

Tetapi makna yang paling cocok untuk disematkan kepada non Islam adalah ingkar. Orang kafir berarti juga mengingkari ajaran Tuhan, mengingkari ajaran nabi, serta mengingkari kitab suci. Pada tataran tindakan sosial, menghalangi orang dari jalan yang benar juga adalah kafir.

Terkait pandangan Alquran --seperti menurut kiai Moqsith, kafir ada empat jenis: (1) Kafir zimmi, yakni kafir yang tidak memerangi orang mukmin. (2) Kafir harbi, yakni orang yang memerangi orang mukmin. Nampaknya, masih banyak orang tidak tahu membedakan kedua jenis ini sehingga cenderung menganggap kafir itu satu saja. Terutama bagi mereka yang memiliki paradigma eksklusif.

Selanjutnya ada (3) Kafir muahad, yaitu orang melakukan kontrak kesepakatan dengan orang muslim untuk tidak saling menyerang, dan adapula (4) Kafir musta'min, yaitu kafir yang meminta jaminan keselamatan kepada orang mukmin dalam waktu tertentu. Kiai Moqsith menjelaskan, bahwa selain kafir harbi, ketiga jenis kafir yang telah disebutkan haram untuk diperangi.

Ketiga, musyrik. Berdasarkan pengertian umumnya, musyrik berarti orang-orang yang menyekutukan Tuhan. Orang-orang ini sesungguhnya meyakini adanya Tuhan, tetapi mereka juga memiliki sesembahan yang lain semisal patung-patung, pohon keramat, kuburan, serta segala hal yang termasuk kategori berhala.

Alquran memandang musyrik sebagai najis (QS al-Tawbah [9]: 28), haram untuk memintakan ampun kepada mereka (QS al-Tawbah [9]: 113), serta adanya perintah untuk membunuh mereka (QS al-Tawbah [9]: 5). Tetapi ada juga ayat Alquran yang meminta umat Islam apabila ada kaum musyrik meminta perlindungan (QS al-Tawbah [9]: 6).

Harap dicatat bahwa musyrik yang dimaksud dalam ayat-ayat Alquran itu adalah kaum musyrik Mekah yang tak henti-hentinya memerangi nabi dan orang mukmin. Terdapat pengecualian, jika musyrik yang tidak memerangi, atau musyrik yang perilakunya tidak sama dengan musyrik era nabi, atau bahkan meminta perlindungan, maka berlakulah permintaan Alquran untuk melindungi mereka.

Ketiga kategori non Islam yang diberikan oleh kiai Moqsith tersebut (yakni ahli kitab, kafir, dan musyrik), sekaligus juga menimbulkan wacana bagaimana hukum menikahi mereka --versi buku ini memuat tentang perkawinan dengan non Islam, sementara versi disertasinya tidak mencantumkan pembahasan itu, demikianlah terang kiai Moqsith dalam pengantar bukunya.

Alquran melarang menikahi orang musyrik (QS al-Baqarah [2]: 221), demikian juga Alquran menyuruh menceraikan orang kafir yang telah dinikahi (QS al-Mumtahanah [60]: 10). Akan tetapi Alquran membolehkan menikahi ahli kitab (QS al-Maidah [5]: 5), sekali lagi berdasarkan definisi dan klasifikasi non Islam yang telah dibuat sebelumnya.

Ulil Abshar Abdalla juga sependapat dengan kiai Moqsith tentang hal ini. Dalam sebuah forum Ia menggunakan argumentasi ini dalam menjawab pertanyaan tentang hukum nikah beda agama dengan menggunakan ketiga definisi itu --ahli kitab, kafir, musyrik-- sekalian dengan dalil-dalilnya masing-masing.

Akan tetapi yang jelas, nikah beda agama dalam konteks Indonesia --tulis kiai Moqsith-- dilarang sejak keluarnya fatwa MUI pusat tahun 1980 tentang haramnya nikah beda agama, untuk dua kategori sekaligus: (1) wanita muslimah dengan lelaki non Islam; (2) lelaki muslim dengan wanita non Islam. Larangan itu diformalisasi dalam Inpres No. 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam (KHI).

***

Sebagai suatu karya, buku "Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Alquran", adalah sumbangan intelektual yang sangat luar biasa. Apalagi buku itu ditestimoni oleh pelbagai cendekiawan muslim besar Indonesia seperti Nasaruddin Umar, Komaruddin Hidayat, Haedar Nashir, Dawam Rahardjo (alm.), Musdah Mulia, Djohan Effendi (alm.), hingga sastrawan sekelas Goenawan Mohamad.

Selain itu, buku ini mengurai persoalan menggunakan pendekatan yang mutakhir; selama ini metodologi yang dipakai dalam mengupas isu pluralisme agama, adalah Qawaidut Tafsir (kaidah-kaidah tafsir), serta Hermeneutika. Sementara buku kiai Moqsith menambahkan satu metode lain yakni Ushul Fiqih, sebagai pisau analisa tambahan untuk membedah tema ini.

Akan tetapi tentu masih banyak hal-hal yang tidak diungkapkan oleh kiai Moqsith. Antara lain, agama-agama di luar lingkup Abrahamistik seperti Hindu, Buddha, Konghuchu, serta kepercayaan lokal masyarakat seperti kejawen. Biar bagaimanapun mereka juga adalah kelompok agama yang harus diakui hak-haknya setara dengan pemeluk agama lain, kebenaran yang mereka sampaikan versi agama mereka juga patut didengarkan dan diapresiasi.

Hal itu bisa dipahami karena tidak adanya keterhubungan narasi antara agama semitik dengan agama-agama itu. Bukan tidak mungkin, cara mengatasinya adalah mencari titik temu persamaan ajaran, ditilik dari kitab suci dan sejarah bagaimana agama-agama itu bisa muncul, dan hubungannya dengan agama-agama abrahamistik.

Satu hal penting yang belum dijawab oleh kiai Moqsith dalam bukunya, yakni bagaimana bentuk penyimpangan atau distorsi atas wahyu pra-Alquran sehingga memicu turunnya wahyu Alquran serta nabi terakhir Muhammad, dan bagaimana status hukum ahli kitab yang mengamalkan bagian-bagian wahyu yang terdistorsi itu.

Sepertinya, hal terakhir ini membutuhkan tempat yang lain, ataukah buku selanjutnya yang bisa menyempurnakan buku kiai Moqsith tersebut, sekaligus mengoreksi bagian-bagian yang keliru dalam buku itu, jika ada.
________________________

Judul buku: "Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Alquran"
Penulis: Abd. Moqsith Ghazali
Penerbit: Katakita, Depok
Tahun terbit: Mei 2009 (Cet. II)
Tebal: xxv + 442 halaman

Saeful Ihsan. Yotuber dan Blogger, menetap di Palu.

SOSIAL BUDAYA, PANRITA KITTA’ - Sebagai bentuk apresiasi terhadap khasanah pengetahuan masyarakat bugis, akun instagram lacapila.id menggelar diskusi daring secara rutin membahas masalah warekkdeng yang secara sederhana bermakna sesuatu yang digenggam erat. Salah satu aspek yang menjadi pokok bahasannya adalah masalah teologi.

Secara teologis, orang Bugis menyebut zat adikodrati yang dipahami sebagai Tuhan dengan istilah séuwwaé. Untuk membahas masalah ini, lacapila.id menghadirkan seorang akademisi muda yang juga punya perhatian terhadap pelestarian budaya Bugis, Dr. H. Andi Singkeru Rukka, S.H., S.E., M.H.

Memulai pembahasannya, pembicara yang karib disapa Etta Aji Singke menguraikan makna kata séuwwaé secara bahasa. Menurutnya, setidaknya ada tiga makna yang terkandung dalam kata séuwwaé.

Petama, séuwwa bermakna tunggal. Etta Aji Singke mencontohkan penggunaannya dalam kalimat séuwwa tau. Kata séuwwa di sini sama dengan kata séddi atau satu sehingga séuwwa tau bermakna satu orang. Kedua, séuwwa bisa juga diartikan dengan mahluk, misalnya menyebut kata berulang séuwwa-séuwwa, maka maknanya adalah sesuatu.

Ketiga, kata séuwwa juga bisa diartikan berwujud. Orang Bugis ketika menunjukkan mewujudnya sesuatu akan mengatakan masséuwwa atau ta’lé. Dari sinilah Etta Aji Singke menyimpulkan bahwa bagi orang Bugis, makna ketuhanan lebih pada perwujudan dalam laku keseharian dibanding dengan pembahasan yang rumit, atau diskursus intelektual.

Pada kesempatan yang sama, Etta Aji Singke juga menegaskan bahwa kebertuhanan orang Bugis bukanlah asimilasi atau pengaruh dari kebudayaan India. Memang, orang Bugis menyebut Tuhan dengan istilah Déwata, tapi menurutnya, itu karena perubahan pembacaan atas kata Déwata dalam tulisan lontara, yang seharusnya dibaca Dé’watang.

Untuk jelasnya, silakan lihat gambar berikut:



Dé’watang sendiri bisa dipahami sebagai sesuatu yang tak bertubuh, tak berbadan, tak berwujud. Bila kata Dé’watang disambungkan dengan séuwwa, maka akan ditemukan makna sebagai sesuatu yang tak berwujud tapi mewujud. Menurut Etta Aji Singke, ini berarti bahwa keyakinan orang Bugis pada yang tak berwujud, diwujudkan dalam keseharian, dalam tingkah laku dan perilaku.

Etta Aji Singke menegaskan bahwa Bugis tidak memiliki model peribadatan yang khas sebagaimana agama Nasrani atau Islam misalnya. Bagi orang Bugis, seluruh aspek kehidupannya adalah perwujudan ibadah yang dituntun melalui pappaseng. Pappaseng ini adalah wasiat, yang membuatnya menjadi sesuatu yang wajib dilaksanakan.

Menurut Etta Aji Singke, seluruh semesta pappaseng berisi ajaran untuk saling menghormati dan menghargai sesama manusia. Pappaseng ini bisa direfleksikan dalam sulapa’ eppa berikut:
Sadda mappadupa ada
Ada mappaddupa gau’
Gau’ mappaddupa tau








Sadda itu adalah niat, suara hati, visi, dan keinginan, yang disuarakan dalam ada, lalu melahirkan gau’ atau tindakan. Gau’ lah yang mewujudkan tau atau manusia. Inilah model peribadatan manusia Bugis, melaksanakan papaseng dalam keseharian yang menjadi jalan untuk mewujudkan tau, manusia paripurna.

Mengenai konsep tau dalam perspektif Bugis, akan dibahas dalam sesi diskusi berikutnya. Selengkapnya untuk sesi ini, dapat disaksikan di kanal youtube Panrita Kitta’